Rabu, 11 Mei 2022

PENGEMBANGAN DAN INOVASI MATERI PEMBELAJARAN PAI

 

A.  Karakteristik Materi Pembelajaran PAI

Sebagai mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah baik yang umum maupun yang khusus, Pendidikan Agama Islam mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan pelajaran lainnya. Apabila diringkas adalah sebagai berikut :

a.      Pendidikan Islam merujuk pada aturan-aturan yang sudah pasti.

Pendidikan Agama Islam mengikuti aturan atau garis-garis yang sudah jelas dan pasti serta tidak dapat ditolak dan ditawar. Aturan itu adalah al-Quran dan al-Hadits.  Pendidikan pada umumnya bersifat netral, artinya pengetahuan itu diajarkan sebagai mana adanya dan terserh kepada manusia yang hendak mengarahkan pengetahuan itu. Ia hanya mengajarkan, tetapi tidak memberikan petunjuk kearah mana dan bagaimana memberlakukan pendidikan itu.

Pengajaran umum mengajarkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang bersifat relative, sehingga tidak bisa diramalkan ke arah mana pengetahuan keterampilan dan nilai itu digunakan, disertai dengan sikap yang tidak konsisten karena terperangkap oleh. perhitungan untung rugi, sedangkan Pendidikan Agama Islam memiliki arah dan tujuan yang jelas, tidak seperti pendidikan umum.

b.      Pendidikan Agama Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.

Pendidikan Agama Islam seperti diibaratkan mata uang yang mempunyai dua sisi, pertama; sisi keagamaan yang menjadi pokok dalam substansi ajaran yang akan dipelajari, kedua; sisi pengetahuan berisikan hal-hal yang mungkin umum dapat di indera dan diakali, berbentuk pengalaman factual maupun pengalaman pikir.

Sisi pertama lebih menekankan pada kehidupan dunia sedangkan sisi kedua lebih cenderung menekankan pada kehidupan akhirat namun, kedua sisi ini tidak dapat dipisahkan karena terdapat hubungan sebab akibat, oleh karena itu, kedua sisi ini selalu diperhatikan dalam setiap gerak dan usahanya, karena memang Pendidikan Agama Islam mengacu kepada kehidupan dunia dan akhirat.

c.       Pendidikan Agama Islam bermisikan pembentukan akhlakul karimah

Pendidikan Agama Islam selalu menekankan pada pembentukan akhlakul karimah, hati nurani .untuk selalu berbuat baik dan bersikap dalam kehidupan sesuai dengan norma-norma yang berlaku, tidak menyalahi aturan dan berpegang teguh pada dasar Agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

d.      Pendidikan Agama Islam diyakini sebagai dakwah atau misi suci

Pada umumnya, manusia khususnya kaum muslimin berkeyakinan bahwa penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari dakwah, oleh  karena itu mereka menganggapnya sebagai misi suci. Karena itu dengan menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam berarti pula menegakkan agama, yang tentunya bernilai suatu kebaikan di sisi Allah.

e.       Pendidikan Agama Islam bermotifkan ibadah

Sejalan dengan hal yang dijelaskan pada sebelumnya maka kiprah Pendidikan Agama Islam merupakan ibadah yang akan mendapatkan pahala dari Allah, dari segi mengajar, pekerjaan itu terpuji karena merupakan tugas yang mulia, disamping tugas itu sebagai amal jariah, yaitu amal yang terus berlangsung hingga yang bersangkutan meninggal dunia, dengan ketentuan ilmu yang diajarkan itu diamalkan oleh peserta didik ataupun ilmu itu diajarkan secara berantai kepada orang lain.[1]

 

B.       Bidang Bahasan Materi Pembelajaran PAI

Menurut Abdul Ghofur, Materi Pendidikan Islam adalah bahan-bahan Pendidikan Agama Islam yang berupa kegiatan, pengalaman dan pengetahuan yang disengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam[2]

Di dalam GBPP (Garis Besar Program Pengajaran)  Pendidikan Agama Islam (PAI) disekolah umum dijelaskan bahwa pendidikan Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan sisi dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhaikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam adalah  segala bentuk bahan/materi Ajar Pendidikan Islam  yang digunakan untuk membantu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar tentang Pendidikan Islam. Materi pokok pembelajaran PAI, antara lain :

1.     Aspek Al-Quran dan Hadits

Dalam aspek ini menjelaskan beberapa ayat dalam Alquran, menjelaskan beberapa hukum bacaannya yang terkait dengan ilmu tajwid dan menjelaskan beberapa hadist Nabi Muhammad Saw.

2.         Keimanan Dan Akidah Islam

Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar tentang kepercayaan,  dalam aspek ini menjelaskan berbagai konsep keimanan yang meliputi enam rukun iman dalam Islam.

3.      Aspek akhlak

Dalam aspek ini menjelaskan berbagai sifat- sifat terpuji (akhlak karimah) yang harus diikuti dan sifat- sifat tercela yang harus dijahui.

4.         Aspek Hukum Islam atau Syari’ah Islam

Dalam aspek ini menjelaskan berbagai konsep keagamaan yang terkait dengan masalah ibadah dan mu’amalah atau  hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran, sunnah, dan dalil-dalil syar'i yang lain

5.         Aspek tarikh Islam

Dalam aspek ini menjelaskan sejarah perkembangan atau peradaban Islam yang bisa diambil manfaatnya untuk diterapkan di masa sekarang[3]

 

C.    Dasar Filosofis Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Pengembangan kurikulum PAI sangat perlu dilakukan secara terus menerus untuk merespon perkembangan dan tuntutan tanpa harus menunggu adanya pergantian materi pendidikan agama. Masyarakat saat ini sudah memasuki era globalisasi baik dalam pendidikian maupun ilmu pengetahuan. Banyaknya masalah pendidikan harus segera diatasi tanpa harus menunggu keputusan dari atas (Anna Allaili, 2009: 96).

Dalam pengembangan kurikulum, Islam harus memiliki landasan yang kuat agar supaya nilai kurikulum memiliki nilai guna bagi masyarakat. Landasan kurikulum terdiri dari beberapa landasan, yaitu : landasan filosofi, sosial, budaya dan psikologi. Pendapat tersebut serupa dengan Abdul Majid dan Dian andayani yang dikemukakan oleh Murray Print mengatakan bahwa landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofi, sosial budaya, dan psikologi. Perkembangan ilmu dan teknologi menlengkapi landasan tersebut dengan landasan manajemen (Abdul Majid dan Dian andayani, 2004: 56-63).

Salah satu landasan yang termasuk dalam hal ini adalah Landasan filosofis. Secara umum, ruang lingkup filsafat adalah semua permasalahan kehidupan manusia, alam dan alam sekitarnya. Hal ini juga merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan meliputi, hakikat pendidikan, hakikat manusia, hubungan antara manusia, filsafat dan pendidikan, serta agama dan kebudayaan. Dengan demikian, ruang lingkup filsafat pendidikan adalah semua upaya manusia untuk memahami hakikat pendidikan (Zainal Arifin: 47-50).

Landasan ini sangat penting agar melihat suatu fenomena atau persoalan dengan sebenar-benarnya sehingga dapat menjadi penyelesaian secara bijak dan akurat. Beberapa pandangan filsafat umum telah mendasari aliran filsafat pendidikan yang bukan saja berpengaruh pada kurikulum, bahkan menentukan keputusan pendidikan, kurikulum dan pembelajaran. beberapa aliran filsafat utama pendidikan tersebut sebagai berikut:

1)      Perelianisme

Salah satu aliran klasik yang paling berakar dari aliran realisme. Filsafat ini termasuk filsafat tertua, Mohammad Ansyar menyatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional. Sedangkan pendidikan yang sesuai dengn filsafat ini ialah pengembangan intelektualitas manusia (Mohamad Ansyar, 2015: 78).

Menurut perelianisme, manusia dianugrahi kemampuan berpikir, pendidikan harus lebih fokus pada pengembangan k emampuan berpikir siswa. Pengembangan kemampuan berpikir dapat diperoleh melalui kelayakan intelektual rill klasik yang dimiliki oleh manusia (Mohamad Ansyar, 2015: 87).

Tujuan pendidikan perelianisme untuk memanusiakan siwa, dalam arti tradisonal yakni mengembangkan kemampuan rasional, agamis dan etika sehingga berkontribusi kedalam perubahan tingkah laku siswa melalui kemampuan intelektual. Oleh karena itu, implikasi ide perelianis terhadap kurikulum ialah mengabaikan potensi siswa bukan saja karena aliran ini menganggap bakat, melainkan siswa mempunyai kemampuan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Kaum realis tidak memberikan penghargaan khusus pada pemikiran manusia khususnya kaum idealis, karena pikiran itu hanya merupaka bagian integral dari manusia yang diciptakan untuk melakukan tugas khusus. Realis menekankan pada hubungan sebab akibat dalam dunia nyata yang berimplikasi bahwa realisme lebih realistis, yaitu fokus pada benda seperti apa adanya, bukan seperti apa seharusnya.

Implikasi realis pada pendidikan ialah mengajar anak memahami dan menyesuaikan diri dengan orde alam. Mereka harus mengajarkan cara-cara hidup yang harmonis dengan alam yang memperlihatkan gejala yang beragam dan guru harus mampu meengajar dan membimbing anak untuk memahami hakikat benda-benda dan hukum alam yang penuh dengan keteraturan.

Selain itu, kurikulum menurut kaum realis terdiri dari pengajaran fisika dan ilmu sosial yang menerangkan fenomena alam. Tekanan besar diberikan pada pengejaran sains dan matematika. Kaum realis mengutamakan pelajaran umum dan abstrak karena mata pelajaran tersebut terkait latihan maupun kemampuan berpikir logis atau berpikir rasional. Dengan kata lain, kaum realis menuntut guru menguasai konsep dasar mata pelajaran dan menyusunnya dalam unit-unit yang diajarkan serta pula pembelajaran yang dipahami oleh siwa untuk memenuhi kebutuhan siswa.

2)      Esensialisme

Aliran ini adalah aliran yang berakar pada realis dan idealis sebagai reaksi terhadap progresivisme. Jadi aliran ini merupakan salah satu pandangan filsafat yang paling tua dan sangat berperan dalam pendidikan. Aliran ini menginginkan agar pendidikan fokus pada mempertahankan peradaban manusia dengan mentrasfernya melalui pengembangan kemampuan intelektual, baik dalam proses maupun dalam konten pendidikan (Nur Faida: 172).

Oleh karena itu, aliran ini berpendapat bahwa ilmu itu sangat penting untuk pengembangan kemampuan siswa. Menurutnya pendidikan merupakan essential skill seperti membaca, menulis, dan berhitung serta keterampilan riset disekolah dasar. Kaum perelianis memandang pengajaran untuk mengembangkan kemampuan nalar anak, suatu hal yang benar sepanjang masa dan menghidupkan kekayaan cultural, kaum esensial menginginkan kemampuan intelektual anak diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan modern melalui disiplin akademik.

3)      Progresivisme

Aliran ini bermula sejak kehidupan politik Amerika pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Progresivisme dikembangkan berdasarkan filsafat pragmatis sebagai proses terhadap pendidikan tradisional. Pragmatis memandang manusia sebagai realita selalu berada dalam perubahan, pemulihan, dan penggunaan intelegensi yang kritis.

Menurut pragmatis, pembelajaran harus menumbuhkan meaningful learning experiences bagi siswa, memiliki pengalam yang bermakna, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui penglihatan, perabaan, dan perasaan. Dari pandangan ini muncullah sebuah ide bahwa pendidikan harus dilihat sebagai alat untuk menciptakan kembali, mengontrol, dan mengarahkan pengalaman untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu siswa dalam memecahkan masalah kehidupan, karena tugas guru yang professional adalah memberikan fasilitas untuk siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, siswa harus difasilitasi dan dimotivasi agar berkontruksi dengan realita yang ada. Kurikulum yang ada pada progresivisme lebih mengutamakan proses daripada produk, mata pelajaran menjadi alat daripada target kurikulum, dan siswa diberdayakan sebagai subjek pendidikan bagi dirinya daripada sebagai objek pengajaran bagi guru.

Kurikulum progresif bukan focus pada pengajaran, tetapi pada pembelajaran kegiatan dan kesempatan belajar kepada siswa untuk memperoleh pengalaman. Dengan demikian, siswa harus difasilitasi dan dimotivasi agar dapat mengkontruksi sendiri realita yang ada bermodalkan pengetahuan yang telah dipelajari selama ini. Implikasi kurikulum progresif lebih mengutamakan proses dari pada produk, menjadikan mata pelajaran sebagai alat daripada sebagai target kurikulum, dan siswa diberdayakan sebagai subjek pendidikan bagi dirinya sendiri. Kurikulum progresif berpusat pada siswa, berorientasi pada proses, mengutamakan pengalaman melalui kesempatan belajar relevan dengan tujuan.

4)      Rekontruksionisme

Filsafat rekontruksionisme berakar pada ide dan sosiologi dan merupakan pecahan dari progresifisme. Kelompok ini menginginkan agar sekolah lebih terarah pada pendidikan berbasis masyarakat yang peduli pada kebutuhan semua kelas sosial, bukan hanya mengembangkan kebutuhan diri sendiri.

Aliran ini menolak pendidikan untuk adaptasi siswa terhadap kebudayaan yang ada, para rekontruksionisme mengunggulkan pendidikan bagi perubahan sosial agar masyarakat lebih baik dari sebelumnya. Pemikiran progresifisme sama dengan rekontruksionisme menginginkan kurikulum sebagai instrument untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan agar siswa bisa melakukan rekontruksi sosial melalui mata pelajaran yang relevan, seperti sosiologi, ekonomi, antropologi, ilmu politik dan psikologi.[4]

 

D.    Tujuan Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Pengembangan  materi PAI memiliki tujuan terencana, yaitu:

1.        Mempersiapkan kegiatan pembelajaran dalam berbagai situasi supaya dapat berlangsung secara optimal

2.      Meningkatkan motivasi pengajar untuk mengelola kegiatan belajar mengajar

3.      Mempersiapkan kegiatan belajar mengajar dengan mengisi bahan-bahan yang  baru, ditampilkan dengan cara baru dan dilaksanakan dengan strategi pembelajaran yang baru pula.

4.      Memberikan pengetahuan baru untuk peserta didik maupun pendidik

Menurut Choirul inovasi pembelajaran bertujuan antara lain: pertama, mengaplikasikan model-model pembelajaran yang aktual terutama pembelajaran kontekstual, pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kedua, membekali siswa untuk belajar dalam dunia atau pengalamannya sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, membekali siswa untuk belajar aktif, kreatif dan menyenangkan serta dapat mengonstruk pemahaman mereka, membuat kesan mendalam tentang apan yang dipelajarinya serta meningkatkan motivasi belajar siswa baik din dalam maupun di luar sekolah. Keempat, mengetahui situasi dan kondisi secara mendalam di lapangan pembelajaran sehingga mengetahuin kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam membentuk watak mandiri, penalar dan pemikir, mengingatkan materi PAI banyak yang bersifat dogmatis atau normatif.[5]

Tujuan dari inovasi pembelajaran PAI adalah mengembangkan perencanaan pembelajaran PAI yang diantaranya adalah memilih dan menetapkan metode pembelajaran pendidikan agama yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.[6] Karena itu, tekanan utama dalam perencanaan pembelajaran adalah pada pemilihan, penetapan, dan pengembangan variabel metode pembelajaran pendidikan agama. Pemilihan metode pembelajarn pendidikan agama harus didasarkan pada analisis kondisi pembelajaran pendidikan agama yang ada, yang nantinya hasil analisis akan menunjukkan kondisi pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan. Setelah menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran pendidikan agama dalam kegiatan perencanaan pembelajaran akan diperoleh informasi yang lengkap mengenai kondisi riil yang ada dan hasil pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan.[7]

 

E.     Langkah-Langkah Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Seorang guru professional hendaklah menyusun materi  secara sistematis dan ideal.menurut Fatachana (2011 : 13) materi ajar yang ideal adalah materi yang dibuat melalui langkah-langkah kerja yang sistematis dan detail serta mengembangkannya.

Ø  Langkah cermat dalam pengembangan dan inovasi materi PAI,yaitu:

a.       Analisis Kompetensi Dan Kebutuhan

Proses ini dimulai dengan cara menganalisis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam silabus. Setelah menganalisis SK dan KD, maka dari sini perlu adanya identifikasi terkait apakah kompetensi yang sudah tercantum dalam silabus sesuai dengan kebutuhan siswa(Fatachana, 2011 : 13). Menurut Prastowo (2014: 153) Analisis adalah proses awal yang ditempuh untuk menyusun bahan ajar untuk menyesuaikan tututan kompetensi yang henda dicapai siswa

b.      Memilih Materi Pembelajaran

 Memilih materi ajar dapat berarti mengoleksi beragam materi dari buku yang dipublikasikan, kemudian guru memilih bahan ajar yang ada sesuai dengan tujuannya. Dalam memilih materi pelajaran harus disesuaikan dengan ranah kognitif, afektif, atau psikomotor. Karena ketiganya tentu mempunyai penekanan yang berbeda (Fatachana, 2011 : 13).

c.       Mengumpulkan bahan dari sumber yang relevan

Kemajuan pada bidang penelitian dan perkembangan informasi memberikan kesempatan bagi pendidik untuk memanfaatkan informasi (buku, internet, ensiklopeida, dll). Refrensi yang ada  dapat dikumpulkan dan dapat digunakan sesuai dengan keinginan dan tujuan pembelajaran.

d.  Menyusun materi sesuai dengan yang kongkret dan abstrak untuk memeprmudah siswa dalam memahami.

 e. Pemilihan dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar

Pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar dapat dilakukan denganmenggunakan pendekatan strategi, metode, serta teknik yang disesuaikan dengan tujuan dansifat materi yang akan diberikan. Sedangkan, pengalaman belajar siswa dapat diperoleh dari pengalaman belajar visual, audio, audio-visual, perabaan, dan pencuman. Jadi pengalaman belajar yang dipilih harus mencakup berbagai pengalaman yang menarik minat siswa sesuaidengan tujuan pembelajaran, tingkat perkembangan, dan merangsang siswa belajar aktif kreatif.

f.     Pengalaman Alat Evaluasi

Evalusai adalah mengukur apa yang hendak diukur, yaitu dengan menelaah kembaliapakah kegiatan yang telah dilakukan itu sesuai dengan tujuan yang ditetapkan atau belum.Penilaian sendidir merupakan kegiatan pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan,dan pembuatan keputusan. Mengevaluasi berarti memberi atau menilai apakah sesuatu itu bernilai atau tidak, sesuatu itu tercapai atau tidak, sesuatu itu berhasil atau tidak.

Evaluasi berfungsi memberikan informasi akurat dalam kemampuan akademik siswa. Maka, hasil evaluasi akan dimanfaatkan untuk mengadakan revisi atau perubahan total kurikulum menjadi suatu kurikulum yang baru lagi.

 

Ø  Pengembangan dan inovasi Materi. Menurut Komalasari  (dalam Anggraini, 2011: 9-10) materi yang dikembangkan harus memiliki karakteristik dalam pemilihan  fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang harus diajarkan kepada siswa hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:

a.       Keterkaitan dengan konteks lingkungan

b.      Keterkaitan dengan materi pelajaran lain secara terpadu.

Materi lain dalam satu pelajaran dan dengan pelajaran lain sering kali berkaitan  dengan menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu. Salah satu dintaranya adalah dengan memadukan Kompetensi Dasar.  Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya.

c.       Memberikan pengalaman langsung melalui kegiatan inquiry. Materi yang ada dikembangkan sendiri oleh siswa melalui pengalaman langsung dan kegiatan penemuan (inquiry).

d.      Mengembangkan kemampuan kooperatif sekaligus kemandirian. Materi dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa  melalui kerja sama dan mengatur diri sendiri.

e.       Mengembangkan kemampuan melakukan refleksi. Materi yang dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa dalam melakukan refleksi berupa kemampuan umpan balik terhadap penguasaan dirinya terhadap fakta, konsep, prinsip, dan prosedur dikembangkannya materi dan refleksi terhadap penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Dengan demikian pengembangan materi dalam pembelajaran kontekstual pada hakikatnya sangat memperhatikan kedekatan lingkungan siswa dan kebermaknaan materi pembelajaran bagi kehidupan siswa

F.       Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Materi PAI dalam Pembelajaran Era Society 5.0

Society 5.0 merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berbasis modern yang memanfaatkan teknologi internet of things seperti kecerdasan buatan (AI), komputerisasi, juga industry robot. Berikut merupakan contoh pengembangandan inovasi materi yang berkembang sejak kini di indonesia. Diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu

1)        Pengembangan Materi Akidah Akhlak Berbasis Aplikasi Quiper School.

            Pengembangan materi ajar akidah akhlak berbasis quipper school merupakan pembelajaran yang berbasis qupper school, yang efektif untuk pembelajaran mata pembelajaran pendidikan agama Islam materi yang dikembangkan memiliki karakteristik sebagai berikut: bersifat online, dan mencakup berbagai komponen media yaitu teks, gambar, suara dan video, yang diimput melalui aplikasi quipper school, ditinjau dari aspek pembelajaran, materi, dan media, dan jumlah presentasi siswa yang mencapai ketuntasan belajar setelah menggunakan media pembelajaran

 

 

 

 

 

 

Gambar diatas merupakan salah satu pengembangan materi Quipper School berbasis teks sesuai relevan penelitian, materi dikembangkan, dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu analisis, desains dll. Tahap analisis meliputi analisis tujuan pembuatan bentuk pembuatan . Tahap desains meliputi tata cara menginput materi teks pdf/powerpint, materi berbentuk video pembelajaran.

 Salah satu kontribusi pengembangan materi PAI berbasis Quipper School dapat berkolaborasi dengan teknonogi informasi dan komonikasi dalam pembelajaran adalah tantangan tersendiri bagi dunia Pendidikan Islam, terkhusus pembelajaran berbasis online. Salah satu fungsi pembelajaran online Quipper School adalah siswa belajar tidak mengenal waktu dan tempat.  Sekedar contoh adalah jika peserta didik berhalangan untuk datang ke sekolah maka pihak sekolah cukup mengirimkan pesan berupa tugas kepada siswa melalui aplikasi Quipper Shool.

Contoh bukti dalam studi literatur pengembangan ini pernah diterapkan oleh

Madrasah Aliyah Negeri 1 kota Bitung dalam cakupan artikel Wadan

2)  Visual Based Learning. Pengembangan materi ajar dengan Konten pengetahuan, dikuatkan menggunakan bentuk-bentuk visual media berbasis teknologi informasi berupa video, grafik, simbol, kata kunci. Pemanfaatan produk diseminasi pengetahuan melalui berrbagai media teknologi dengan inovasi bahan ajar offliene dan online menjadi pelengkap sumber belajar eksternal



[1]https://andybudicahyono.blogspot.com/2018/06/makalah-ruang-lingkup-dan-karakteristik.html

 

[2] Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Offset Priting, 1981), h. 57.

[3] Depdiknas, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasih Kompetensi Sekolah Menengah Pertama

[4] Akmal & Reni, Jurnal Inovasi Pengembangan Kurikulum PAI, Tadrib, Vol. IV, No.1, Juni 2018

[5] Choirul Fuad Yusuf, Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam…, h. 34

[6] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989, h. 195.

[7] Noer Rohmah, Inovasi STRATEGI PEMBELAJARAN PAI DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN PAI, Madrasah, Vol. 6, No. 2, Januari-Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengembangan Dan Inovasi Ekstrakulikuler PAI

 1. Karakteristik ekstrakulikule PAI - Individual, yakni dikembangkan sesuai dengan potensi/bakat peserta didik masing-masing. - Pilih...