Selasa, 14 Juni 2022

Pengembangan Dan Inovasi Ekstrakulikuler PAI

 1. Karakteristik ekstrakulikule PAI

- Individual, yakni dikembangkan sesuai dengan potensi/bakat peserta didik masing-masing.

- Pilihan, yakni dikembangkan sesuai dengan minat dan diikuti oleh peserta didik secara sukarela.

- Memotivasi, yakni membangun semangat peserta didik untuk mengembangkan potensi/bakat melalui kegiatan yang diminati.

- Kemanfaatan sosial, yakni dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak melupakan kepentingan masyarakat.


2. Dasar filosofis ekstrakulikuler

   Landasan filosofis dalam pengembangan kegiatan ekstrakurikuler menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai dalam tujuan kegiatan ekstrakurikuler.Kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.“Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pada dasarnya tidak ada satupun filosofi kegiatan ekstrakurikuler yang dapat digunakan secara spesifik untuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler. 

   Berdasarkan hal tersebut, kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut :

a. Ruang yang disediakan lembaga pendidikan untuk peserta didik guna mengeksplore potensi dan kemampuannya untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

b. Mengembangkan kreativitas peserta didik berdasar pada bakat dan minat yang telah dimiliki sejak kecil, serta memperbanyak kesempatan peserta didik untuk berinteraksi sosial dan bekerjasama di luar jam pelajaran.


3. TUJUAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PAI

menurut Dr. H. Rahmat Raharjo Syatibi, M.Ag. dalam bukunya “Pengembangan & Inovasi Kurikulum” menyebutkan bahwa, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh dan/atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah. 

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah rancangan atau usaha-usaha yang dijalankan dalam bentuk kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, baik dilaksanakan di sekolah ataupun di luar sekolah dengan tujuan untuk memperluas wawasam pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari siswa dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI).

Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang digunakan untuk mendukung keberhasilan pembelajaran PAI yang dilakukan secara kurikuler. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan religiusitas peserta didik, juga kepedulian mereka terhadap kondisi  sosial budaya masyarakat di sekitar mereka. 

Kegiatan ekstrakurikuler PAI yang diselenggarakan oleh sekolah bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan kurikuler Pendidikan Agama Islam yang mencakup 7 pokok bahan pelajaran, yaitu:

a.       Keimanan

b.      Ibadah

c.       Al-Qur’an

d.      Akhlak

e.       Muamalah

f.       Syari’ah

g.      Tarikh

Kegiatan ekstrakurikuler sendiri bertujuan untuk: (a) Memperluas, memperdalam pengetahuan dan kemampuan/kompetensi yang relevan dengan program kurikuler; (b) Memberikan pemahaman terhadap hubungan antar mata pelajaran; (c) Menyalurkan bakat dan minat peserta didik; (d) Mendekatkan pengetahuan yang diperoleh dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat; (e) Melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya. Di samping itu, agar peserta didik lebih dapat memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari di dalam kelas. Artinya, bahwa tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah/madrasah untuk menunjang program pembelajaran di sekolah/madrasah dalam memahami dan mendalami pelajaran, dan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang telah tersusun dalam kurikulum sekolah/madrasah sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.[12]

4. Langkah langkah pengembangan dan inovasi ekstrakulikuler PAI

Dr. H. Rahmat Raharjo Syatibi, M.Ag., dalam bukunya Pengembangan & Inovasi Kurikulum, menjelaskan; adapun langkah-langkah yang perlu diambil dalam merancanakan program ekstrakurikuler secara garis besar antara lain:

1.      Menganalisis kebutuhan atau keperluan (need analysis) peserta didik dalam proses pendidikan yang berpangkal dari hasil kegiatan intra dan ekstrakurikuler, apresiasi masyarakat sekitar, rata-rata usia peserta didik, kegemaran, dan keperluasan madrasah;

2.      Merumuskan dan mengajukan sarana-sarana yang diperlukan, di mana peserta didik dapat diikutsertakan secara aktif disertai dengan bimbingan guru;

3.      Menghaluskan rumusan dan sasaran-sasaran dengan menambah dan mengurangi atau bahkan memperbaiki kegiatan-kegiatan tersebut, untuk kemudian menetapkan kegiatan-kegiatan yang akan melengkapi program ekstrakurikuler;

4.      Penanaman nilai-nilai karakter bangsa dalam proses kegiatan ekstrakurikuler melalui pembiasaan (habituasi) yang dilaksanakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.

5.      Penilaian yang dilakukan pada waktu berlangsungnya kegiatan dan setelah pelaksanaan kegiatan.

 Dalam usaha membina dan mengembangkan kompetensi peserta didik, maka dalam merencanakan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah/madrasah hendaknya memerhatikan hal-hal berikut ini:

a.       Kegiatan ekstrakurikuler harus menjadi kegiatan yang edukatif dan ritual. Karena dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan dapat menunjang proses pembinaan dan pendidikan praktis dalam kehidupan sehari-hari;

b.      Kegiatan ekstrakurikuler sebaiknya dapat menjadikan kegiatan rekreatif yang dapat memacu semangat baru dan menghilangkan kejenuhan. Sehingga peserta didik akan memperoleh manfaat dari kegiatan yang diikuti dan memiliki kesiapan untuk menghadapi pelajaran baru;

c.       Kegiatan ekstrakurikuler harus terbebas dari hal-hal yang mendustakan, merusak, serta menyerang akhlak dan prinsip-prinsip moral, seperti membahas ayat-ayat Allah tanpa acuan yang jelas, memandang sinis terhadap orang yang tenang dan rajin beribadah, mengeksploitasi kedengkian, mgolok-olok peserta didik, mengumpat, mengadu domba, memperlihatkan aurat, berbicara keji, mengumbar nafsu, atau menceritakan khufarat dan kebohongan;

d.      Dalam kegiatan ekstrakurikuler harus menampilkan sosok pembimbing yang aktif dan efektif serta menjadi teladan yang ideal dan aktif dalam berbagai kegiatan.[22]



5. Contoh pengembangan dan inovasi ekstrakulikuler PAI 

Jenis kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dalam buku pedoman kegiatan ekstrakurikuler PAI sebagai berikut: 

1) Baca Tulis al-Quran (BTQ) yang merupakan kegiatan pembinaan kemampuan membaca dan menulis al-Quran meliputi penguasaan dasar-dasar ilmu tajwid, makharijul huruf, dan kelancaran membaca dan menulis. 

2) Tahfizh al-Qur’an yang merupakan kegiatan pembinaan keterampilan menghafal ayat-ayat al-Quran. 

3) Pembinaan Tilawah al-Qur’an yang merupakan kegiatan pembinaan keterampilan seni membaca al-Quran yang mengacu pada kaidah-kaidah tartil yang dikembangkan melalui qira’atus sab’ah (tujuh jenis bacaan).

4) Seni Kaligrafi yang merupakan kegiatan pembinaan keterampilan menulis indah teks Arab berdasarkan kaidah khathiyah dan imlaiyah yang benar. 

5) Ceramah keagamaan (muhadharah) yang merupakan kegiatan  pembinaan keterampilan menyampaikan pesan keagamaan di depan publik secara lisan. 

6) Nasyid yang merupakan kegiatan pembinaan keterampilan dalam bidang seni suara yang bercorak Islam dan mengandung kata-kata memuji Allah, kisah para nabi, nasihat, dan sejenisnya yang dinyanyikan dengan mengutamakan olah vokal tanpa alat musik (acappela). 

7) Seni Musik Islami yang merupakan kegiatan pembinaan keterampilan olah seni vokal yang diiringi alat musik bernuansa Islami meliputi rebana, Marawis, Hadrah, Samrah, Qasidah, dan sejenisnya.  Kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam, ada yang  berkaitan langsung dengan mata pelajaran PAI dan ada pula yang tidak berhubungan. Artinya, kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan langsung tersebut dapat diarahkan kepada kegiatan pengayaan dan penguatan terhadap materi-materi pembahasan dalam mata pelajaran PAI, seperti kegiatan ekstrakurikuler membaca al-Qur’an (kursus membaca al-Qur’an). Kegiatan ini sangat penting mengingat kemampuan membaca al-Qur’an merupakan langkah awal pendalaman dan pengakraban Islam lebih lanjut. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada banyak jenis kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti baca tulis al-Qur’an, Tahfidz al-Qur’an, Rohis, seni musik Islami, Ceramah Keagamaan, Nasyid dan lain sebagainya.


Kamis, 09 Juni 2022

Pengembangan dan inovasi media dan teknolgi pembelajaran PAI

 



 1.Karakteristik Media dan Teknologi Pembelajaran PAI

Karakteristik media juga dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan seluruh alat indera. Dalam hal ini, pengetahuan mengenai karakteristik media pembelajaran sangat penting artinya untuk pengelompokan dan pemilihan media. karakteristik media merupakan dasar pemilihan media yang disesuaikan dengan situasi belajar tertentu. Secara umum media pembelajaran memiliki tiga karakteristik atau ciri yaitu: ciri fiksatif,  ciri manipulatif, dan ciri distributive.

2.Dasar filosofis pengembangan dan inovasi media dan teknologi pembelajaran PAI

Ada beberapa tinjauan tentang landasan pengunaan media pembelajaran, antara lain landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris. 

1). Landasan filosofis, ada suatu pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, proses pembelajaran menjadi kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan menyebarkan dehumanisasi. 

2). Landasan psikologis, kajian psikologis menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang kongret daripada abstrak. Berkaitan dengan kontinum konkret-abstrak dan kaitannya dengan pengunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat.

3.Tujuan Pengembangan dan Inovasi Media dan Teknologi Pembelajaran PAI

a. Tujuan utama dari inovasi pembelajaran adalah berusaha meningkatkan kemampuan, yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana termasuk struktur dan prosedur organisasi agarsemua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai secara optimal.

b. Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran, dan untuk meningkatkan kinerja.

4.Langkah-langkah Pengembangan dan Inovasi dan Teknologi Pembelajaran PAI

langkah-langkah pengembangan media pembelajaran dapat melalui langkah-langkah sebagai berikut:

Menganalisis kebutuhan dan karakteristik Peserta Didik

Merumuskan tujuan pembelajaran (Instructional objective) dengan operasional dan khas

Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan

Mengembangkan alat pengukur keberhasilan

Menulis Naskah Media

Mengadakan Tes atau Uji Coba dan Revisi

5.Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Media dan Teknologi Pembelajaran PAI dalam Pendidikan Era ociety 5.0

Berkembangnya pendidikan terbuka dengan cara belajar jarak jauh (distance learning). Untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasuka sebagai setrategi utama pendidikan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi internet secara maksimal dapat memberikan efektifitas dalam hal waktu, tempat bahkan meningkatkan kualitas pendidikan.

Terjadinya sharing resource (berbagi sumber daya) antara lembaga pendidikan dan pelatihan .

Perpustakaan dan instrument pendidikan lainnya misalnya guru dan laboratorium berfungsi sebagai fasilitator bukannya sumber informasi.

Penggunaan perangkat informasi interaktif seperti CD-ROM multimedia yang secara bertahap akan menggantikan fungsi papan tulis

Kamis, 02 Juni 2022

PENGEMBANGAN DAN INOVASI PENILAIAN HASIL BELAJAR PAI

 A. Karakteristik Penilaian hasil Belajar PAI 

Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, 

menganalisis dan menafsirkan data tentang proses hasil belajar peserta 

didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga 

menjadi informasi yang bermakna dalam mengambil keputusan.1

Penilaian sebagai pengumpulan informasi secara menyeluruh yang 

dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui kemampuan atau 

keberhasilan siswa dalam pembelajaran dengan menilai kinerja siswa 

baik secara individu maupun kelompok. Penilaian harus mendapat 

perhatian lebih dari seorang guru, untuk itu harus dilaksanakan dengan baik, 

karena merupakan komponen vital atau utama dari pengembangan diri baik 

secara individu maupun kelompok.

Hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah 

(domain), yaitu: (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup 

kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika – matematika), (2) domain afektif 

(sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan 

intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3) domain 

psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, 

kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal).

Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 menitik beratkan pada 

perubahan pola pikir. Perubahan itu berpengaruh pada sistem penilaian 

sehingga lahirlah lima karakteristik penilaian kurikulum 2013 yang wajib 

dikuasai oleh tenaga pendidik dalam melaksanakan penilaian terhadap anak 

didiknya termasuk Pendidikan Agama Islam. Kelima karakteristik penilaian 

tersebut adalah:2

a. Belajar Tuntas 

Ketuntasan belajar merupakan pencapaian minimal dari 

kompetensi setiap muatan pelajaran yang harus dikuasai peserta didik 

dalam kurun waktu belajar tertentu. Ketuntasan aspek sikap (KI-1 dan 

KI-2) ditunjukkan dengan perilaku baik peserta didik. Jika perilaku peserta 

didik belum menunjukkan kriteria baik maka dilakukanm pemberian umpan 

balik dan pembinaan sikap secara langsung dan terus menerus sehingga 

peserta didik menunjukkan perilaku baik. 

Ketuntasan belajar aspek pengetahuan (KI-3) dan keterampilan 

(KI-4) ditentukan oleh satuan pendidikan. Peserta didik yang belum 

mencapai ketuntasan belajar diberi kesempatan untuk perbaikan (remedial 

teacheng), dan peserta didik tidak diperkenankan melanjutkan 

pembelajaran kompetensi selanjutnya sebelum kompetensi tersebut tuntas. 

Kriteria ketuntasan dijadikan acuan oleh pendidik utnuk mengetahui 

kompetensi yang sudah atau belum dikuasai peserta didik. Melalui cara 

tersebut pendidik mengetahui sedini mungkin kesulitan peserta didik 

sehingga pencapaian kompetensi yang kurang optimal dapat segera diperbaiki. 

b. Otentik 

Penilaian dilakukan untuk mengukur kompetensi secara holistik. 

Aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan dinilai secara bersamaan 

sesuai dengan kondisi nyata. Penilaian dilaksanakan untuk mengetahui 

pencapaian kompetensi peserta didik yang dikaitkan dengan situasi nyata 

bukan dunia sekolah. Oleh karena itu dalam melakukan penilaian 

digunakan berbagai bentuk dan teknik penilaian. 

Penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh 

peserta didik, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan 

oleh peserta didik. 

c. Berkesinambungan 

Penilaian berkesinambungan dimaksudkan sebagai penilaian yang 

dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan selama pembelajaran 

berlangsung. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang utuh 

mengenai perkembangan hasil belajar peserta didik, memantau proses, 

kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dengan menggunakan 

berbagai bentuk penilaian. 

d. Menggunakan bentuk dan teknik penilaian yang bervariasi 

Penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan menggunakan 

berbagai teknik penilaian yang sesuai dengan karakteristis kompetensi 

yang akan diukur atau dinilai. Berbagai metode atau teknik penilaian 

dapat digunakan seperti tes tertulis, tes lisan, penugasan, penilaian kinerja 

(praktek dan produk), penilaian proyek, portofolio, dan pengamatan atau 

observasi. 

e. Berdasarkan acuan kriteria 

Penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan menggunakan 

acuan kriteria. Kemampuan peserta didik tidak dibandingkan terhadap 

kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap ketuntasan yang ditetapkan. 

Kriteria ketuntasan ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan 

mempertimbangkan dengan karakteristik peserta didik, karakteristik mata 

pelajaran dan kondisi satuan pendidikan3

Proses pendidikan adalah proses untuk mengembangkan potensi siswa 

menjadi kemampuan dan keterampilan tertentu, hanya saja perlu dipahami 

bersama bahwa pada dasarnya tidaklah mudah untuk dapat mengakomodasikan 

kebutuhan setiap siswa secara tepat dalam proses pendidikan, namun harus pula 

menjadi pemahama bahwa setiap siswa harus diperlakukan secara adil dalam 

proses pendidikan, termasuk di dalamnya proses penilaian. Untuk itu proses 

penilaian yang dilakukan harus memiliki asas keadilan, kesetaraan serta 

obyektifitas yang tinggi.

Pernyataan tersebut mengandung pengertian bahwa setiap siswa harus 

diperlakukan sama dan meminimalkan semua bentuk prosedur ataupun tindakan 

yang menguntungkan atau merugikan salah satu atau sekelompok siswa. Di 

samping itu penilaian yang adil harus tidak membedakan latar belakang sosial 

ekonomi, budaya, bahasa dan gender.

C. Tujuan Pengembangan dan Inovasi Penilaian hasil Belajar PAI 

Hasil belajar mencakup perubahan yang dialami oleh siswa dalam hal sikap dan 

perbuatan atau terbentuknya karakter yang di harapkan. Baik hasil belajar maupun 

prestasi belajar siswa perlu dilakukan tindakan penilaian. Khusus hasil belajar siswa, 

tujuan pengembangan dan inovasi penilaian hasil belajar adalah:

a. Untuk mengetahui serta mengembangkan tingkat penguasaan peserta didik 

terhadap materi yang telah di berikan.

b. Mengetahui kemajuan belajar siswa, baik sebagai individu maupun 

anggota kelompok/kelas setelah ia mengikuti pendidikan dan pembelajaran 

dalam jangka waktu yang telah di tentukan.

c. Mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat, dan sikap peserta didik 

terhadap program pembelajaran.

d. Untuk mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta didik 

dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah di tetapkan.

e. Untuk menempatkan peserta didik sesuai dengan potensi yang di milikinya

f. Mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi berbagai komponen 

pembelajaran yang di pergunakan guru dalam jangka waktu 

tertentu. Komponen pembelajaran itu misalnya menyangkut perumusan 

materi pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, 

media, sumber belajar, dan rancangan sistem penilaian yang dipilih.5

D. Langkah-langkah Pengembangan dan Inovasi Penilaian hasil Belajar PAI 

Langkah-langkah pengembangan penilaian secara umum adalah :

1. Melakukan pengembangan analisis kebutuhan, cara efektif untuk 

mengidentifikasi masalah yang muncul dalam sebuah organisasi 

pembelajaran yang muncul pada keadaan sekarang, terutama bila 

perancangannya atau dalam mendesain pembelajarannya tidak begitu 

akurat.

2. Melakukan kajian terhadap teori dan kurikulum, dalam melakukan 

pengembangan penilaian maka harus disesuaikan dengan teori dalam 

kurikulum yang berlaku. Setiap sekolah bisa memakai kurikulum yang 

berlaku baik kurikulum kurtilas ataupun kurikulum merdeka

3. Membuat rancangan pengembangan berupa kisi-kisi. Terdapat tahapan 

dalam penyusunan kisi-kisi diantaranya :

a. Menentukan kompetensi dasar yang akan di ukur. KD adalah 

kemampuan minimal yang harus dikuasai peserta didik setelah 

mempelajari materi pelajaan tertentu.

b. Memilih materi yang esensial sesuai dengan indikator 

c. Merumuskan indikator yang mengacu pada KD 

4. Melakukan uji keterbacaan teks untuk tes yaitu uji keterbacaan yang 

dirancang untuk menunjukan kesulitan pemahaman ketika membaca 

sebuah tulisan dan tes.

5. Membuat draf awal alat penilaian

6. Melakukan uji coba tes (validitas, reliabilitas )

7. Revisi

8. Draf akhir 

Langkah-langkah pengembangan penilaian hasil belajar berdasarkan 

HOTS yang terdapat dalam kurikulum 2013 :

1. Menganalisis kompetensi dasar yang akan dibuat dalam penilaian berbasis 

HOTS

2. Menyususn kisi-kisi penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar yang 

telah dianalisisis

3. Mengaitkan dengan permasalahan yang menarik dalam kehidupan seharihari 

4. Menuliskan penilaian ke dalam bentuk soal

5. Membuat pedoman penskoran/penilaian serta kunci jawaban6

E. Contoh-contoh Pengembangan dan Inovasi Penilaian hasil Belajar PAI dalam 

Pendidikan Era Society 5.0

a. Penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi.

Penilaian hasil belajar peserta didik pada kurikulum 2013 meliputi 

aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hal yang perlu 

dipersiapkan oleh guru sebelum penilaian dilakukan adalah menetapkan KKM dan menyiapkan instrumen penilaian. KKM 

akan dijadikan dasar untuk menetapkan kegiatan remedial atau 

pengayaan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik. 

Dalam K-13 penilaian yang diterapkan merupakan penilaian 

soal berbasisi HOTS (High, Order, Thinking Skill) diterapkannya 

penilaian berbasis HOTS ini bertujuan agar proses pembelajaran dapat 

memotivasi siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya 

sehingga dapat berfikir secara kreatif dan inovatif.

b. Penilaian hasil belajar kurikulum Merdeka

Sistem penilaian pada kurikulum merdeka belajar :

- Sistem pendidikan harus mendorong tumbuhnya praktik belajar 

mengajar yang menumbuhkan daya nalar dan karakter peserta didik 

secara utuh

- Pembelajaran dan penilaian memberika ruang kepada guru untuk 

melakukan inovasi agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai 

minat , bakat, dan kemampun

Penilaian pembelajaran di Kurikulum 2022 difokuskan pada penilaian 

formatif yang dilakukan secara berkala. Penilaian formatif yang dilakukan 

pendidik tidak hanya penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning) 

tetapi juga penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning).

Seperti yang kita ketahui bahwa penilaian sebagai pembelajaran yaitu 

proses penilaian yang dilakukan pendidik yang memungkinkan peserta didik

melihat capaian dan kemajuan belajarnya untuk menentukan target belajar.

Agar penilaian formatif dan pembelajaran menjadi suatu kesatuan, 

perencanaan penilaian formatif dibuat menyatu dengan perencanaan 

pembelajaran dalam Modul Ajar. Penilaian formatif menjadikan pembelajaran 

lebih berkualitas dan lebih menjamin tercapainya tujuan pembelajaran bagi 

setiap peserta didik.

Beberapa macam penilaian formatif yang dapat dipraktikan oleh Guru 

dalam kurikulum Merdeka 2022 :

1. Observasi (Pengamatan)

Pendidik dapat mengetahui apa yang telah dan/atau belum 

dikuasai oleh peserta didik melalui apa yang dikatakan, dilakukan, 

dan dihasilkan oleh peserta didik. Saat proses kegiatan belajar 

mengajar berlangsung, observasi dapat dilakukan oleh pendidik 

untuk mengetahui apa yang sudah dan belum dikuasai oleh peserta 

didik dalam hal sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta 

didik. 

2. Bertanya (Questioning)

Pertanyaan harus dirumuskan dan disampaikan dengan baik 

oleh pendidik kepada peserta didik secara lisan. Jawaban peserta 

didik terhadap pertanyaan pendidik dapat memberikan gambaran 

yang baik tentang kemajuan penguasaan kompetensi mereka. 

Kemudian Pertanyaan biasanya disampaikan secara lisan pada 

awal, tengah, atau akhir pelajaran. Peserta didik diberi waktu yang 

cukup untuk berpikir, mengingat apa yang telah dipelajari. 

Pertanyaan pendidik tidak saja menjadikan pendidik mengetahui 

sampai di mana peserta didik telah menguasai kompetensi yang 

dituju, tetapi juga membantu peserta didik belajar. 

Selanjutnya Bertanya dapat dilakukan dengan berbagai cara, 

tingkat kesulitan dan/atau jenis pertanyaan yang diberikan 

hendaknya bervariasi, dan menyertakan pertanyaan yang tidak 

sekedar menuntut ingatan akan sekumpulan fakta atau angka, tetapi 

pertanyaan yang mendorong pelibatan proses kognitif tingkat 

tinggi (higher order thinking skills). 

3. Uraian Singkat

Pendidik memberikan sebuah pertanyaan kepada peserta didik 

dan meminta mereka menjawabnya. Uraian Singkat adalah teknik 

penilaian formatif yang cepat dan memungkinkan pendidik untuk 

menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik dalam suatu topik 

pembelajaran. 

Kemudian pendidik menjelaskan bahwa mereka mempunyai 

waktu yang sangat singkat (biasanya satu menit) untuk menuliskan 

jawaban mereka. Untuk itu, pendidik harus memastikan bahwa 

pertanyaan yang disampaikan dapat dijawab dalam waktu singkat.

Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dapat membuat peserta 

didik merefleksikan penguasaan materi dan menghubungkannya 

dengan kehidupan mereka masing-masing.

4. Contoh dan Bukan Contoh

Contoh dan bukan contoh memberikan pendidik informasi 

mengenai tingkat pemahaman peserta didik. Pendidik meminta 

peserta didik untuk memberikan contoh dan bukan contoh dari 

sebuah topik yang sedang dibahas. 

5. Kartu Jawaban

Ada banyak kegunaan kartu jawaban di dalam kelas. Pendidik

memberikan sebuah pertanyaan dan meminta peserta didik untuk 

menjawab dengan mengangkat kartu jawaban mereka. Kartu 

jawaban yang paling umum adalah pertanyaan dengan jawaban 

„YA‟ atau „TIDAK‟.

Setelah diberikan satu pertanyaan, peserta didik menjawab 

dengan mengangkat kartu jawaban mereka. Pendidik mencermati 

seluruh kelas dengan singkat, dan memberikan penilaian terhadap 

pemahaman mereka. Peserta didik diberi dua macam kartu 

jawaban. Satu kartu dengan kata „YA‟ dan lainnya dengan kata 

„TIDAK‟. 



DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas,2004. Kurikulum 2004 pedoman penilain kelas. Jakarta : Depdiknas

Zainal Arifin, 2012. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan 

Islam Kementerian Agama RI

Panduan Penilaian di Sekolah Dasar, Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar , 8-9

Depdiknas,2004. Kurikulum 2004 pedoman penilain kelas. Jakarta : Depdiknas

Jurnal Landasan Pengembangan Kurikulum- Direktorat UPI

Jurnal Penilaian dalam pengajaran – Direktorat UPI 

Jurnal Penyusunan Pengembangan Penilaian berbasis Hots – Echa surya kinanti

Zainal Arifin, 2012. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan 

Islam Kementerian Agama RI



Kamis, 26 Mei 2022

Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

1.      Karakteristik Metode Pembelajaran PAI

PAI merupakan rumpun mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam. Karena itulah PAI merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam. Ditinjau dari segi isinya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi salah satu komponen, dan tidak dapat dipisahkan dari rumpun mata pelajaran yang bertujuan, mengembangkan moral dan kepribadian peserta didik. 

Tujuan PAI adalah terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia), memiliki pengetahuan tentang ajaran pokok Agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Islam, sehingga memadai baik untuk kehidupan masyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Pendidikan Agama Islam, sebagai sebuah program pembelajaran, diarahkan pada (a) menjaga aqidah dan ketakqwaan peserta didik, (b) menjadi landasan untuk rajin mempelajari ilmu-ilmu lain yang diajarkan di madrasah, (c) mendorong peserta didik untuk kritis, kretif dan inovatif, (d) menjadi landasan perilaku dalm kehidupan sehri-hari di masyarakat. PAI bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang Agama Islam, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (membangun etika sosial). 

Pembelajaran PAI tidak hanya menekankan penguasaan kompetensi kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotoriknya.

Isi mata pelajaran PAI didasarkan dan dikembangkan dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam dua sumber pokok ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW (dalil naqli). Di samping itu materi PAI juga diperkaya dengan hasil-hasil istinbath atau ijtihad (dalil aqli) para ulama sehingga ajaran-ajaran pokok yang bersifat umum lebih rinci dan mendetil. 

Materi PAI dikembangkan dari tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu aqidah,syari'ah dan akhlak. Aqidah merupakan penjabaran konsep Islam, dan akhlak merupakan penjabaran konsep ihsan. Dari ketiga konsep dasar itulah berkembang berbagai kajian keislaman, termasuk kajhian-kajian yang terkait dengan ilmu, teknologi, seni dan budaya.

Out put pembelajaran PAI di sekolah adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia (budi pekerti luhur) yang merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia. pendidikan akhlak adalah  (budi pekerti) adalah jiwa pendidikan dalam Islam, sehingga pencapaian akhlak mulia (karimah) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Dalam hubungan ini, perlu ditegaskan bahwa pelajaran PAI tidak identik dengan menafikan pendidikan jasmani dan pendidikan akal. Keberadaan program pembelajaran selain PAI juga menjadi kebutuhan bagi peserta didik yang tidak dapat diabaikan. Namun demikian, pencapaian akhlak mulia justru mengalami kesulitan jika hanya dianggap menjadi tanggung jawab mata pelajaran PAI. Dengan demikian, pencapaian akhlak mulia harus menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk mata pelajaran  non PAI dan guru-guru yang mengajarkannya. Ini berarti meskipun akhlak itu tampaknya hanya menjadi muatan mata pelajaran PAI, mata pelajaran lain juga perlu mengandung muatan akhlak. Lebih dari itu, semua guru harus memperhatikan akhlak peserta didik dan berupaya menanamkannya dalam proses pembelajaran. Jadi, pencapaian akhlak mulia tidak cukup hanya melalui mata pelajaran PAI.

Maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran pada mata pelajaran PAI adalah metode ceramah, demonstrasi, diskusi, tanya jawab.

 

2.      Dasar Filosofis Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

Landasan Filosofis pengembangan dan inovasi metode pembelajaran PAI merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk dalam pembelajaran mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara.

Filosofis atau pandangan hidup dalam dunia pendidikan bertujuan untuk memberikan arah bagi peserta didik dalam belajar. Ketika memiliki arah belajar yang jelas, peserta didik dapat mengeksploitasi kemampuan yang ada dalam dirinya sehingga dapat mencapai hasil terbaiknya.

Filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktik-praktik pendidikan. Kemudian, praktik-praktik pendidikan memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan filosofis. Keduanya sangat berkaitan erat. Hal inilah yang menyebabkan landasan filosofis menjadi landasan penting dalam pengembangan dan inovasi metode pembelajaran PAI.

Landasan filosofis pendidikan merupakan bagian penting yang harus dipelajari dalam dunia pendidikan, hal ini dikarenakan pendidikan bersifat normatif dan perspektif. Selain itu juga, dengan filosofis pendidikan kita akan mengetahui mengapa, apa, dan bagaimana kita melakukan pelajaran, siapa yang kita ajar dan mengenai hakikat belajar. Hal ini merupakan seperangkat prinsip yang menuntun kita dalam melakukan tindakan profesional melalui kegiatan dan masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari.Selain itu juga seiring dengan derasnya arus tukar informasi mengenai sistem pendidilkan yang beragam di berbagai negara, berkembang pula sebuah disiplin baru yang dipandang sejak tahun 1960, yang disebut comparative education. Tujuannya adalah mengetahui berbagai macam perbedaan sistem pendidikan di dunia. Dengan kata lain, bertujuan untuk mengetahui berbagai prinsip yang mendasari pengaturan perkmbangan sistem pendidikan nasional.

Filosofis pengembangan dan inovasi metode pembelajaran PAI adalah asumsi filosofis yang dijadikan titik tolak dalam rangka studi dan praktek pendidikan. Dalam pendidikan terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. Melalui studi pendidikan akan diperoleh pemahaman tentang landasan-landasan pendidikan,yang akan dijadikan titik tolak praktek pendidikan. Dengan demikian, landasan filosofis pendidikan sebagai hasil studi pendidikan tersebut, dapat dijadikan titik tolak dalam rangka studi pendidikan yang bersifat filsafiah, yaitu pendekatan yang lebih komprehensif, spekulatif, dan normatif. Peranan landasan filosofis pendidikan juga memberikan rambu-rambu apa dan bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan. Mustadi (2015) mengatakan bahwa Kebutuhan akan guru sebagai tenaga pendidik yang berkualitas dan profesional sangat penting.

3.      Tujuan Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

Pada hakikatnya yang menjadi dasar dan tujuan pengembangan dan inovasi metode dalam pembelajaran PAI adalah mengacu pada inovasi pendidikan, karena pembelajaran merupakan suatu komponen dari pendidikan itu sendiri. Salah satu permasalahan serius yang dihadapi dunia pendidikan sekarang ini adalah rendahnya kualitas pembelajaran, termasuk pembelajaran PAI. Proses pembelajaran pendidikan agama yang terjadi kerap kali baru bersifat seadanya, rutinitas, formalitas, kaku, dan kurang makna. Informasi materi pelajaran yang diperoleh dari guru lebih banyak mengandalkan indera pendengaran. Dalam situasi itu indera lain yang dimiliki oleh peserta didik tidak dapat difungsikan secara optimal. Peserta didik akan memahami pelajaran hanya sebagai materi hafalan. Kejenuhan peserta didik terhadap suatu mata pelajaran akan diikuti dengan turunnya prestasi belajar

Indikator dari turunnya presasi belajar itu dapat diketahui dari analisis butir soal, daya serap, rata-rata nilai ulangan harian, dan ulangan blok dari waktu ke waktu. Adapun tujuan pembaharuan pendidikan adalah meningkatkan efesiensi, relevansi kualitas dan efektifitas, sarana serta jumlah peserta didik yang sebanyak banyaknya, dengan hasil pendidikan yang sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat dan pembangunan) dengan menggunakan tenaga, sumber, uang, alat, dan waktu yang sekecil-kecilnya.

Selanjutnya B. Suparna menjelaskan sebagaimana dikutip oleh Martin Sardi, disamping pembaharuan itu untuk memenuhi kebutuhan yang dihadapi dan tantangan terhadap masalah-masalah pendidikan serta tuntutan zaman, perubahan pendidikan juga merupakan usaha aktif untuk mempersiapkan diri di hari esok yang lebih baik dan memberi harapan yang sesuai dengan cita-cita yang didambakan.

Mengacu pada pembaharuan pendidikan di atas, maka upaya tujuan dari inovasi pembelajaran PAI disini adalah mengembangkan perencanaan pembelajaran pendidikan agama yaitu diantaranya; memilih dan menetapkan metode pembelajaran pendidikan agama yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Karena itu, penekanan utama dalam perencanaan pembelajaran adalah pada pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode pembelajaran pendidikan agama.

Pemilihan metode pembelajaran pendidikan agama harus didasarkan pada analisis kondisi pembelajaran pendidikan agama yang ada, yang nantinya hasil analisis akan menunjukkan kondisi pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan. Setelah menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran pendidikan agama dalam kegiatan perencanaan pembelajaran akan diperoleh informasi yang lengkap mengenai kondisi riil yang ada dan hasil pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan.

Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan hususnya proses belajar mengajar. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran.

.

4.      Langkah-Langkah Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

Langkah-langkah pengembangan dan inovasi metode pembelajaran PAI diantaranya:

1)      Identifikasi Masalah dan Analisis Kebutuhan

Langkah identifikasi masalah dan analisis kebutuhan merupakan awal dari semua langkah inovasi dalam pembelajaran. Dalam melakukan inovasi guru terlebih dahulu harus mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Langkah ini sangat penting dilalui guna menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Hasil dari sebuah analisis awal adalah daftar kebutuhan, jenis dan prioritas kebutuhannya. Inovasi yang dilakukan diharapkan akan bermanfaat dan berdampak positif bagi banyak orang khususnya bermanfaat untuk siswa yang ajar dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Manfaat lainnya adalah guru lain bisa menjadikan hasil analisis sebagai referensi guna memperbaiki pembelajaran.

Pada umumnya, analisis kebutuhan ditujukan pada tiga subjek sasaran yaitu,

·         Analisis Kurikulum

·         Analisis Sasaran dan

·         Analisis tren perkembangan teknologi. Analisis kurikulum ditujukan untuk mengetahui secara rinci kebutuhan berdasarkan tuntutan kebutuhan kurikulum. Kurikulum yang senantiasa dinamis memerlukan analisis yang lebih tajam.

2)      Penyusunan Rancangan Inovasi

Penyusunan rancangan inovasi perlu dilakukan oleh guru. Terdapat dua pendekatan langkah penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, yaitu pendekatan idealis dan pendekatan pragmatis.

3)      Pengembangan Rancangan Inovasi

Pengembangan rancangan inovasi terhadap RPP perlu dilakukan untuk disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Aktivitas pengembangan yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dengan cara mengajak rekan sesama guru untuk berdiskusi mengenai bagaimana pengembangan RPP ini dilakukan.

4)      Pelaksanaan Uji Coba

Semua rancangan inovasi yang telah disiapkan harus melalui uji coba terlebih dahulu sebelum diterapkan dalam proses pembelajaran. Hasil uji coba inovasi tidak perlu mengkhawatirkan berhasil atau tidaknya. Setiap kendala yang ditemukan dalam proses uji coba harus diyakini sebagai sebuah pembelajaran yang akan berdampak positif terhadap guru maupun siswa.

5)      Pengendalian dan Perbaikan

Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan oleh guru harus melakukan perbaikan pada setiap kelemahan-kelemahan yang mungkin saja muncul selama proses perancangan.

6)      Implementasi

Setelah semua dirasa siap maka tindakan selanjutnya adalah implementasi terhadap inovasi dalam pembelajaran. Kesiapan guru dalam mengimplementasikan inovasi pembelajaran ini menjadi kunci kesuksesan di lapangan.

7)      Evaluasi

Usai melakukan implementasi selanjutnya guru harus melakukan evaluasi guna perbaikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya. Dalam melakukan evaluasi guru harus mampu mengidentifikasi tingkat keberhasilan dalam menerapkan rancangan yang telah diterapkan dan bagian-bagain apa saja yang harus diperbaiki.

Selain itu, guru juga harus menganalisis problem pembelajaran yang harus diselesaikan, jenis aktivitas yang menggambarkan berbagai strategi yang mungkin cocok untuk menyelesaikan persoalan, perbaikan kegiatan, instrumen untuk mengumpulkan data, hasil yang diperoleh dalam menggunakan teknologi, cara alternatif yang lebih baik, sesuatu yang harus diganti dan diperbaiki untuk memperoleh hasil yang lebih baik pada pembelajaran berikutnya.

5.      Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI dalam Pendidikan Era Society 5.0.

Era super smart society atau dikenal dengan nama era society 5.0 adalah sebuah era yang dicetuskan oleh pemerintah Jepang. Era ini diperkenalkan dalam Forum Ekonomi Dunia yang dilaksanakan di Davos, Swiss pada tahun 2019. (Puspita et al., 2020). Era super smart society adalah sebuah era dimana masyarakat harus bisa menyelesaikan berbagai permasalahan sosial yang diakibatkan oleh penemuan di era industri 4.0 yakni artificial intelligence, internet of things, teknologi robot, hingga big data yang tentunya bisa menggantikan sebagian kebutuhan tenaga manusia (Sawitri, 2019). 

Penerapan teori multiple intelligences dalam pendidikan yang kemudian digambarkan dalam model pembelajaran. Model pembelajaran ini terdiri dari pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran. Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligences. Pendekatan yang digunakan adalah student centered. Student Centered Learning (SCL) adalah salah satu pembelajaran yang bebasis pada aktivitas siswa dan menerapkan prinsip learning by doing. (Antika, 2014) menyatakan bahwa murid bukanlah objek pembelajaran dimana guru memberikan informasi, tetapi murid adalah subjek yang memiliki potensi. Potensi inilah yang harus distimulasi dan dikembangkan untuk mencapai kemampuan yang optimal.

Strategi Pembelajaran Multiple Intelligences dilakukan dengan membuat kelas berdiferensiasi. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk mengimplementasikan kelas berdiferensiasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Arends dan Kilcher dalam (Istiningsih & Nisa, 2015) yakni : a) Melakukan perencanaan. Perencanaan ini dapat dilakukan melalui tiga hal yakni: (1) melakukan identifikasi IQ; (2) Setelah mendapatkan hasil dari tes IQ maka selanjutnya menganalisis kemampuan dan kelemahan yang dimiliki siswa ; dan (3) membuat kelompok- kelompok belajar kecil sesuai dengan minat dan kemampuan siswa. Sehingga dalam hal ini siswa tidak ditekankan untuk menguasai hal yang sama. b) Mengatur kelas berdiferensiasi Pengaturan kelas ini dilakukan secara fleksibel yakni ada saatnya siswa untuk melakukan kegiatan secara individu, kelompok kecil ataupun ada saatnya pembelajaran klasikal (bersamaan).c) Penilaian yang tepat dalam kelas berdiferensiasi Penilaian kelas ini terdiri dari penilaian yang dilakukan diawal (diagnostik), penilaian tengah (formatif) dan penilaian akhir (sumatik).

Metode Pembelajaran Multiple Intelligences Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini disesuiakan dengan setiap kecerdasan. Di Indonesia penerapan kecerdasan ini sudah dilakukan sejak dahulu. Hal ini tercermin dari salah satu tokoh pahlawan nasional bernama KH. Ahmad Dahlan. Hal ini diungkapkan oleh (Amelia & Dahlan, 2021) bahwa K. H. Ahmad Dahlan membawa ilmu agama ke dalam pendidikan modern bukan hanya mengajarkannya kepada siswa, melainkan kepada guru-gurunya juga. Adapun metode yang bisa digunakan untuk mengembangkan kecerdasan ini yakni menggunakan metode ceramah atau bercerita.


Kamis, 19 Mei 2022

PENGEMBANGAN DAN INOVASI SILABUS DAN RPP PAI

A.      Karakteristik Silabus dan RPP PAI

Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu sebagai hasil dari seleksi, pengelompokkan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat. Silabus adalah pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar (Abdul Majid, 2012: 38-39).

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok, Kegiatan pembelajaran, Alokasi Waktu, Sumber Belajar,  dan Penilaian. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab permasalahan-permasalahan sebagai berikut.

a.       Kompetensi apa saja yang harus dicapai siswa sesuai dengan yang dirumuskan oleh  Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).

b.      Materi Pokok apa sajakah yang perlu dibahas dan dipelajari peserta didik untuk mencapai Standar Isi.

c.       Kegiatan pembelajaran yang bagaimanakah yang seharusnya diskenariokan oleh guru sehingga peserta didik mampu berinteraksi dengan objek belajar.

d.      Indikator apa sajakah yang harus ditentukan untuk mencapai Standar Isi.

e.       Bagaimanakah cara mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan Indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.

f.        Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai Standar Isi tertentu.

g.      Sumber Belajar apa sajakah yang dapat diberdayakan untuk mencapai Standar Isi tertentu.

Pengembangan RPP harus memperhatikan perhatian dan karakteristik peserta didik terhadap materi standar yang dijadikan bahan kajian. Dalam hal ini perlu diperhatikan agar guru jangan hanya berperan sebagai transformator, tetapi harus berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan gairah dan nafsu belajar, serta mendorong peserta didik untuk belajar, dengan menggunakan berbagai variasi media, dan sumber belajar yang sesuai, serta menunjang pembentukann standar kompetensi dan kompetensi dasar (Mulyasa, 2007: 218-219).

Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik yang khas. adapun karakteristik masing-masing mata pelajaran dapat di lihat pada standar isi (Permen Diknas Nomor 22 TAhun 2006)

B.     Dasar Filosofis Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Berlandaskan Undang-Undang Republik nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional, berkewajiban menetapkan berabagai peraturan tentang standar penyelenggaraan pendidikan diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Standar nasional pendidikan yang dimaksud meliputi: (1) standar isi, (2) standar kompetensi ulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) sstandar penilaian.

Salah satu dari kedelapan standar itu adalah standar isi. Standar isi memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD), yang harus dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada gilirannya mencapai standar kompetensi lulusan (SKL). Agar peserta didikdapat mencapai SK, KD, maupun SKL secara optimal, perlu didukung oleh berbagai standar lainnya dalam sebuah sistem yang utuh. Salah satu standar tersebut adalah standar proses. Standar proses mengisyaratkan bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan perencanaan pembelajaran seperti rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. RPP perlu dikembangkan untuk mengkoordinasikan komponen pembelajaran, yani: kompetensi dasar, materi standar, indicator hasil belajar, dan penilaian. Kompetensi dasar berfungsi mengembangkan potensi peserta didik; materi standar berfungsi memberi makna terhadap kompetensi dasar; indicator hasil belajar berfungsi menunjukan keberhasilan pembentukan kompetensi peserta didik; sedangkan penilaian berfungsi mengukur pembentukan kompetensi dan menentukan tindakan yang harus dilakukan apabila kompetensi standar belum terbentuk atau belum tercapai. 

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) KTSP yang akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran, sedikitnya mencakup tiga kegiatan, yaitu: identifikasi kebutuhan, perumusan kompeensi dasar, dan penyusunan program pembelajaran.

a.       Identifikasi kebutuhan bertujuan untuk melibatkan dan memotivasi siswa, agar kegiatan belajar dirasakan oleh mereka sebagai bagian dari kehidupannya dan mereka merasa memilikinya.

b.      Identifikasi kompetensi yang harus dipelajari dan dimiliki siswa, perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar. Siswa perlu mengetahui tujuan belajar, dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, dikembangkan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, penilaian pencapaian kompetensi harus dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja siswa, dengan bukti penguasaan mereka terhadap suatu kompetensi yang telah ditentukan.

c.       Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada rencana pelaksanaan pembelajaran, sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode dan teknil, media dan sumber belajar, waktu belajar, dan daya dukung lainya.

 

C.    Tujuan Pengembangan dan Inovasi Silabus dan RPP PAI\

 

Adapun fungsi dan Tujuan pengembangan silabus dan RPP dalam pembelajaran antara lain:

1.      Memperkirakan tindakan yang akan dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran.

2.      Pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran.

3.      Fungsi perencanaan, yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran yang hendaknya dapat mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, setiap akan melakukan pembelajaran guru wajib memiliki persiapan, baik persiapan tertuis maupun tidak tertulis.

4.      Fungsi pelaksanaan, yaitu fungsi untuk mengefektifkan proses pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan guru. Oleh karena itu, RPP harus disusun secara sitematis dan sistemik, utuh dan menyeluruh, dengan beberapa kemungkinan penyesuaian dalam situasi pembelajaran yang aktual sehingga guru lebih siap untuk mengimplementasikannya. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran harus terorganisasi melalui serangkaian kegiatan tertentu, dengan strategi yang tepat dan mumpuni.

5.      Tujuan pengembangan silabus sebagai pedoman pengembangan perangkat pembelajaran lebih lanjut, mulai dari perencanaan, pengelolaan kegiatan pembelajaran dan pengembangan penilaian. Silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standart kompetensi dan kemampuan dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam mencapai standart kompetensi dan kemampuan dasar.

 

D.   Langkah-Langkah Pengembangan dan Inovasi Silabus dan RPP PAI

 

Langkah-Langkah Pengembangan Silabus PAI

1.      Mengkaji Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a.       Urutan berdasarkan hirarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi.

b.      Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran.

c.       Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

2.      Mengidentifikasi materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

a.     Potensi peserta didik.

b.      Relevansi dengan karakteristik daerah.

c.       Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik.

d.      Kebermanfaatan bagi peserta didik.

e.       Struktur keilmuan.

f.        Aktualitsasi, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran.

g.      Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan.

h.      Alokasi waktu.

3.    Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.

c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.

d.   Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

4.      Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5.    Menentukan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Terdapat beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian, yaitu:

a.    Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi

b.    Penilaian menggunakan acuan kriteria

c.    Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.

d.    Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut.

e.    Sistem penilaian harus disesuaiakan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran.

6.      Menentukan Alokasi Waktu

Penetuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasaan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakanperkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

7.      Menentukan Sumber/Bahan Ajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan  untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, narasumber, lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada kompetensi inti dan kompetensi dasar serta materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi

Langkah-langkah pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran PAI :

a.       Mengisi kolom identitas.

b.      Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan.

c.       Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indicator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun.

d.      Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indicator yang telah ditentukan.

e.       Mengidentifikasi materi standar berdasarkan materi pokok! Pembelajaran yang terdapat dalam silabus, materi standar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran.

f.        Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.

g.      Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.

h.      Menentukan sumber belajar yang digunakan.

i.        Menyusun criteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, dan teknik penskoran.

 

E.     Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Silabus dan RPP PAI dalam Pendidikan Era Society 5.0.

Di era revolusi terutama era revolusi industri 4.0, selain menyusun perencanaan pembelajaran yang bersifat beberapa literasi juga perlu dikuasai oleh guru.

1.      Literasi data.

Literasi data yakni kemampuan dalam membaca, menganalisis, dan mempergunakan atau mengolah informasi (Big Bang) di dunia digital. Adapun yang dimaksud Big Bang dalam dunia digital yakni pengolahan dan analisis data dalam jumlah yang begitu besar sehingga memungkinkan seseorang membaca dan melakukan analisis terhadap data tersebut sehingga dapat dimanfaatkan demi kepentingan hidup manusia. Di dunia pendidikan, data menjadi hal yang penting, baik data sederhana maupun kompleks. Sudah menjadi tugas dari tenaga pendidik / guru memiliki kemampuan dalam mengolah, menganalisis dan menyusun secara sistematis data yang dimilikinya. Di era revolusi industri 4.0 tentu akan memberikan kemudahan dalam mengelola dan memanajemen data. Data dapat dimanfaatkan kapan pun dan di mana pun guru tersebut berada.

Adapun berikut merupakan beberapa fasilitas online yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam menyimpan dan mengelola data ialah sebagai berikut:

a.       Google Drive

Google Drive merupakan media penyimpanan data yang dapat dipergunakan secara online atau daring melalui internet dari Google. Google Drive memberikan pelayanan yang berbentuk aplikasi atau software yang dapat diakses melalui smartphone ataupun PC sehingga mempermudah dalam melakukan pencadangan data. Berbagai file seperti dokumen, foto/gambar, audio maupun video dapat disimpan secara online karena kapasitas yang dimiliki Google Drive cukup besar yaitu 15 gigabyte.

b.      Dropbox

Dropbox merupakan jaringan penyimpanan data berkas dengan system internet. Jika Google Drive memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 15 gigabyte, maka Dropbox memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 2 gigabyte.

2.       Literasi teknologi

Literasi teknologi merupakan kemampuan dalam mempergunakan teknologi digital, alat komunikasi dan jaringan yang tepat dalam memperoleh solusi permasalahan informasi. Artinya, kemampuan dalam mempergunakan teknologi sebagai alat penelitian dalam mengatur, mengevaluasi dan menyampaikan informasi sesuai etika. Literasi teknologi berkaitan dengan cara manusia memanfatkan teknologi secara baik untuk kemashlahatan dunia terlebih pada dunia pendidikan. Teknologi sederhana apabila diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran maka akan berbeda dengan pembelajaran konvensional.  Literasi teknologi akan memberikan dampak pada guru yakni lebih kreatif dalam merencanakan pembelajaran

Sebelum melaksanakan suatu pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan hal-hal berikut dalam memutuskan bagaimana pendidikan dan pembelajaran dilaksanakan:

1.      Pembelajaran berpusat kepada peserta didik (Student Centered Learning)

Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik artinya guru bukan menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di kelas. Peserta didik harus berperan aktif dalam mencari dan memperoleh informasi baru ketika terdapat suatu permasalahan (learning how to learn) supaya peserta didik dapat berkompetisi dan berkontribusi di masyarakat global di masa mendatang khususnya menghadapi era society 5.0. Dalam Student Centered Learning, guru berada dalam posisi sebagai fasilitator bagi peserta didik, peserta didik akan mengumpulkan informasi sendiri dengan tetap mendapatkan bimbingan dari guru.

2.      Kolaborasi peserta didik

Kolaborasi peserta didik artinya seluruh peserta didik harus bekerja bersama dalam memperoleh informasi, mengumpulkannya, dan membangun makna.

3.      Meaningful Learning (pembelajaran bermakna/bermanfaat)

Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik bukan berarti guru memberikan seluruh kendali atas kelas kepada peserta didik. Namun guru tetap memberikan dorongan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya belajar yang mereka rasa nyaman, dalam hal ini guru tetap memberikan bimbingan terkait keterampilan yang perlu diperoleh oleh peserta didik. Poin penting dapat dibuat oleh guru untuk membantu peserta didik memahami cara menjadikan keterampilan yang mereka bangun dapat diimplementasikan di kehidupan mereka. Peserta didik akan merasa lebih mendapatkan motivasi dalam mempelajari sesuatu yang dapat mereka lihat manfaat dan nilainya.

Metode pembelajaran era society 5.0 memberikan penekanan pada penguasaan terhadap metode pembelajaran pendidik/guru, pelaksanaannya di dalam kelas dan pengembangan dalam pembelajaran. Inovasi pembelajaran memanfaatkan seluruh potensi yang ada seperti penguasaan terhadap teknologi maupun implementasinya di dalam pembelajaran. Inovasi di dalam pembelajaran dapat menjadi referensi bagi guru untuk melakukan berbagai metode sebagai berikut:

1.      Multimetode

Dalam menerapkan pengembangan inovasi pembelajaran, seorang pendidik tentu memerlukan adanya modal yang begitu penting, yakni memiliki penguasaan terhadap beberapa metode dalam suatu pembelajaran.

2.      Internet

Di internet terdapat banyak situs maupun laman yang menawarkan ribuan atau bahkan jutaan referensi yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan pembelajaran.

3.      Pengalaman

Apabila pendidik memiliki pengalaman yang banyak, maka pendidik tersebut akan semakin mudah dalam mengembangkan model dan metode pembelajaran. Dengan pengalaman tersebut pendidik akan dapat melakukan modifikasi terhadap model maupun metode pembelajaran.

4.      Uji coba

Mencoba merupakan langkah nyata yang dapat dilaksanakan oleh pendidik demi memunculkan inovasi pembelajaran.

5.      Kreativitas

 Kreativitas pendidik bisa melalui penerapan metode pembelajaran yang baru, pemberian nama yang unik, tidak sulit diingat atau bahkan populer.

Terkait dengan model-model pembelajaran yang sesuai dengan era society 5.0 dapat diketahui sebagai berikut:

1.      Model Discovery-Inquiry

Metode pembelajaran discovery (penemuan) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan guru dengan mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya tanpa pemberitahuan, akan tetapi sebagian atau seluruhnya ditemukan oleh peserta didik itu sendiri. Model pembelajaran ini fokus pada pemecahan masalah, sehingga perlu adanya eksplorasi berbagai informasi oleh peserta didik sehingga mereka dapat menentukan bagaimana mentalnya setelah memperoleh pertanyaan yang mengacu pada pencapaian tujuan pembelajaran. Model pembelajaran Discovery-Inquiry dapat diimplementasikan untuk membiasakan peserta didik berpikir tingkat tinggi, (high order thinking) atau yang disingkat HOT, berpikir secara ilmiah, tidak bergantung kepada oranglain dan tidak hanya mengutamakan ketrampilan kognitifnya dalam memecahkan suatu masalah.

Adapun langkah-langkah persiapan model pembelajaran Discovery Learning adalah:

a.       Menentukan tujuan pembelajaran

b.      Melakukan identifikasi karakteristik siswa yang meliputi kemampuan awal, minat, gaya belajar dan lain sebagainya.

c.       Melakukan pemilihan materi pelajaran

d.      Menentukan topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif

e.       Melakukan pengembangan bahan dalam pembelajaran yang meliputi contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk kemudian dipelajari oleh peserta didik.

f.        Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana menjadi topik pelajaran yang kompleks, yang semula konkret menjadi abstrak

g.      Melakukan penilaian proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

 

2.      Model Flipped Classroom

Model pembelajaran ini diberikan kepada peserta didik sebelum proses pembelajaran dan ketika sudah berlangsung kegiatan pembelajaran peserta didik diminta untuk fokus dalam melakukan diskusi materi atau permasalahan yang masih belum dipahami atau fokus mengerjakan tugas yang diberikan pendidik.

3.      Model Project Based Learning

Metode pembelajaran ini merupakan pembelajaran berbasis priyek dimana peserta didik diminta untuk menerapkan, mengerjakan dan menghasilkan sesuatu dalam pembelajaran. Sesuatu yang dihasilkan tersebut tentu dapat dilihat, dipelajari, diteliti dan ditiru oleh orang lain. Model pembelajaran ini dapat diimplementasikan oleh pendidik untuk melatih peserta didik agar mampu mencari solusi dan bekerjasama dalam mengerjakan sebuah proyek.

4.      Model blended learning

Pembelajaran hibrid merupakan proses pemerolehan pengetahuan dan keterampilan yang berpusat pada peserta didik dengan mengintegrasikan digital (internet dan mobile), dicetak, direkam dan kegiatan kelas tatap muka tradisional melalui metode yang terencana dengan memfasilitasi siswa untuk mengarahkan sendiri proses belajarnya dengan menentukan metode dan materi pembelajaran yang tersedia sesuai karakteristik dan kebutuhan individualnya. Model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh melalui media dan teknologi. Hal ini dapat melatih peserta didik untuk lebih mandiri dalam mengakses sumber atau referensi belajar serta mengembangkan skill dalam pemahaman teknologi.

5.      Model Self Organized Learning Environments/SOLE

Model pembelajaran ini fokus pada proses pembelajaran mandiri dengan pemanfaatan internet dan perangkat pintar peserta didik. Hal ini untuk melatih peserta didik dalam berpikir secara kreatif, kemampuan menyelesaikan masalah dan kemampuan dalam berkomunikasi.


Rabu, 11 Mei 2022

PENGEMBANGAN DAN INOVASI MATERI PEMBELAJARAN PAI

 

A.  Karakteristik Materi Pembelajaran PAI

Sebagai mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah baik yang umum maupun yang khusus, Pendidikan Agama Islam mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan pelajaran lainnya. Apabila diringkas adalah sebagai berikut :

a.      Pendidikan Islam merujuk pada aturan-aturan yang sudah pasti.

Pendidikan Agama Islam mengikuti aturan atau garis-garis yang sudah jelas dan pasti serta tidak dapat ditolak dan ditawar. Aturan itu adalah al-Quran dan al-Hadits.  Pendidikan pada umumnya bersifat netral, artinya pengetahuan itu diajarkan sebagai mana adanya dan terserh kepada manusia yang hendak mengarahkan pengetahuan itu. Ia hanya mengajarkan, tetapi tidak memberikan petunjuk kearah mana dan bagaimana memberlakukan pendidikan itu.

Pengajaran umum mengajarkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang bersifat relative, sehingga tidak bisa diramalkan ke arah mana pengetahuan keterampilan dan nilai itu digunakan, disertai dengan sikap yang tidak konsisten karena terperangkap oleh. perhitungan untung rugi, sedangkan Pendidikan Agama Islam memiliki arah dan tujuan yang jelas, tidak seperti pendidikan umum.

b.      Pendidikan Agama Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.

Pendidikan Agama Islam seperti diibaratkan mata uang yang mempunyai dua sisi, pertama; sisi keagamaan yang menjadi pokok dalam substansi ajaran yang akan dipelajari, kedua; sisi pengetahuan berisikan hal-hal yang mungkin umum dapat di indera dan diakali, berbentuk pengalaman factual maupun pengalaman pikir.

Sisi pertama lebih menekankan pada kehidupan dunia sedangkan sisi kedua lebih cenderung menekankan pada kehidupan akhirat namun, kedua sisi ini tidak dapat dipisahkan karena terdapat hubungan sebab akibat, oleh karena itu, kedua sisi ini selalu diperhatikan dalam setiap gerak dan usahanya, karena memang Pendidikan Agama Islam mengacu kepada kehidupan dunia dan akhirat.

c.       Pendidikan Agama Islam bermisikan pembentukan akhlakul karimah

Pendidikan Agama Islam selalu menekankan pada pembentukan akhlakul karimah, hati nurani .untuk selalu berbuat baik dan bersikap dalam kehidupan sesuai dengan norma-norma yang berlaku, tidak menyalahi aturan dan berpegang teguh pada dasar Agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

d.      Pendidikan Agama Islam diyakini sebagai dakwah atau misi suci

Pada umumnya, manusia khususnya kaum muslimin berkeyakinan bahwa penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari dakwah, oleh  karena itu mereka menganggapnya sebagai misi suci. Karena itu dengan menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam berarti pula menegakkan agama, yang tentunya bernilai suatu kebaikan di sisi Allah.

e.       Pendidikan Agama Islam bermotifkan ibadah

Sejalan dengan hal yang dijelaskan pada sebelumnya maka kiprah Pendidikan Agama Islam merupakan ibadah yang akan mendapatkan pahala dari Allah, dari segi mengajar, pekerjaan itu terpuji karena merupakan tugas yang mulia, disamping tugas itu sebagai amal jariah, yaitu amal yang terus berlangsung hingga yang bersangkutan meninggal dunia, dengan ketentuan ilmu yang diajarkan itu diamalkan oleh peserta didik ataupun ilmu itu diajarkan secara berantai kepada orang lain.[1]

 

B.       Bidang Bahasan Materi Pembelajaran PAI

Menurut Abdul Ghofur, Materi Pendidikan Islam adalah bahan-bahan Pendidikan Agama Islam yang berupa kegiatan, pengalaman dan pengetahuan yang disengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam[2]

Di dalam GBPP (Garis Besar Program Pengajaran)  Pendidikan Agama Islam (PAI) disekolah umum dijelaskan bahwa pendidikan Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan sisi dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhaikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam adalah  segala bentuk bahan/materi Ajar Pendidikan Islam  yang digunakan untuk membantu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar tentang Pendidikan Islam. Materi pokok pembelajaran PAI, antara lain :

1.     Aspek Al-Quran dan Hadits

Dalam aspek ini menjelaskan beberapa ayat dalam Alquran, menjelaskan beberapa hukum bacaannya yang terkait dengan ilmu tajwid dan menjelaskan beberapa hadist Nabi Muhammad Saw.

2.         Keimanan Dan Akidah Islam

Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar tentang kepercayaan,  dalam aspek ini menjelaskan berbagai konsep keimanan yang meliputi enam rukun iman dalam Islam.

3.      Aspek akhlak

Dalam aspek ini menjelaskan berbagai sifat- sifat terpuji (akhlak karimah) yang harus diikuti dan sifat- sifat tercela yang harus dijahui.

4.         Aspek Hukum Islam atau Syari’ah Islam

Dalam aspek ini menjelaskan berbagai konsep keagamaan yang terkait dengan masalah ibadah dan mu’amalah atau  hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran, sunnah, dan dalil-dalil syar'i yang lain

5.         Aspek tarikh Islam

Dalam aspek ini menjelaskan sejarah perkembangan atau peradaban Islam yang bisa diambil manfaatnya untuk diterapkan di masa sekarang[3]

 

C.    Dasar Filosofis Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Pengembangan kurikulum PAI sangat perlu dilakukan secara terus menerus untuk merespon perkembangan dan tuntutan tanpa harus menunggu adanya pergantian materi pendidikan agama. Masyarakat saat ini sudah memasuki era globalisasi baik dalam pendidikian maupun ilmu pengetahuan. Banyaknya masalah pendidikan harus segera diatasi tanpa harus menunggu keputusan dari atas (Anna Allaili, 2009: 96).

Dalam pengembangan kurikulum, Islam harus memiliki landasan yang kuat agar supaya nilai kurikulum memiliki nilai guna bagi masyarakat. Landasan kurikulum terdiri dari beberapa landasan, yaitu : landasan filosofi, sosial, budaya dan psikologi. Pendapat tersebut serupa dengan Abdul Majid dan Dian andayani yang dikemukakan oleh Murray Print mengatakan bahwa landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofi, sosial budaya, dan psikologi. Perkembangan ilmu dan teknologi menlengkapi landasan tersebut dengan landasan manajemen (Abdul Majid dan Dian andayani, 2004: 56-63).

Salah satu landasan yang termasuk dalam hal ini adalah Landasan filosofis. Secara umum, ruang lingkup filsafat adalah semua permasalahan kehidupan manusia, alam dan alam sekitarnya. Hal ini juga merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan meliputi, hakikat pendidikan, hakikat manusia, hubungan antara manusia, filsafat dan pendidikan, serta agama dan kebudayaan. Dengan demikian, ruang lingkup filsafat pendidikan adalah semua upaya manusia untuk memahami hakikat pendidikan (Zainal Arifin: 47-50).

Landasan ini sangat penting agar melihat suatu fenomena atau persoalan dengan sebenar-benarnya sehingga dapat menjadi penyelesaian secara bijak dan akurat. Beberapa pandangan filsafat umum telah mendasari aliran filsafat pendidikan yang bukan saja berpengaruh pada kurikulum, bahkan menentukan keputusan pendidikan, kurikulum dan pembelajaran. beberapa aliran filsafat utama pendidikan tersebut sebagai berikut:

1)      Perelianisme

Salah satu aliran klasik yang paling berakar dari aliran realisme. Filsafat ini termasuk filsafat tertua, Mohammad Ansyar menyatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional. Sedangkan pendidikan yang sesuai dengn filsafat ini ialah pengembangan intelektualitas manusia (Mohamad Ansyar, 2015: 78).

Menurut perelianisme, manusia dianugrahi kemampuan berpikir, pendidikan harus lebih fokus pada pengembangan k emampuan berpikir siswa. Pengembangan kemampuan berpikir dapat diperoleh melalui kelayakan intelektual rill klasik yang dimiliki oleh manusia (Mohamad Ansyar, 2015: 87).

Tujuan pendidikan perelianisme untuk memanusiakan siwa, dalam arti tradisonal yakni mengembangkan kemampuan rasional, agamis dan etika sehingga berkontribusi kedalam perubahan tingkah laku siswa melalui kemampuan intelektual. Oleh karena itu, implikasi ide perelianis terhadap kurikulum ialah mengabaikan potensi siswa bukan saja karena aliran ini menganggap bakat, melainkan siswa mempunyai kemampuan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Kaum realis tidak memberikan penghargaan khusus pada pemikiran manusia khususnya kaum idealis, karena pikiran itu hanya merupaka bagian integral dari manusia yang diciptakan untuk melakukan tugas khusus. Realis menekankan pada hubungan sebab akibat dalam dunia nyata yang berimplikasi bahwa realisme lebih realistis, yaitu fokus pada benda seperti apa adanya, bukan seperti apa seharusnya.

Implikasi realis pada pendidikan ialah mengajar anak memahami dan menyesuaikan diri dengan orde alam. Mereka harus mengajarkan cara-cara hidup yang harmonis dengan alam yang memperlihatkan gejala yang beragam dan guru harus mampu meengajar dan membimbing anak untuk memahami hakikat benda-benda dan hukum alam yang penuh dengan keteraturan.

Selain itu, kurikulum menurut kaum realis terdiri dari pengajaran fisika dan ilmu sosial yang menerangkan fenomena alam. Tekanan besar diberikan pada pengejaran sains dan matematika. Kaum realis mengutamakan pelajaran umum dan abstrak karena mata pelajaran tersebut terkait latihan maupun kemampuan berpikir logis atau berpikir rasional. Dengan kata lain, kaum realis menuntut guru menguasai konsep dasar mata pelajaran dan menyusunnya dalam unit-unit yang diajarkan serta pula pembelajaran yang dipahami oleh siwa untuk memenuhi kebutuhan siswa.

2)      Esensialisme

Aliran ini adalah aliran yang berakar pada realis dan idealis sebagai reaksi terhadap progresivisme. Jadi aliran ini merupakan salah satu pandangan filsafat yang paling tua dan sangat berperan dalam pendidikan. Aliran ini menginginkan agar pendidikan fokus pada mempertahankan peradaban manusia dengan mentrasfernya melalui pengembangan kemampuan intelektual, baik dalam proses maupun dalam konten pendidikan (Nur Faida: 172).

Oleh karena itu, aliran ini berpendapat bahwa ilmu itu sangat penting untuk pengembangan kemampuan siswa. Menurutnya pendidikan merupakan essential skill seperti membaca, menulis, dan berhitung serta keterampilan riset disekolah dasar. Kaum perelianis memandang pengajaran untuk mengembangkan kemampuan nalar anak, suatu hal yang benar sepanjang masa dan menghidupkan kekayaan cultural, kaum esensial menginginkan kemampuan intelektual anak diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan modern melalui disiplin akademik.

3)      Progresivisme

Aliran ini bermula sejak kehidupan politik Amerika pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Progresivisme dikembangkan berdasarkan filsafat pragmatis sebagai proses terhadap pendidikan tradisional. Pragmatis memandang manusia sebagai realita selalu berada dalam perubahan, pemulihan, dan penggunaan intelegensi yang kritis.

Menurut pragmatis, pembelajaran harus menumbuhkan meaningful learning experiences bagi siswa, memiliki pengalam yang bermakna, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui penglihatan, perabaan, dan perasaan. Dari pandangan ini muncullah sebuah ide bahwa pendidikan harus dilihat sebagai alat untuk menciptakan kembali, mengontrol, dan mengarahkan pengalaman untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu siswa dalam memecahkan masalah kehidupan, karena tugas guru yang professional adalah memberikan fasilitas untuk siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, siswa harus difasilitasi dan dimotivasi agar berkontruksi dengan realita yang ada. Kurikulum yang ada pada progresivisme lebih mengutamakan proses daripada produk, mata pelajaran menjadi alat daripada target kurikulum, dan siswa diberdayakan sebagai subjek pendidikan bagi dirinya daripada sebagai objek pengajaran bagi guru.

Kurikulum progresif bukan focus pada pengajaran, tetapi pada pembelajaran kegiatan dan kesempatan belajar kepada siswa untuk memperoleh pengalaman. Dengan demikian, siswa harus difasilitasi dan dimotivasi agar dapat mengkontruksi sendiri realita yang ada bermodalkan pengetahuan yang telah dipelajari selama ini. Implikasi kurikulum progresif lebih mengutamakan proses dari pada produk, menjadikan mata pelajaran sebagai alat daripada sebagai target kurikulum, dan siswa diberdayakan sebagai subjek pendidikan bagi dirinya sendiri. Kurikulum progresif berpusat pada siswa, berorientasi pada proses, mengutamakan pengalaman melalui kesempatan belajar relevan dengan tujuan.

4)      Rekontruksionisme

Filsafat rekontruksionisme berakar pada ide dan sosiologi dan merupakan pecahan dari progresifisme. Kelompok ini menginginkan agar sekolah lebih terarah pada pendidikan berbasis masyarakat yang peduli pada kebutuhan semua kelas sosial, bukan hanya mengembangkan kebutuhan diri sendiri.

Aliran ini menolak pendidikan untuk adaptasi siswa terhadap kebudayaan yang ada, para rekontruksionisme mengunggulkan pendidikan bagi perubahan sosial agar masyarakat lebih baik dari sebelumnya. Pemikiran progresifisme sama dengan rekontruksionisme menginginkan kurikulum sebagai instrument untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan agar siswa bisa melakukan rekontruksi sosial melalui mata pelajaran yang relevan, seperti sosiologi, ekonomi, antropologi, ilmu politik dan psikologi.[4]

 

D.    Tujuan Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Pengembangan  materi PAI memiliki tujuan terencana, yaitu:

1.        Mempersiapkan kegiatan pembelajaran dalam berbagai situasi supaya dapat berlangsung secara optimal

2.      Meningkatkan motivasi pengajar untuk mengelola kegiatan belajar mengajar

3.      Mempersiapkan kegiatan belajar mengajar dengan mengisi bahan-bahan yang  baru, ditampilkan dengan cara baru dan dilaksanakan dengan strategi pembelajaran yang baru pula.

4.      Memberikan pengetahuan baru untuk peserta didik maupun pendidik

Menurut Choirul inovasi pembelajaran bertujuan antara lain: pertama, mengaplikasikan model-model pembelajaran yang aktual terutama pembelajaran kontekstual, pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kedua, membekali siswa untuk belajar dalam dunia atau pengalamannya sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, membekali siswa untuk belajar aktif, kreatif dan menyenangkan serta dapat mengonstruk pemahaman mereka, membuat kesan mendalam tentang apan yang dipelajarinya serta meningkatkan motivasi belajar siswa baik din dalam maupun di luar sekolah. Keempat, mengetahui situasi dan kondisi secara mendalam di lapangan pembelajaran sehingga mengetahuin kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam membentuk watak mandiri, penalar dan pemikir, mengingatkan materi PAI banyak yang bersifat dogmatis atau normatif.[5]

Tujuan dari inovasi pembelajaran PAI adalah mengembangkan perencanaan pembelajaran PAI yang diantaranya adalah memilih dan menetapkan metode pembelajaran pendidikan agama yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.[6] Karena itu, tekanan utama dalam perencanaan pembelajaran adalah pada pemilihan, penetapan, dan pengembangan variabel metode pembelajaran pendidikan agama. Pemilihan metode pembelajarn pendidikan agama harus didasarkan pada analisis kondisi pembelajaran pendidikan agama yang ada, yang nantinya hasil analisis akan menunjukkan kondisi pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan. Setelah menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran pendidikan agama dalam kegiatan perencanaan pembelajaran akan diperoleh informasi yang lengkap mengenai kondisi riil yang ada dan hasil pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan.[7]

 

E.     Langkah-Langkah Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Seorang guru professional hendaklah menyusun materi  secara sistematis dan ideal.menurut Fatachana (2011 : 13) materi ajar yang ideal adalah materi yang dibuat melalui langkah-langkah kerja yang sistematis dan detail serta mengembangkannya.

Ø  Langkah cermat dalam pengembangan dan inovasi materi PAI,yaitu:

a.       Analisis Kompetensi Dan Kebutuhan

Proses ini dimulai dengan cara menganalisis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam silabus. Setelah menganalisis SK dan KD, maka dari sini perlu adanya identifikasi terkait apakah kompetensi yang sudah tercantum dalam silabus sesuai dengan kebutuhan siswa(Fatachana, 2011 : 13). Menurut Prastowo (2014: 153) Analisis adalah proses awal yang ditempuh untuk menyusun bahan ajar untuk menyesuaikan tututan kompetensi yang henda dicapai siswa

b.      Memilih Materi Pembelajaran

 Memilih materi ajar dapat berarti mengoleksi beragam materi dari buku yang dipublikasikan, kemudian guru memilih bahan ajar yang ada sesuai dengan tujuannya. Dalam memilih materi pelajaran harus disesuaikan dengan ranah kognitif, afektif, atau psikomotor. Karena ketiganya tentu mempunyai penekanan yang berbeda (Fatachana, 2011 : 13).

c.       Mengumpulkan bahan dari sumber yang relevan

Kemajuan pada bidang penelitian dan perkembangan informasi memberikan kesempatan bagi pendidik untuk memanfaatkan informasi (buku, internet, ensiklopeida, dll). Refrensi yang ada  dapat dikumpulkan dan dapat digunakan sesuai dengan keinginan dan tujuan pembelajaran.

d.  Menyusun materi sesuai dengan yang kongkret dan abstrak untuk memeprmudah siswa dalam memahami.

 e. Pemilihan dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar

Pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar dapat dilakukan denganmenggunakan pendekatan strategi, metode, serta teknik yang disesuaikan dengan tujuan dansifat materi yang akan diberikan. Sedangkan, pengalaman belajar siswa dapat diperoleh dari pengalaman belajar visual, audio, audio-visual, perabaan, dan pencuman. Jadi pengalaman belajar yang dipilih harus mencakup berbagai pengalaman yang menarik minat siswa sesuaidengan tujuan pembelajaran, tingkat perkembangan, dan merangsang siswa belajar aktif kreatif.

f.     Pengalaman Alat Evaluasi

Evalusai adalah mengukur apa yang hendak diukur, yaitu dengan menelaah kembaliapakah kegiatan yang telah dilakukan itu sesuai dengan tujuan yang ditetapkan atau belum.Penilaian sendidir merupakan kegiatan pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan,dan pembuatan keputusan. Mengevaluasi berarti memberi atau menilai apakah sesuatu itu bernilai atau tidak, sesuatu itu tercapai atau tidak, sesuatu itu berhasil atau tidak.

Evaluasi berfungsi memberikan informasi akurat dalam kemampuan akademik siswa. Maka, hasil evaluasi akan dimanfaatkan untuk mengadakan revisi atau perubahan total kurikulum menjadi suatu kurikulum yang baru lagi.

 

Ø  Pengembangan dan inovasi Materi. Menurut Komalasari  (dalam Anggraini, 2011: 9-10) materi yang dikembangkan harus memiliki karakteristik dalam pemilihan  fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang harus diajarkan kepada siswa hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:

a.       Keterkaitan dengan konteks lingkungan

b.      Keterkaitan dengan materi pelajaran lain secara terpadu.

Materi lain dalam satu pelajaran dan dengan pelajaran lain sering kali berkaitan  dengan menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu. Salah satu dintaranya adalah dengan memadukan Kompetensi Dasar.  Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya.

c.       Memberikan pengalaman langsung melalui kegiatan inquiry. Materi yang ada dikembangkan sendiri oleh siswa melalui pengalaman langsung dan kegiatan penemuan (inquiry).

d.      Mengembangkan kemampuan kooperatif sekaligus kemandirian. Materi dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa  melalui kerja sama dan mengatur diri sendiri.

e.       Mengembangkan kemampuan melakukan refleksi. Materi yang dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa dalam melakukan refleksi berupa kemampuan umpan balik terhadap penguasaan dirinya terhadap fakta, konsep, prinsip, dan prosedur dikembangkannya materi dan refleksi terhadap penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Dengan demikian pengembangan materi dalam pembelajaran kontekstual pada hakikatnya sangat memperhatikan kedekatan lingkungan siswa dan kebermaknaan materi pembelajaran bagi kehidupan siswa

F.       Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Materi PAI dalam Pembelajaran Era Society 5.0

Society 5.0 merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berbasis modern yang memanfaatkan teknologi internet of things seperti kecerdasan buatan (AI), komputerisasi, juga industry robot. Berikut merupakan contoh pengembangandan inovasi materi yang berkembang sejak kini di indonesia. Diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu

1)        Pengembangan Materi Akidah Akhlak Berbasis Aplikasi Quiper School.

            Pengembangan materi ajar akidah akhlak berbasis quipper school merupakan pembelajaran yang berbasis qupper school, yang efektif untuk pembelajaran mata pembelajaran pendidikan agama Islam materi yang dikembangkan memiliki karakteristik sebagai berikut: bersifat online, dan mencakup berbagai komponen media yaitu teks, gambar, suara dan video, yang diimput melalui aplikasi quipper school, ditinjau dari aspek pembelajaran, materi, dan media, dan jumlah presentasi siswa yang mencapai ketuntasan belajar setelah menggunakan media pembelajaran

 

 

 

 

 

 

Gambar diatas merupakan salah satu pengembangan materi Quipper School berbasis teks sesuai relevan penelitian, materi dikembangkan, dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu analisis, desains dll. Tahap analisis meliputi analisis tujuan pembuatan bentuk pembuatan . Tahap desains meliputi tata cara menginput materi teks pdf/powerpint, materi berbentuk video pembelajaran.

 Salah satu kontribusi pengembangan materi PAI berbasis Quipper School dapat berkolaborasi dengan teknonogi informasi dan komonikasi dalam pembelajaran adalah tantangan tersendiri bagi dunia Pendidikan Islam, terkhusus pembelajaran berbasis online. Salah satu fungsi pembelajaran online Quipper School adalah siswa belajar tidak mengenal waktu dan tempat.  Sekedar contoh adalah jika peserta didik berhalangan untuk datang ke sekolah maka pihak sekolah cukup mengirimkan pesan berupa tugas kepada siswa melalui aplikasi Quipper Shool.

Contoh bukti dalam studi literatur pengembangan ini pernah diterapkan oleh

Madrasah Aliyah Negeri 1 kota Bitung dalam cakupan artikel Wadan

2)  Visual Based Learning. Pengembangan materi ajar dengan Konten pengetahuan, dikuatkan menggunakan bentuk-bentuk visual media berbasis teknologi informasi berupa video, grafik, simbol, kata kunci. Pemanfaatan produk diseminasi pengetahuan melalui berrbagai media teknologi dengan inovasi bahan ajar offliene dan online menjadi pelengkap sumber belajar eksternal



[1]https://andybudicahyono.blogspot.com/2018/06/makalah-ruang-lingkup-dan-karakteristik.html

 

[2] Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Offset Priting, 1981), h. 57.

[3] Depdiknas, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasih Kompetensi Sekolah Menengah Pertama

[4] Akmal & Reni, Jurnal Inovasi Pengembangan Kurikulum PAI, Tadrib, Vol. IV, No.1, Juni 2018

[5] Choirul Fuad Yusuf, Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam…, h. 34

[6] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989, h. 195.

[7] Noer Rohmah, Inovasi STRATEGI PEMBELAJARAN PAI DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN PAI, Madrasah, Vol. 6, No. 2, Januari-Juni 2014

Pengembangan Dan Inovasi Ekstrakulikuler PAI

 1. Karakteristik ekstrakulikule PAI - Individual, yakni dikembangkan sesuai dengan potensi/bakat peserta didik masing-masing. - Pilih...