A.
Karakteristik
Materi Pembelajaran PAI
Sebagai
mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah baik yang umum maupun yang
khusus, Pendidikan Agama Islam mempunyai karakteristik yang membedakannya
dengan pelajaran lainnya. Apabila diringkas adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan Islam merujuk pada aturan-aturan yang
sudah pasti.
Pendidikan
Agama Islam mengikuti aturan atau garis-garis yang sudah jelas dan pasti serta
tidak dapat ditolak dan ditawar. Aturan itu adalah al-Quran dan al-Hadits. Pendidikan pada umumnya bersifat netral,
artinya pengetahuan itu diajarkan sebagai mana adanya dan terserh kepada
manusia yang hendak mengarahkan pengetahuan itu. Ia hanya mengajarkan, tetapi
tidak memberikan petunjuk kearah mana dan bagaimana memberlakukan pendidikan
itu.
Pengajaran
umum mengajarkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang bersifat
relative, sehingga tidak bisa diramalkan ke arah mana pengetahuan keterampilan
dan nilai itu digunakan, disertai dengan sikap yang tidak konsisten karena
terperangkap oleh. perhitungan untung rugi, sedangkan Pendidikan Agama Islam
memiliki arah dan tujuan yang jelas, tidak seperti pendidikan umum.
b. Pendidikan Agama Islam selalu mempertimbangkan dua
sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.
Pendidikan
Agama Islam seperti diibaratkan mata uang yang mempunyai dua sisi, pertama;
sisi keagamaan yang menjadi pokok dalam substansi ajaran yang akan dipelajari,
kedua; sisi pengetahuan berisikan hal-hal yang mungkin umum dapat di indera dan
diakali, berbentuk pengalaman factual maupun pengalaman pikir.
Sisi
pertama lebih menekankan pada kehidupan dunia sedangkan sisi kedua lebih
cenderung menekankan pada kehidupan akhirat namun, kedua sisi ini tidak dapat
dipisahkan karena terdapat hubungan sebab akibat, oleh karena itu, kedua sisi
ini selalu diperhatikan dalam setiap gerak dan usahanya, karena memang
Pendidikan Agama Islam mengacu kepada kehidupan dunia dan akhirat.
c. Pendidikan Agama Islam bermisikan pembentukan
akhlakul karimah
Pendidikan
Agama Islam selalu menekankan pada pembentukan akhlakul karimah, hati nurani
.untuk selalu berbuat baik dan bersikap dalam kehidupan sesuai dengan
norma-norma yang berlaku, tidak menyalahi aturan dan berpegang teguh pada dasar
Agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
d. Pendidikan Agama Islam diyakini sebagai dakwah atau
misi suci
Pada
umumnya, manusia khususnya kaum muslimin berkeyakinan bahwa penyelenggaraan
Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari dakwah, oleh karena itu mereka menganggapnya sebagai misi
suci. Karena itu dengan menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam berarti pula
menegakkan agama, yang tentunya bernilai suatu kebaikan di sisi Allah.
e. Pendidikan Agama Islam bermotifkan ibadah
Sejalan dengan hal yang dijelaskan pada sebelumnya
maka kiprah Pendidikan Agama Islam merupakan ibadah yang akan mendapatkan
pahala dari Allah, dari segi mengajar, pekerjaan itu terpuji karena merupakan
tugas yang mulia, disamping tugas itu sebagai amal jariah, yaitu amal yang
terus berlangsung hingga yang bersangkutan meninggal dunia, dengan ketentuan
ilmu yang diajarkan itu diamalkan oleh peserta didik ataupun ilmu itu diajarkan
secara berantai kepada orang lain.[1]
B.
Bidang
Bahasan Materi Pembelajaran PAI
Menurut
Abdul Ghofur, Materi Pendidikan Islam adalah bahan-bahan Pendidikan Agama Islam yang berupa
kegiatan, pengalaman dan pengetahuan yang disengaja dan sistematis diberikan
kepada anak didik dalam rangka mencapai
tujuan Pendidikan Agama
Islam[2]
Di
dalam GBPP (Garis Besar Program Pengajaran)
Pendidikan Agama Islam (PAI) disekolah umum dijelaskan bahwa pendidikan
Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan sisi dalam meyakini, memahami,
menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,
dan atau latihan dengan memperhaikan tuntutan untuk menghormati agama lain
dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan
persatuan nasional.
Dari
pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Bahan Ajar Pendidikan Agama
Islam adalah segala bentuk bahan/materi
Ajar Pendidikan Islam yang digunakan
untuk membantu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) atau instruktur dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar tentang Pendidikan Islam. Materi pokok pembelajaran PAI,
antara lain :
1.
Aspek Al-Quran dan
Hadits
Dalam aspek ini menjelaskan beberapa ayat
dalam Alquran, menjelaskan beberapa hukum bacaannya yang terkait dengan ilmu
tajwid dan menjelaskan beberapa hadist Nabi Muhammad Saw.
2.
Keimanan Dan Akidah Islam
Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar
tentang kepercayaan, dalam aspek ini
menjelaskan berbagai konsep keimanan yang meliputi enam rukun iman dalam Islam.
3.
Aspek akhlak
Dalam aspek ini menjelaskan berbagai sifat- sifat terpuji
(akhlak karimah) yang harus diikuti dan sifat- sifat tercela yang harus
dijahui.
4.
Aspek
Hukum Islam atau
Syari’ah Islam
Dalam aspek ini menjelaskan berbagai konsep
keagamaan yang terkait dengan masalah ibadah dan
mu’amalah atau hukum Islam yang
bersumber pada Al-Quran, sunnah, dan dalil-dalil syar'i yang lain
5.
Aspek tarikh Islam
Dalam aspek ini menjelaskan sejarah perkembangan atau
peradaban Islam yang bisa diambil manfaatnya untuk diterapkan di masa sekarang[3]
C.
Dasar
Filosofis Pengembangan dan Inovasi Materi PAI
Pengembangan kurikulum PAI sangat perlu
dilakukan secara terus menerus untuk merespon perkembangan dan tuntutan tanpa
harus menunggu adanya pergantian materi pendidikan agama. Masyarakat saat ini
sudah memasuki era globalisasi baik dalam pendidikian maupun ilmu pengetahuan.
Banyaknya masalah pendidikan harus segera diatasi tanpa harus menunggu
keputusan dari atas (Anna Allaili, 2009: 96).
Dalam pengembangan kurikulum, Islam harus
memiliki landasan yang kuat agar supaya nilai kurikulum memiliki nilai guna bagi
masyarakat. Landasan kurikulum terdiri dari beberapa landasan, yaitu : landasan
filosofi, sosial, budaya dan psikologi. Pendapat tersebut serupa dengan Abdul
Majid dan Dian andayani yang dikemukakan oleh Murray Print mengatakan bahwa
landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofi, sosial budaya, dan
psikologi. Perkembangan ilmu dan teknologi menlengkapi landasan tersebut dengan
landasan manajemen (Abdul Majid dan Dian andayani, 2004: 56-63).
Salah satu landasan yang termasuk dalam hal
ini adalah Landasan filosofis. Secara umum, ruang lingkup filsafat adalah semua
permasalahan kehidupan manusia, alam dan alam sekitarnya. Hal ini juga
merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan meliputi, hakikat pendidikan,
hakikat manusia, hubungan antara manusia, filsafat dan pendidikan, serta agama
dan kebudayaan. Dengan demikian, ruang lingkup filsafat pendidikan adalah semua
upaya manusia untuk memahami hakikat pendidikan (Zainal Arifin: 47-50).
Landasan ini sangat penting agar melihat
suatu fenomena atau persoalan dengan sebenar-benarnya sehingga dapat menjadi
penyelesaian secara bijak dan akurat. Beberapa pandangan filsafat umum telah
mendasari aliran filsafat pendidikan yang bukan saja berpengaruh pada
kurikulum, bahkan menentukan keputusan pendidikan, kurikulum dan pembelajaran.
beberapa aliran filsafat utama pendidikan tersebut sebagai berikut:
1)
Perelianisme
Salah satu aliran klasik yang paling berakar
dari aliran realisme. Filsafat ini termasuk filsafat tertua, Mohammad Ansyar
menyatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional. Sedangkan pendidikan yang
sesuai dengn filsafat ini ialah pengembangan intelektualitas manusia (Mohamad
Ansyar, 2015: 78).
Menurut perelianisme, manusia dianugrahi
kemampuan berpikir, pendidikan harus lebih fokus pada pengembangan k emampuan
berpikir siswa. Pengembangan kemampuan berpikir dapat diperoleh melalui
kelayakan intelektual rill klasik yang dimiliki oleh manusia (Mohamad Ansyar,
2015: 87).
Tujuan pendidikan perelianisme untuk
memanusiakan siwa, dalam arti tradisonal yakni mengembangkan kemampuan
rasional, agamis dan etika sehingga berkontribusi kedalam perubahan tingkah
laku siswa melalui kemampuan intelektual. Oleh karena itu, implikasi ide
perelianis terhadap kurikulum ialah mengabaikan potensi siswa bukan saja karena
aliran ini menganggap bakat, melainkan siswa mempunyai kemampuan untuk
mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
Kaum realis tidak memberikan penghargaan
khusus pada pemikiran manusia khususnya kaum idealis, karena pikiran itu hanya
merupaka bagian integral dari manusia yang diciptakan untuk melakukan tugas
khusus. Realis menekankan pada hubungan sebab akibat dalam dunia nyata yang
berimplikasi bahwa realisme lebih realistis, yaitu fokus pada benda seperti apa
adanya, bukan seperti apa seharusnya.
Implikasi realis pada pendidikan ialah
mengajar anak memahami dan menyesuaikan diri dengan orde alam. Mereka harus
mengajarkan cara-cara hidup yang harmonis dengan alam yang memperlihatkan
gejala yang beragam dan guru harus mampu meengajar dan membimbing anak untuk
memahami hakikat benda-benda dan hukum alam yang penuh dengan keteraturan.
Selain itu, kurikulum menurut kaum realis
terdiri dari pengajaran fisika dan ilmu sosial yang menerangkan fenomena alam.
Tekanan besar diberikan pada pengejaran sains dan matematika. Kaum realis
mengutamakan pelajaran umum dan abstrak karena mata pelajaran tersebut terkait
latihan maupun kemampuan berpikir logis atau berpikir rasional. Dengan kata
lain, kaum realis menuntut guru menguasai konsep dasar mata pelajaran dan
menyusunnya dalam unit-unit yang diajarkan serta pula pembelajaran yang
dipahami oleh siwa untuk memenuhi kebutuhan siswa.
2)
Esensialisme
Aliran ini adalah aliran yang berakar pada
realis dan idealis sebagai reaksi terhadap progresivisme. Jadi aliran ini
merupakan salah satu pandangan filsafat yang paling tua dan sangat berperan
dalam pendidikan. Aliran ini menginginkan agar pendidikan fokus pada
mempertahankan peradaban manusia dengan mentrasfernya melalui pengembangan
kemampuan intelektual, baik dalam proses maupun dalam konten pendidikan (Nur
Faida: 172).
Oleh karena itu, aliran ini berpendapat
bahwa ilmu itu sangat penting untuk pengembangan kemampuan siswa. Menurutnya
pendidikan merupakan essential skill seperti membaca, menulis, dan
berhitung serta keterampilan riset disekolah dasar. Kaum perelianis memandang
pengajaran untuk mengembangkan kemampuan nalar anak, suatu hal yang benar
sepanjang masa dan menghidupkan kekayaan cultural, kaum esensial menginginkan
kemampuan intelektual anak diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan modern melalui
disiplin akademik.
3)
Progresivisme
Aliran ini bermula sejak kehidupan politik
Amerika pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Progresivisme dikembangkan
berdasarkan filsafat pragmatis sebagai proses terhadap pendidikan tradisional.
Pragmatis memandang manusia sebagai realita selalu berada dalam perubahan,
pemulihan, dan penggunaan intelegensi yang kritis.
Menurut pragmatis, pembelajaran harus
menumbuhkan meaningful learning experiences bagi siswa, memiliki
pengalam yang bermakna, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui penglihatan,
perabaan, dan perasaan. Dari pandangan ini muncullah sebuah ide bahwa
pendidikan harus dilihat sebagai alat untuk menciptakan kembali, mengontrol,
dan mengarahkan pengalaman untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu
siswa dalam memecahkan masalah kehidupan, karena tugas guru yang professional
adalah memberikan fasilitas untuk siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu,
siswa harus difasilitasi dan dimotivasi agar berkontruksi dengan realita yang
ada. Kurikulum yang ada pada progresivisme lebih mengutamakan proses daripada
produk, mata pelajaran menjadi alat daripada target kurikulum, dan siswa
diberdayakan sebagai subjek pendidikan bagi dirinya daripada sebagai objek
pengajaran bagi guru.
Kurikulum progresif bukan focus pada
pengajaran, tetapi pada pembelajaran kegiatan dan kesempatan belajar kepada
siswa untuk memperoleh pengalaman. Dengan demikian, siswa harus difasilitasi
dan dimotivasi agar dapat mengkontruksi sendiri realita yang ada bermodalkan
pengetahuan yang telah dipelajari selama ini. Implikasi kurikulum progresif
lebih mengutamakan proses dari pada produk, menjadikan mata pelajaran sebagai
alat daripada sebagai target kurikulum, dan siswa diberdayakan sebagai subjek
pendidikan bagi dirinya sendiri. Kurikulum progresif berpusat pada siswa,
berorientasi pada proses, mengutamakan pengalaman melalui kesempatan belajar
relevan dengan tujuan.
4)
Rekontruksionisme
Filsafat rekontruksionisme berakar pada ide
dan sosiologi dan merupakan pecahan dari progresifisme. Kelompok ini menginginkan
agar sekolah lebih terarah pada pendidikan berbasis masyarakat yang peduli pada
kebutuhan semua kelas sosial, bukan hanya mengembangkan kebutuhan diri sendiri.
Aliran ini menolak pendidikan untuk adaptasi
siswa terhadap kebudayaan yang ada, para rekontruksionisme mengunggulkan pendidikan bagi
perubahan sosial agar masyarakat lebih baik dari sebelumnya. Pemikiran
progresifisme sama dengan rekontruksionisme menginginkan kurikulum sebagai
instrument untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan agar siswa
bisa melakukan rekontruksi sosial melalui mata pelajaran yang relevan, seperti
sosiologi, ekonomi, antropologi, ilmu politik dan psikologi.[4]
D.
Tujuan
Pengembangan dan Inovasi Materi PAI
Pengembangan materi PAI memiliki tujuan terencana, yaitu:
1.
Mempersiapkan kegiatan pembelajaran
dalam berbagai situasi supaya dapat berlangsung secara optimal
2.
Meningkatkan motivasi pengajar untuk mengelola kegiatan belajar mengajar
3.
Mempersiapkan kegiatan belajar mengajar dengan mengisi bahan-bahan yang baru, ditampilkan dengan cara baru dan
dilaksanakan dengan strategi pembelajaran yang baru pula.
4.
Memberikan pengetahuan baru untuk peserta didik maupun pendidik
Menurut
Choirul inovasi pembelajaran bertujuan antara lain: pertama, mengaplikasikan
model-model pembelajaran yang aktual terutama pembelajaran kontekstual, pada
mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kedua, membekali siswa untuk belajar
dalam dunia atau pengalamannya sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan
siswa dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, membekali siswa untuk belajar aktif,
kreatif dan menyenangkan serta dapat mengonstruk pemahaman mereka, membuat
kesan mendalam tentang apan yang dipelajarinya serta meningkatkan motivasi
belajar siswa baik din dalam maupun di luar sekolah. Keempat, mengetahui situasi
dan kondisi secara mendalam di lapangan pembelajaran sehingga mengetahuin
kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam membentuk watak mandiri, penalar
dan pemikir, mengingatkan materi PAI banyak yang bersifat dogmatis atau
normatif.[5]
Tujuan
dari inovasi pembelajaran PAI adalah mengembangkan perencanaan pembelajaran PAI
yang diantaranya adalah memilih dan menetapkan metode pembelajaran pendidikan
agama yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.[6] Karena
itu, tekanan utama dalam perencanaan pembelajaran adalah pada pemilihan,
penetapan, dan pengembangan variabel metode pembelajaran pendidikan agama.
Pemilihan metode pembelajarn pendidikan agama harus didasarkan pada analisis
kondisi pembelajaran pendidikan agama yang ada, yang nantinya hasil analisis
akan menunjukkan kondisi pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan. Setelah
menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran pendidikan agama dalam
kegiatan perencanaan pembelajaran akan diperoleh informasi yang lengkap
mengenai kondisi riil yang ada dan hasil pembelajaran pendidikan agama yang
diharapkan.[7]
E.
Langkah-Langkah
Pengembangan dan Inovasi Materi PAI
Seorang guru professional hendaklah menyusun
materi secara sistematis dan
ideal.menurut Fatachana (2011 : 13) materi ajar yang ideal adalah materi yang
dibuat melalui langkah-langkah kerja yang sistematis dan detail serta
mengembangkannya.
Ø Langkah cermat dalam pengembangan dan inovasi
materi PAI,yaitu:
a.
Analisis Kompetensi Dan Kebutuhan
Proses ini dimulai dengan cara menganalisis
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam silabus. Setelah
menganalisis SK dan KD, maka dari sini perlu adanya identifikasi terkait apakah
kompetensi yang sudah tercantum dalam silabus sesuai dengan kebutuhan
siswa(Fatachana, 2011 : 13). Menurut Prastowo (2014: 153) Analisis adalah
proses awal yang ditempuh untuk menyusun bahan ajar untuk menyesuaikan tututan
kompetensi yang henda dicapai siswa
b.
Memilih Materi Pembelajaran
Memilih
materi ajar dapat berarti mengoleksi beragam materi dari buku yang
dipublikasikan, kemudian guru memilih bahan ajar yang ada sesuai dengan tujuannya.
Dalam memilih materi pelajaran harus disesuaikan dengan ranah kognitif,
afektif, atau psikomotor. Karena ketiganya tentu mempunyai penekanan yang
berbeda (Fatachana, 2011 : 13).
c.
Mengumpulkan bahan dari sumber yang relevan
Kemajuan pada bidang penelitian dan
perkembangan informasi memberikan kesempatan bagi pendidik untuk memanfaatkan
informasi (buku, internet, ensiklopeida, dll). Refrensi yang ada
dapat dikumpulkan dan dapat digunakan sesuai dengan keinginan dan tujuan
pembelajaran.
d. Menyusun materi sesuai dengan yang kongkret
dan abstrak untuk memeprmudah siswa dalam memahami.
e. Pemilihan
dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar
Pemilihan dan pengorganisasian pengalaman
belajar dapat dilakukan denganmenggunakan pendekatan strategi, metode, serta
teknik yang disesuaikan dengan tujuan dansifat materi yang akan diberikan.
Sedangkan, pengalaman belajar siswa dapat diperoleh dari pengalaman belajar
visual, audio, audio-visual, perabaan, dan pencuman. Jadi pengalaman belajar
yang dipilih harus mencakup berbagai pengalaman yang menarik minat siswa
sesuaidengan tujuan pembelajaran, tingkat perkembangan, dan merangsang siswa
belajar aktif kreatif.
f. Pengalaman Alat Evaluasi
Evalusai adalah mengukur apa yang hendak
diukur, yaitu dengan menelaah kembaliapakah kegiatan yang telah dilakukan itu
sesuai dengan tujuan yang ditetapkan atau belum.Penilaian sendidir merupakan
kegiatan pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan,dan pembuatan keputusan.
Mengevaluasi berarti memberi atau menilai apakah sesuatu itu bernilai atau
tidak, sesuatu itu tercapai atau tidak, sesuatu itu berhasil atau tidak.
Evaluasi berfungsi memberikan informasi akurat
dalam kemampuan akademik siswa. Maka, hasil evaluasi akan dimanfaatkan untuk
mengadakan revisi atau perubahan total kurikulum menjadi suatu kurikulum yang
baru lagi.
Ø Pengembangan dan inovasi Materi. Menurut
Komalasari (dalam Anggraini, 2011: 9-10)
materi yang dikembangkan harus memiliki karakteristik dalam pemilihan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang
harus diajarkan kepada siswa hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:
a.
Keterkaitan dengan konteks lingkungan
b.
Keterkaitan dengan materi pelajaran lain secara terpadu.
Materi lain dalam satu pelajaran dan dengan
pelajaran lain sering kali berkaitan
dengan menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu. Salah satu
dintaranya adalah dengan memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik
dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk
menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang
dipelajarinya.
c.
Memberikan pengalaman langsung melalui kegiatan inquiry.
Materi yang ada dikembangkan sendiri oleh siswa melalui pengalaman langsung dan
kegiatan penemuan (inquiry).
d.
Mengembangkan kemampuan kooperatif sekaligus kemandirian.
Materi dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa
melalui kerja sama dan mengatur diri sendiri.
e.
Mengembangkan kemampuan melakukan refleksi. Materi yang
dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa dalam melakukan refleksi berupa
kemampuan umpan balik terhadap penguasaan dirinya terhadap fakta, konsep, prinsip,
dan prosedur dikembangkannya materi dan refleksi terhadap penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari
Dengan demikian pengembangan materi dalam
pembelajaran kontekstual pada hakikatnya sangat memperhatikan kedekatan
lingkungan siswa dan kebermaknaan materi pembelajaran bagi kehidupan siswa
F.
Contoh-Contoh
Hasil Pengembangan dan Inovasi Materi PAI dalam Pembelajaran Era
Society 5.0
Society 5.0 merupakan sebuah ilmu
pengetahuan yang berbasis modern yang memanfaatkan teknologi internet of things
seperti kecerdasan buatan (AI), komputerisasi, juga industry robot. Berikut merupakan contoh pengembangandan inovasi materi yang berkembang sejak kini di indonesia. Diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu
1)
Pengembangan Materi Akidah Akhlak
Berbasis Aplikasi Quiper School.
Pengembangan materi ajar akidah
akhlak berbasis quipper school merupakan pembelajaran yang berbasis qupper
school, yang efektif untuk pembelajaran mata pembelajaran pendidikan agama
Islam materi yang dikembangkan memiliki karakteristik sebagai berikut: bersifat
online, dan mencakup berbagai komponen media yaitu teks, gambar, suara dan
video, yang diimput melalui aplikasi quipper school, ditinjau dari aspek pembelajaran,
materi, dan media, dan jumlah presentasi siswa yang mencapai ketuntasan belajar
setelah menggunakan media pembelajaran

Gambar diatas merupakan salah satu pengembangan materi Quipper School
berbasis teks sesuai relevan penelitian, materi dikembangkan, dilaksanakan
melalui lima tahapan, yaitu analisis, desains dll. Tahap analisis meliputi
analisis tujuan pembuatan bentuk pembuatan . Tahap desains meliputi tata cara
menginput materi teks pdf/powerpint, materi berbentuk video pembelajaran.
Salah satu kontribusi pengembangan materi PAI
berbasis Quipper School dapat berkolaborasi dengan teknonogi informasi dan
komonikasi dalam pembelajaran adalah tantangan tersendiri bagi dunia Pendidikan
Islam, terkhusus pembelajaran berbasis online. Salah satu fungsi pembelajaran
online Quipper School adalah siswa belajar tidak mengenal waktu dan
tempat. Sekedar contoh adalah jika
peserta didik berhalangan untuk datang ke sekolah maka pihak sekolah cukup
mengirimkan pesan berupa tugas kepada siswa melalui aplikasi Quipper Shool.
Contoh bukti dalam studi literatur pengembangan
ini pernah diterapkan oleh
Madrasah Aliyah Negeri 1 kota Bitung dalam
cakupan artikel Wadan
2) Visual
Based Learning. Pengembangan materi ajar dengan Konten pengetahuan, dikuatkan menggunakan
bentuk-bentuk visual media berbasis teknologi informasi berupa video, grafik,
simbol, kata kunci. Pemanfaatan produk diseminasi pengetahuan melalui berrbagai
media teknologi dengan inovasi bahan ajar offliene dan online menjadi pelengkap
sumber belajar eksternal
[1]https://andybudicahyono.blogspot.com/2018/06/makalah-ruang-lingkup-dan-karakteristik.html
[2] Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Offset
Priting, 1981), h. 57.
[3] Depdiknas, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasih Kompetensi
Sekolah Menengah Pertama
[4] Akmal &
Reni, Jurnal Inovasi Pengembangan Kurikulum PAI, Tadrib, Vol. IV, No.1, Juni 2018
[5] Choirul Fuad
Yusuf, Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam…, h. 34
[6] Muhaimin,
Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989, h. 195.
[7] Noer Rohmah,
Inovasi STRATEGI PEMBELAJARAN PAI DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN PAI, Madrasah,
Vol. 6, No. 2, Januari-Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar