Rabu, 23 Maret 2022

Pendekatan, Landasan, Prinsip dan Prosedur Pengembangan & Inovasi Kurikulum PAI

 

1.      Pendekatan Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI

Di dalam teori kurikulum setidak-tidaknya tedapat lima pendekatan yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu pendekatan subjek akademis, pendekatan humanistis, pendekatan akselerasi, pendekatan rekonstruksi sosial, pendekatan teknologis, pendekatan fenomenologis, dan pendekatan problem peserta didik. [1]

Adapun pendekatan-pendekatan pengembangan kurikulum pendidikan agama islam antara lain:

1.   Pedekatan Berbasis Akademis

Pendekatan subjek akademis dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan didasarkan pada sistematisasi setiap disiplin ilmu. Tiap ilmu engetahuan atau mata pelajaran yang diajarkan memiliki sistematisasi tertentu, yang berbeda dengan sistematisasi ilmu lainnya. Pengembangan kurikulum subjek akademis dilakukan dengan cara mnetapkan terlebih dahulu mata pelajaran/mata kuliah apa yangharus dipelajari peserta didik untuk pengembangan disiplin ilmu.

Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah meliputi aspek Al-Qur’an/Hadits, keimanan, akhlak, ibadah/muamalah, dan tarikh/sejarah umat islam yang menyatu dalam satu pelajaran yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI). Sementara dimadrasah sapek-aspek tersebut dijadikan sebagai sub-sub mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang meliputi mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, Fiqh, Akidah Akhlak, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang konteks disini lebih baik pembelajarannya di madrasah dari pada di sekolah SMP dan SMA karena banyak jam pembelajarannya yang terbagi dalam sub-sub seperti diatas.[2]

Akan tetapi juga mempunyai kelemahan dalam hal ini adalah kegagalan dalam memberikan perhatian kepada yang lainnya, dan melihat bagaimana isi dan disiplin dapat membawa mereka pada permasalahan kehidupan modern yang kompleks, yang tidak dapat dijawab oleh hanya satu ilmu saja.

 

2.  Pendekatan Berbasis Humanistis

Pendekatan humanistik dalam pengembangan kurikulum bertolak dari ide "memanusiakan manusia". Penciptaan konteks yang akan memberi peluang manusia untuk menjadi lebih human, untuk mempertinggi harkat manusia merupakan dasar filosofi, dasar teori, dasar evaluasi dan dasar pengembangan program pendidikan.[3]

Kurikulum Humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan Humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi yaitu John Dewey. Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. kurikulum Humanistik ini, guru diharapkan dapat membangun hubungan emosional yang baik dengan peserta didiknya. Oleh karena itu, peran guru yang diharapkan adalah sebagai berikut:

a.    Mendengar pandangan realitas peserta didik secara komprehensif

b.    Menghormati individu peserta didik

c.    Tampil alamiah, otentik, tid ak dibuat-buat.

       Dalam pendekatan Humanistik ini, peserta didik diajar untuk membedakan hasil berdasarkan maknanya.Kurikulum ini melihat kegiatan sebagai sebuah manfaat untuk peserta dimasa depan. Sesuai dengan prinsip yang dianut, kurikulum ini menekankan integritas, yaitu kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan.Beberapa acuan dalam kurikulum ini antara lain:

a.       Integrasi semua domainafeksi peserta didik, yaitu emosi, sikap, nilai-nilai, dan domain kognisi, yaitu kemampuan dan pengetahuan.

b.      Kesadaran dan kepentingan

c.        Respon terhadap ukuran tertentu, seperti kedalaman suatu keterampilan.

 

 Kurikulum humanistik memeliki kelemahan, antara lain:

a.       Keterlibatan emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan individual peserta didik

b.      Meskipun kurikulum ini sangat menekankan individu tapi kenyataannya terdapat keseragaman peserta didik

c.         Kurikulum ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan

 

3.    Pendekatan Berbasis Akselerasi

       Kurikulum ini sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan social masyarakat dan politik perkembangan ekonomi. Kurikulum ini bertujuan untuk menghadapkan peserta didik pada berbagai permasalahan manusia dan kemanusian.[4]

Permasalahan yang muncul tidak harus pengetahuan social saja, tetapi di setiap disiplin ilmu termasuk ekonomi, kimia, matematika dan lain-lain. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama. Melalui interaksi ini siswa berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyrakat yang lebih baik.

       Kegiatan yang dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi social antara lain melibatkan:

a.       Survey kritis tehadap suatu masyarakat

b.       Study yang melihat hubungan antara ekonomi local denagn ekonomi nasional atau internasional

c.        Study pengaruh sejarah dan kecenderungan situasi ekonomi local

d.      Uji coba kaitan praktek politik dengan perekonomian

e.       Berbagai pertimbangan perubahn politik

f.        Pembatasan kebutuhan masyarakat pada umumnya

 

       Pembelajan yang dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi social harus memenuhi 3 kriteria berikut, yaitu: nyata, membutuhkan tindakan, dan harus mengajarkan nilai. Evaluasi dalam kurikulum rekontruksi social mencakup spektrum luas, yaitu kemampuan peserta didik dalam menyampaikan permasalahan, kemungkinan pemecahan masalah, pendefinisian kembali pandangan mereka dan kemauan mengambil tindakan. 

 

4.  Pendekatan Berbasis Teknologis

Pendidikan merupakan upaya menyiapkan peserta didik untuk menghadapai masa depan perubahan masyarakat yang semakin pesat yang akibat dari perkembangan IPTEK. Oleh karena itu pengembangan kurikulum pendidikan harus menggunakan pendekatan IPTEK.[5]

       Pembelajaran dikatakan menggunakan pendekatan teknologik, bilamana ia menggunakan pendekatan sistem dalam menganalisis masalah belajar, merencanakan, mengelola, melaksanakan dan menilainya, disamping itu pendekatan teknologik ingin mengejar kemanfaatan tertentu, sehingga proses dan rencana produknya (hasilnya) diprogram sedemikian rupa , agar pencapaian hasil pembelajaranya (tujuan) dapat dievaluasi dan diukur dengan jelas dan terkontrol. Dari rencana proses pembelajaran sampai mencapai hasil tersebut diharapkan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Pendekatan teknologik ini sudah barang tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan ,antara lain: ia terbatas pada hal-hal yang bisa dirancang sebelumnya, baik yang menyangkut proses pembelajaran maupun produknya. Karena adanya keterbatasan tersebut, maka dalam pembelajaran pendidikan agama islam tidak selamanya dapat menggunakan pendekatan teknologis.

Jika dalam sebuah pembelajaran PAI menyangkut perencanaan dan proses bisa dengan pendekatan teknologis akan tetapi ketika harus mengevaluasi tentang keimanan peserta didik atas materi rukun iman misalnya , maka pendekatan teknologis tidak bisa digunakan,karena evaluasi ini sulit untuk diukur.

 

5.   Pendekatan Paradigma Fenomenologis

Pendekatan fenomenologis adalah pengembangan yang memperhatikan fenomena empirik yang terjadi dalam kehidupan masarakat dari bentuk rasionalismeyang dimiliki.[6] Pemikiran ini berasumsi bahwa manusia adalah pelaku yang aktif, kreatif, dan bahkan manipulatif dalam menghadapi lingkungannya,[7] yng dalam hal ini meghadapi arus global.[8] Oleh karena itu, guru sebgai pengembang kurikulum disatuan pendidikan agama islam tidakboleh menganggap pasif pada peserta didik, karena peserta didik sebagai subjek didik dalam pendidikan agama islam Sejalan dengan paradigma fenomenologis, maka penyelenggaraan pendidikan agama islam didasarkan pada pedagogis yang tidak hanya melihat proses pendidikan sekedar proses pendewasaan, proses sosialisasi, atau proses penyesuaian budaya, tetapi lebih dari itu, dimana pedagogis mengkaji proses seseorang menjadi manusia yang sebenarnya yaitu manusia yang mempunyai kepribadian baik, berakhlak baik dan berbudi pekerti yang luhur. Dengan kata lain proses individualisasi hanya dapa terwujud apabila diri pribadiya tidak dapat berpartisipasi dalam perubahan sosial[9]

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa pengembangan kurikulum pendidikan agama islam dengan pendekatan fenomenologis dibangun berdasarkan keinginan untu memaksimalkan potensi yang ada dalam diri peserta didik sehingga segenap potensi dan kemampuannya dapat dipacu dan dikembangkan secara maksimal demi terciptanya calon-calon pendidik pendidikan agama islam yang berkualitas dan mampu bersaing dalam arus globalisasi ini.

 

6.  Pendekatan Problem Peserta Didik

Pendidikan merupakan upaya memperkenalkan manusia akan eksistensi dirinya baik sebagai diri pribadi yang dimilikinya kebebasan berkehendak Hurriyyatul iradah maupun sebagai hamba tuhan yang terikat oleh hukum normatif syariah, dan sekaligus sebagai wakil tuhan di atas bumi khalifatu fil ardhi yang dibebani suatu tanggung jawab yang besar. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum perlu memperhtikan problematika peserta didik terkait dengan tujuan pendidikan agama islam yang diharapka bisa disalurkan melaui kurikulum yang disusun dan dilaksanakan dimasing-masing satuan pendidikan

 

Salah satu persoalan utama yang ada pada peserta didik adalah pola fikir kritis dan kreatif, dengan kata lain pola fikir peserta didik dapat diketahuai dari:

a.    Sensitif tidaknya mereka dalam melihat suatu masalah.

b.    Orisinal tidaknya ide pikiran yang dikemukakan.

c.    Lancar tidaknya mereka dalam mengemukakan ide.

d.   Fleksibel idaknya mereka dalam berfikir, dan

e.    Mampu tidaknya mereka mengutarakan kembali pengetahuan yang telah dimiliki.[10]

 

2.      Landasan Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI

Pengertian landasan Menurut Hornby c. s. dalam “The anvance leaner’s dictionari of current English” mengemukakan definisi landasan sebagai berikut : “faoundation that on which an idea or belief rest an underlying principle’s as the foundations of religious belief the basis or starting poin”. Jadi menurut Hornby, landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari sesuatu. Contohnya dalam agama Islam yang menjadi landasan utama umat muslim dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT adalah al-qur’an dan sunnah. Jadi, landasan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan atau prinsip yang bersumber dari kepercayaan dan menjadi sandaran atau pijakan untuk pengembangan kurikulum yang dinamis.

Landasan Pengembangan dan inovasi kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah, pada hakikatnya adalah faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum ketika hendak mengembangkan atau merencanakan  suatu kurikulum lembaga pendidikan. Landasan-landasan  tersebut antara lain:  

1.       Landasan Agama

Dasar Agama adalah dasar yang ditetapkan nialai-nilai ilahi yang terdapat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan nilai yang kebenarannya mutlak dan universal.

Prinsip dalam pendidikan Islam tentang penyusunan kurikulum menghendaki keterkaitannya dengan sumber pokok agama yaitu al-Qur’an dan Hadis. Prinsip yang ditetapkan Allah SWT. dan diperintahkan Rasulullah Saw. berikut ini dapat dijadikan pegangan dasar kurikulum tersebut:

a)    “Carilah segala apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu mengenai kehidupan di akhirat dan janganlah kamu melupakan nasib hidupmu di dunia dan berbuatlah kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. (Q.S. Al-Qisas : 77)

b)    Sabda Rasulullah : Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmunya dan barang siapa menghendaki akhirat (kebahagiaan hidup di akhirat) hendaklah ia menguasai ilmunya, dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka hendaklah ia menguasai ilmu keduanya. (Hadist Nabi).

Dari dasar-dasar kurikulum tersebut diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan formal yang terdapat pada kurikulum pendidikan agama Islam. Merujuk kurikulum pendidikan formal yang terdapat di sekolah dan madrasah di Indonesia, maka batasan atau konsep kurikulum mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional.

Dasar kurikulum secara umum dapat ditarik secara khusus ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam yang tentunya al-Qur’an sebagai dasar pokoknya.

Dalam mengembangkan kurikulum sebaiknya berlandaskan pada Pancasila terutama sila ke satu Ketuhanan Yang Maha Esa. Di Indonesia menyatakan bahwa kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing individu. Dalam kehidupan, dikembangkan sikap saling menghormati dan bekerjasama antara pemeluk-pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga dapat terbina kehidupan yang rukun dan damai.

 

2.       Landasan Filosofi

Seorang pengembang kurikulum dalam mengambil keputusan mengenai kurikulum harus memperhatikan falsafah, baik falsafah bangsa, falsafah lembaga pendidikan dan falsafah pendidik.Ada tiga cabang besar filsafat, yaitu metafisik yang membahas segala yang ada dalam alam ini, epistemology yang membahas kebenaran dan aksiologi yang membahas nilai.Aliran-aliran filsafat yang kita kenal bertolak dari pandangan yang berbeda dalam ketiga hal itu. 

Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme, eksistensialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme.

Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Hubungan antara Filsafat dengan Filsafat Pendidikan menurut beberapa ahli yang dikutip oleh Yahya Nursidik adalah sebagai berikut: negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.

 

3.       Landasan Psikologis

Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar-individu manusia, yaitu antara peserta didik dengan pendidik dan juga antara peserta didik dengan orang-orang yang lainnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, karena kondisi psikologisnya. Manusia berbeda dengan benda atau tanaman, karena benda atau tanaman tidak mempunyai aspek psikologis. Manusia juga lain dari binatang, karena kondisi psikologisnya jauh lebih tinggi tarafnya dan lebih kompleks dibandingkan dengan binatang. Berkat kemampuan-kemampuan psikologis yang lebih tinggi dan kompleks inilah sesungguhnya manusia lebih maju, lebih banyak memiliki kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan dibandingkan dengan binatang. Berkat kemampuan-kemampuan psikologis.

Kondisi psikologis setiap individu berbeda, karena perbedaan tahap perkembangannya, latar belakang social-budaya, juga karena perbedaan faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya. Kondisi ini pun berbeda pula bergantung pada konteks, peranan, dan status individu diantara individu-individu yang lainnya. Interaksi yang tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis para peserta didik maupun kondisi pendidiknya.

Jadi, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Nana Syaodih Sukmadinata bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu psikologi perkembangan dan  psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik di dalam  merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan menerapkan  metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.

Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum.

Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.

 

4.      Landasan Sosial-Budaya

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar individu dengan individu, antar golongan, lembaga sosial yang disebut juga ilmu masyarakat. Didalam kehidupan sehari-hari anak selalu bergaul dengan lingkungan atau dunia sekitar. Dunia sekitar merupakan lingkungan hidup bagi manusia. Pada dasarnya dunia sekitar manusia dapat digolongkan menjadi tiga bagian besar yaitu:

a)      Dunia alam kodrat.

b)      Sekitar benda-benda buatan manusia.

c)       Dunia sekitar masyarakat.

Landasan sosiologis pengembangan kurikulum adalah asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum. Pendidikan adalah proses sosialisasi melalui interaksi insani menuju manusia yang berbudaya. Pendidikan merupakan proses sosialisasi dan pewarisan budaya dari generasi ke generasi selanjutnya dalam upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia, baik sebagai individu, kelompok masyarakat, maupun dalam konteks yang lebih luas yaitu budaya bangsa. Oleh karena itu anak didik dihadapkan pada budaya, dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya.

Pendidikan sebagai proses budaya adalah upaya membina dan mengembangkan daya cipta, karsa, dan rasa manusia menuju ke peradaban manusia yang lebih luas dan tinggi, yaitu manusia yang berbudaya. Semakin meningkatnya perkembangan sosial budaya manusia, akan menjadikan tuntutan hidup manusia semakin tinggi pula, untuk itu diperlukan kesiapan lembaga pendidikan dalam menjawab segala tantangan yang diakibatkan perkembangan kebudayaan tersebut.

Oleh karena itu, sebagai antisipasinya lembaga pendidikan harus menyiapkan anak didik untuk hidup secara wajar sesuai dengan perkembangan sosial budaya masyarakatnya, untuk itu diperlukan inovasi-inovasi pendidikan terutama menyangkut kurikulum. Kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini, dan bahkan harus dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi-kondisi yang bakal terjadi, dan hal ini juga menjadi tugas dari seorang guru untuk dapat membina dan melaksanakan kurikulum, agar apa yang diberikan kepada anak didiknya berguna dan relevan dengan kehidupan dalam masyarakat.

Mendidik anak dengan baik hanya mungkin dilakukan jika kita memahami masyarakat tempat ia hidup, karena itu setiap pembina kurikulum harus senantiasa mempelajari keadaan, perkembangan, kegiatan, dan aspirasi masyarakat. Salah satu ciri masyarakat adalah perubahannya yang sangat cepat seiring perkembangan ilmu pengetahuan.

Perubahan-perubahan itu secara otomatis memberikan tugas yang lebih luas dan berat kepada lembaga pendidikan, karena anak yang saat ini memasuki sekolah dasar (SD) akan menghadapi dunia yang sangat berbeda dengan masyarakat 15 atau 20 tahun kedepan saat anak tersebut menyelesaikan studinya di universitas misalnya. Perubahan masyarakat mengharuskan kurikulum untuk senantiasa ditinjau kembali.   Kurikulum yang baik pada suatu saat, bisa jadi sudah tidak lagi sesuai dalam keadaan yang sudah berubah. Sebagai contoh, dalam kehidupan bermayarakat, anak harus dididik untuk menghargai jasa orang lain, karena di zaman yang semakin maju manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, begitu pula terhadap berbagai kebutuhan yang dikemukakan oleh berbagai golongan masyarakat, dan juga oleh falsafah hidup dan pendidikannya. 

 

5.       Landasan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi

Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah produk dari kebudayaan. Kebudayaan manusia yang terkait dengan ilmu dan teknologi pada saat ini telah mencapai tingkatan yang sangat tinggi.

Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal. Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidak pastian.

Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Perkembangan IPTEK, baik secara langsung maupun tidak langsung menuntut perkembangan pendidikan. Pengaruh langsung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah memberikan isi atau materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan. Pengaruh tak langsung adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi menyebabkan perkembangan masyarakat, dan perkembangan masyarakat menimbulkan problem baru yang menuntut pemecahan dengan pengetahuan, kemampuan, keterampilan baru yang dikembangkan dalam pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Seiring dengan perkembangan pemikiran manusia, dewasa ini banyak dihasilkan temuan-temuan baru dalam  berbagai bidang kehidupan manusia seperti kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik, dan kehidupan lainnya.  Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bukan menjadi monopoli suatu bangsa atau kelompok tertentu.  Baik secara langsung maupun  tidak langsung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut berpengaruh  pula terhadap pendidikan. Perkembangan teknologi industri mempunyai hubungan timbal-balik dengan pendidikan. Industri dengan teknologi maju memproduksi berbagai macam alat-alat dan bahan yang secara langsung atau tidak langsung dibutuhkan dalam pendidikan dan sekaligus menuntut sumber daya manusia yang handal untuk mengaplikasikannya.

Kegiatan pendidikan membutuhkan dukungan dari penggunaan alat-alat hasil industri seperti televisi, radio, video, komputer, dan peralatan lainnya. Penggunaan alat-alat yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan program pendidikan, apalagi disaat perkembangan produk teknologi komunikasi yang semakin canggih, menuntut pengetahuan dan keterampilan serta kecakapan yang memadai  dari para  guru dan pelaksana program pendidikan lainnya. Mengingat pendidikan merupakan upaya menyiapkan siswa menghadapi masa depan dan perubahan masyarakat yang semakin pesat termasuk di dalamnya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pengembangan kurikulum haruslah berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum yang didalamnya mencakup pengembangan isi/materi pendidikan, penggunaan strategi dan media pembelajaran, serta penggunaan system evaluasi. Secara tidak langsung menuntut dunia pendidikan untuk dapat membekali peserta didik agar memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi sebagai pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga dimanfaatkan untuk memecahkan masalah pendidikan.

 

3.      Prinsip Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI

Menurut pemikiran Nana Syaodih Sukmadinata (1997) bahwa ada prinsip umum dalam pengembangan dan inovasi yang perlu dievaluasi kurikulum  antara lain :

1.       Prinsip relevansi. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan apakah sudah relevan dengan kebutuhan peserta didik untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

2.      Prinsip fleksibilitas. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan apakah sudah bersifat adaptif, mampu menyesuaikan diri dengan konteks pembelajaran.

3.      Prinsip kontinuitas. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan memungkinkan peserta didik lebih sanggup mengembangkan potensinya kelak dalam rencana belajar berikutnya (prinsip belajar sepanjang hayat).

4.       Prinsip praktis. Kurikulum sebaiknya mudah digunakan dengan alat sederhana dan biaya relatif murah, terutama dalam situasi ekonmi dewasa ini. Selain itu, apa yang dipelajari mahasiswa seharusnya mampu membentuk dan meningkatkan kompetensi mereka di dalam kehidupan sehari-hari.

5.       Prinsip efektivitas. Efektivitas sebuah kurikulum harus dilihat dari sejauhmana perubahan peserta didik, sebagaimana dampak dalam kehidupan dan karyanya [1]

 

4.      Prosedur Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI

Secara umum langkah-langkah pengembangan kurikulum terdiri atas diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, dan pengalaman alat evaluasi.

1)      Analisis dan Diagnosis Kebutuhan.

Langkah pertama dalam pengembangan kurikulum adalah menganalisis dan mendiagnosis kebutuhan. Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yaitu kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat/dunia kerja, dan harapan-harapan dari pemerintah (kebijakan pendidikan). Kebutuhan siswa dapat dianalisis dari aspek-aspek perkembangan psikologis siswa, tuntutan masyarakat, dan dunia kerja dapat dianalisis dari berbagai kemajuan yang ada di masyarakat dan prediksi-prediksi kemajuan masyarakat pada masa yang akan datang, sedangkan harapan pemerintah dapat dianalisis dari kebijakan-kebijakan, khususnya kebijakan-kebijakan bidang pendidikan yang dikeluarkan, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Hasil analisis dari ketiga aspek tersebut, kemudian didiagnosis untuk disusun menjadi serangkaian kebutuhan sebagai bahan masukan bagi kegiatan pengembangan tujuan.

Adapun pendekatan yang dapat dilakukan untuk menganalisis kebutuhan ada tiga, yaitu survei kebutuhan, studi kompetensi, dan analisis tugas.

a.    Survei kebutuhan merupakan cara yang relatif sederhana dalam menganalisis kebutuhan. Seorang pengembang kurikulum dapat melakukan wawancara dengan sejumlah orang, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, dan para ahli terkait tentang apa yang dibutuhkan oleh siswa, masyarakat, dan pemerintah berkaitan dengan kurikulum sebagai suatu program pendidikan.

b.     Studi kompetensi dilakukan dengan analisis terhadap kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan oleh lulusan suatu jenis dan jenjang program pendidikan.

c.     Pendekatan analisis tugas dilakukan dengan cara menganalisis setiap jenis tugas yang harus diselesaikan. Tugas tersebut bisa berkaitan dengan aspek kognitif, afektif, dan atau psikomotorik.

Hasil akhir kegiatan analisis dan diagnosis kebutuhan ini adalah deskripsi kebutuhan  sebagai bahan yang akan dijadikan masukan bagi langkah selanjutnya dalam pengembangan kurikulum yaitu perumusan tujuan.

 

2)       Perumusan tujuan

Setelah kebutuhan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan. Tujuan-tujuan dalam kurikulum berhierarki, mulai dari tujuan yang paling umum (kompleks) sampai pada tujuan yang lebih khusus. Hirearki tujuan tersebut meliputi: tujuan pendidikan nasional,  tujuan institusional, tujuan kurikuler, serta tujuan instruksional umum dan khusus.

Benyamin S. Bloom dalam Taxonomy of Educational Objectives membagi tujuan menjadi tiga ranah/domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Domain kognistif berkenaan dengan penguasaan kemampuan-kemampuan intelektual atau berpikir, domain afektif berkenaan dengan penguasaan dan pengembangan perasaan, sikap, minat, dan nilai-nilai, sedangkan domain psikomotor berkenaan dengan penguasaan dan pengembangan keterampilan-keterampilan motorik.

 

3)        Pemilihan dan Pengorganisasian Materi

Secara spesifik, yang dimaksud dengan materi kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Isi dari kegiatan pembelajaran tersebut adalah isi dari kurikulum. Tugas guru adalah mengembangkan bahan pelajaran tersebut berdasarkan tujuan instruksional yang telah disusun dan dirumuskan sebelumnya.

Dalam hal penyusunan bahan pelajaran ini dikenal dengan istilah scope dan squence. Scope atau ruang lingkup menyangkut keluasaan dan kedalaman materi kurikulum.

 Ada sejumlah kriteria yang dapat dipertimbangkan dalam pemilihn materi kurikulum, anatar lain :

1.      Materi kurikulum harus dipilih berdasarkan tujuan yang hendak dicapai.

2.      Materi kurikulum dipilih karena dianggap berharga sebagai warisan budaya  (positif) dari generasi masa lalu.

3.      Materi kurikulum dipilih karena berguna bagi penguasaan suatu disiplin ilmu.

4.       Materi kurikulum dipilih karena dianggap bemanfaat bagi kehidupan umat manusia, untuk belak masa kini dan masa akan datang.

5.      Materi kurikulum dipilih karena sesuai dengan kebutuhan dan minat anak didik, dan kebutuhan masyarakat.

Squence menyangkut urutan susunan bahan kurikulum. Squence dapat disusun dengan mempertimbangkan tig hal, yaitu struktur disiplin imu, taraf perkembangan siswa, dan pembagian materi kurikulum berdasarkan tingkatan kelas.

Dalam penyusunan squence, perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut :

1.      Taraf kesulitan materi pelajaran atau isi kurikulum.

2.       Kematangan dan perkembangan siswa.

3.       Minat dan kebutuhan siswa.

 

4)       Pemilihan dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar

Setelah materi kurikulum dipilih dan diorganisasikan, langkah selanjutnya adalah memilih dan mengorganisasikan pengalaman belajar. Cara pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi, metode, serta teknik yang disesuaikan dengan tujuan dan sifat materi yang akan diberikan.

Pengalaman belajar siswa dapat bersumber dari pengalaman visual, pengalaman suara, perabaan, dan penciuman. Pengalaman belajar dipilih harus mencakup berbagai kegiatan mental dan fisik yang menarik minat siswa, sesuai dengan tingkat perkembangannya, dan merangsang siswa belajar aktif dan kreatif.

 

5)       Pengembangan Alat Evaluasi

Pengembangan alat evaluasi yang dimaksud adalah untuk menelaah kembali apakah kegiatan yang telah dilakukan itu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Mc. Neil mengungkapkan ada dua hal yang perlu mendapat jawaban dari penilaian kurikulum yaitu, apakah kegiatan-kegiatan yang dikembangkan dan diorganisasikan itu memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan dan apakah kurikulum yang telah dikembangkan dapat diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya.

Penilai pada dasarnya merupakan suatu proses pertimbangan terhadap suatu hal. Scriven (dalam Nurgiyantoro, 1988) mengemukakan bahwa penilaian itu terdiri atas tiga komponen, yaitu pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan, dan pembuatan keputusan. Evaluasi kurikulum dapat dilakukan terhadap komponen-komponen kurikulum itu sendiri, evaluasi terhadap implementasi kurikulum, dan evaluasi terhadap hasil yang dicapai.

 

5.Fungsi Pendekatan, Landasan, Prinsip, dan Prosedur Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI dalam Pendidikan Era Society 5.0

Dalam menghadapi era society 5.0, dunia pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM. Selain pendidikan beberapa elemen dan pemangku kepentingan seperti pemerintah, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan seluruh masyarakat juga turut andil dalam menyambut era society 5.0 mendatang.

 

“Untuk menghadapi era society 5.0 ini satuan pendidikan pun dibutuhkan adanya perubahan paradigma pendidikan.

Perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat mengharuskan kita untuk siap menghadapi perubahan dunia terutama dalam bidang pendidikan.

Society 5.0 adalah manusia  yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 dan berpusat di teknologi.

Maka dari itu,dengan adamya Pendekatan, Landasan, Prinsip, dan Prosedur Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI dalam Pendidikan Era Society 5.0 sangan berpengaruh terhadap pendidikan,berikut fungsinya :

1.       Untuk meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan Sumber Daya kurikulum melalui pengelolaan yang sudah terencana

2.       Untuk meningkatkan equality atau keadilan dan kesempatan kepada para siswa agar bisa mencapai hasil yang maksimal melalui berbagai macam kegiatan yang telah ditetapkan seperti lewat intrakulikuler, ekstrakulikuler dan kokurikuler ataupun rencana pembelajaran yang telah dibuat.

3.       Untuk meningkatkan efektivitas dan relevansi pembelajaran siswa didik atau lingkungan.

4.       Untuk meningkatkan tingkat efektivitas kinerja pengajaran atau aktivitas siswa didik agar bisa mencapai tujuan pembelajaran yang tepat.

5.       Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses kegiatan belajar mengajar

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

[1] Nisa, Khoirun. Komponen-Komponen dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam. Murobbi: Jurnal Ilmu Pendidikan. Vol. 1 No. 1. 2017:64-83

[2]Dakir, Perencanan dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 76. Lihat Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 34-41.

[3]Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 35.

[4]Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Pergaruan Tinngi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 142.

[5]Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 37.

[5]Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 35. Lihat Hermawan dkk, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), hlm. 2.17.

[6]Salim, Perubahan Sosial Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hlm. 24-25. Lihat Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 38-40.

[7]Kevin Mc Donald: Alain Tauraine, dalam Peter Beilharz (ed) Teori-teori Sosial; Observasi Kritis Terhadap Filosofis Terkemuka, cet ke 5, terj. Sigit Jatmiko (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 339-350. Lihat Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 38-40.

[8]Secara teoritis, perubahan nilai dalam masyarakat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktordeterminan, seperti tension (ketegangan) internal. HAR. Gibb, Modern in Islam (New York: Octagon Books, 1978), hlm. 17. Perubahan ini dipengaruhi adanya tuntutan modernisasi, demokrasi, kontak dengan budaya luar, perkembangan IPTEK, munculnya sikap terbuka, toleransi, dan lain-lain. Lihat Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Raja Gafindo, 1999), hlm. 363-364. Lihat Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 38-40.

[9]Tilaar, Perubahan Sosial dan Pendidikan, Pengantar pedagogis Transformatif untuk Indonesia (Jakarta: PT. Grasindo bekerja sama dengan Center for Education and Comunity Development Studies, 2002), hlm. xxxix. Lihat Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 38-40.

[10]Ibid. Lihat Sutrisno, “Pendidikan (Agama) Islam Berorientasi pada Subyek Didik”  Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Islam (Yokyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2011), hlm. 7. Lihat Rahmat, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Yogyakarta: Baituna  Publishing, 2012), hlm. 40-41 

http://ammun-gun.blogspot.com/2012/05/posedur-pengembangan-kurikulumpai.html

file:///C:/Users/LENOVO/Downloads/alminhaj,+Landasan+Kurikulum+Pendidikan+Islam.pdf

https://zahranaa.blogspot.com/2017/08/landasan-pengembangan-kurikulum-pai.html

http://muchsin115.blogspot.com/2016/02/landasan-dan-pendekatan-pengembangan.html

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengembangan Dan Inovasi Ekstrakulikuler PAI

 1. Karakteristik ekstrakulikule PAI - Individual, yakni dikembangkan sesuai dengan potensi/bakat peserta didik masing-masing. - Pilih...