Kamis, 26 Mei 2022

Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

1.      Karakteristik Metode Pembelajaran PAI

PAI merupakan rumpun mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam. Karena itulah PAI merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam. Ditinjau dari segi isinya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi salah satu komponen, dan tidak dapat dipisahkan dari rumpun mata pelajaran yang bertujuan, mengembangkan moral dan kepribadian peserta didik. 

Tujuan PAI adalah terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia), memiliki pengetahuan tentang ajaran pokok Agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang Islam, sehingga memadai baik untuk kehidupan masyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Pendidikan Agama Islam, sebagai sebuah program pembelajaran, diarahkan pada (a) menjaga aqidah dan ketakqwaan peserta didik, (b) menjadi landasan untuk rajin mempelajari ilmu-ilmu lain yang diajarkan di madrasah, (c) mendorong peserta didik untuk kritis, kretif dan inovatif, (d) menjadi landasan perilaku dalm kehidupan sehri-hari di masyarakat. PAI bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang Agama Islam, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (membangun etika sosial). 

Pembelajaran PAI tidak hanya menekankan penguasaan kompetensi kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotoriknya.

Isi mata pelajaran PAI didasarkan dan dikembangkan dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam dua sumber pokok ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW (dalil naqli). Di samping itu materi PAI juga diperkaya dengan hasil-hasil istinbath atau ijtihad (dalil aqli) para ulama sehingga ajaran-ajaran pokok yang bersifat umum lebih rinci dan mendetil. 

Materi PAI dikembangkan dari tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu aqidah,syari'ah dan akhlak. Aqidah merupakan penjabaran konsep Islam, dan akhlak merupakan penjabaran konsep ihsan. Dari ketiga konsep dasar itulah berkembang berbagai kajian keislaman, termasuk kajhian-kajian yang terkait dengan ilmu, teknologi, seni dan budaya.

Out put pembelajaran PAI di sekolah adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia (budi pekerti luhur) yang merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia. pendidikan akhlak adalah  (budi pekerti) adalah jiwa pendidikan dalam Islam, sehingga pencapaian akhlak mulia (karimah) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Dalam hubungan ini, perlu ditegaskan bahwa pelajaran PAI tidak identik dengan menafikan pendidikan jasmani dan pendidikan akal. Keberadaan program pembelajaran selain PAI juga menjadi kebutuhan bagi peserta didik yang tidak dapat diabaikan. Namun demikian, pencapaian akhlak mulia justru mengalami kesulitan jika hanya dianggap menjadi tanggung jawab mata pelajaran PAI. Dengan demikian, pencapaian akhlak mulia harus menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk mata pelajaran  non PAI dan guru-guru yang mengajarkannya. Ini berarti meskipun akhlak itu tampaknya hanya menjadi muatan mata pelajaran PAI, mata pelajaran lain juga perlu mengandung muatan akhlak. Lebih dari itu, semua guru harus memperhatikan akhlak peserta didik dan berupaya menanamkannya dalam proses pembelajaran. Jadi, pencapaian akhlak mulia tidak cukup hanya melalui mata pelajaran PAI.

Maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran pada mata pelajaran PAI adalah metode ceramah, demonstrasi, diskusi, tanya jawab.

 

2.      Dasar Filosofis Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

Landasan Filosofis pengembangan dan inovasi metode pembelajaran PAI merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk dalam pembelajaran mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara.

Filosofis atau pandangan hidup dalam dunia pendidikan bertujuan untuk memberikan arah bagi peserta didik dalam belajar. Ketika memiliki arah belajar yang jelas, peserta didik dapat mengeksploitasi kemampuan yang ada dalam dirinya sehingga dapat mencapai hasil terbaiknya.

Filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktik-praktik pendidikan. Kemudian, praktik-praktik pendidikan memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan filosofis. Keduanya sangat berkaitan erat. Hal inilah yang menyebabkan landasan filosofis menjadi landasan penting dalam pengembangan dan inovasi metode pembelajaran PAI.

Landasan filosofis pendidikan merupakan bagian penting yang harus dipelajari dalam dunia pendidikan, hal ini dikarenakan pendidikan bersifat normatif dan perspektif. Selain itu juga, dengan filosofis pendidikan kita akan mengetahui mengapa, apa, dan bagaimana kita melakukan pelajaran, siapa yang kita ajar dan mengenai hakikat belajar. Hal ini merupakan seperangkat prinsip yang menuntun kita dalam melakukan tindakan profesional melalui kegiatan dan masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari.Selain itu juga seiring dengan derasnya arus tukar informasi mengenai sistem pendidilkan yang beragam di berbagai negara, berkembang pula sebuah disiplin baru yang dipandang sejak tahun 1960, yang disebut comparative education. Tujuannya adalah mengetahui berbagai macam perbedaan sistem pendidikan di dunia. Dengan kata lain, bertujuan untuk mengetahui berbagai prinsip yang mendasari pengaturan perkmbangan sistem pendidikan nasional.

Filosofis pengembangan dan inovasi metode pembelajaran PAI adalah asumsi filosofis yang dijadikan titik tolak dalam rangka studi dan praktek pendidikan. Dalam pendidikan terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. Melalui studi pendidikan akan diperoleh pemahaman tentang landasan-landasan pendidikan,yang akan dijadikan titik tolak praktek pendidikan. Dengan demikian, landasan filosofis pendidikan sebagai hasil studi pendidikan tersebut, dapat dijadikan titik tolak dalam rangka studi pendidikan yang bersifat filsafiah, yaitu pendekatan yang lebih komprehensif, spekulatif, dan normatif. Peranan landasan filosofis pendidikan juga memberikan rambu-rambu apa dan bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan. Mustadi (2015) mengatakan bahwa Kebutuhan akan guru sebagai tenaga pendidik yang berkualitas dan profesional sangat penting.

3.      Tujuan Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

Pada hakikatnya yang menjadi dasar dan tujuan pengembangan dan inovasi metode dalam pembelajaran PAI adalah mengacu pada inovasi pendidikan, karena pembelajaran merupakan suatu komponen dari pendidikan itu sendiri. Salah satu permasalahan serius yang dihadapi dunia pendidikan sekarang ini adalah rendahnya kualitas pembelajaran, termasuk pembelajaran PAI. Proses pembelajaran pendidikan agama yang terjadi kerap kali baru bersifat seadanya, rutinitas, formalitas, kaku, dan kurang makna. Informasi materi pelajaran yang diperoleh dari guru lebih banyak mengandalkan indera pendengaran. Dalam situasi itu indera lain yang dimiliki oleh peserta didik tidak dapat difungsikan secara optimal. Peserta didik akan memahami pelajaran hanya sebagai materi hafalan. Kejenuhan peserta didik terhadap suatu mata pelajaran akan diikuti dengan turunnya prestasi belajar

Indikator dari turunnya presasi belajar itu dapat diketahui dari analisis butir soal, daya serap, rata-rata nilai ulangan harian, dan ulangan blok dari waktu ke waktu. Adapun tujuan pembaharuan pendidikan adalah meningkatkan efesiensi, relevansi kualitas dan efektifitas, sarana serta jumlah peserta didik yang sebanyak banyaknya, dengan hasil pendidikan yang sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat dan pembangunan) dengan menggunakan tenaga, sumber, uang, alat, dan waktu yang sekecil-kecilnya.

Selanjutnya B. Suparna menjelaskan sebagaimana dikutip oleh Martin Sardi, disamping pembaharuan itu untuk memenuhi kebutuhan yang dihadapi dan tantangan terhadap masalah-masalah pendidikan serta tuntutan zaman, perubahan pendidikan juga merupakan usaha aktif untuk mempersiapkan diri di hari esok yang lebih baik dan memberi harapan yang sesuai dengan cita-cita yang didambakan.

Mengacu pada pembaharuan pendidikan di atas, maka upaya tujuan dari inovasi pembelajaran PAI disini adalah mengembangkan perencanaan pembelajaran pendidikan agama yaitu diantaranya; memilih dan menetapkan metode pembelajaran pendidikan agama yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. Karena itu, penekanan utama dalam perencanaan pembelajaran adalah pada pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode pembelajaran pendidikan agama.

Pemilihan metode pembelajaran pendidikan agama harus didasarkan pada analisis kondisi pembelajaran pendidikan agama yang ada, yang nantinya hasil analisis akan menunjukkan kondisi pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan. Setelah menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran pendidikan agama dalam kegiatan perencanaan pembelajaran akan diperoleh informasi yang lengkap mengenai kondisi riil yang ada dan hasil pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan.

Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan hususnya proses belajar mengajar. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran.

.

4.      Langkah-Langkah Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI

Langkah-langkah pengembangan dan inovasi metode pembelajaran PAI diantaranya:

1)      Identifikasi Masalah dan Analisis Kebutuhan

Langkah identifikasi masalah dan analisis kebutuhan merupakan awal dari semua langkah inovasi dalam pembelajaran. Dalam melakukan inovasi guru terlebih dahulu harus mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Langkah ini sangat penting dilalui guna menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Hasil dari sebuah analisis awal adalah daftar kebutuhan, jenis dan prioritas kebutuhannya. Inovasi yang dilakukan diharapkan akan bermanfaat dan berdampak positif bagi banyak orang khususnya bermanfaat untuk siswa yang ajar dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Manfaat lainnya adalah guru lain bisa menjadikan hasil analisis sebagai referensi guna memperbaiki pembelajaran.

Pada umumnya, analisis kebutuhan ditujukan pada tiga subjek sasaran yaitu,

·         Analisis Kurikulum

·         Analisis Sasaran dan

·         Analisis tren perkembangan teknologi. Analisis kurikulum ditujukan untuk mengetahui secara rinci kebutuhan berdasarkan tuntutan kebutuhan kurikulum. Kurikulum yang senantiasa dinamis memerlukan analisis yang lebih tajam.

2)      Penyusunan Rancangan Inovasi

Penyusunan rancangan inovasi perlu dilakukan oleh guru. Terdapat dua pendekatan langkah penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, yaitu pendekatan idealis dan pendekatan pragmatis.

3)      Pengembangan Rancangan Inovasi

Pengembangan rancangan inovasi terhadap RPP perlu dilakukan untuk disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Aktivitas pengembangan yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dengan cara mengajak rekan sesama guru untuk berdiskusi mengenai bagaimana pengembangan RPP ini dilakukan.

4)      Pelaksanaan Uji Coba

Semua rancangan inovasi yang telah disiapkan harus melalui uji coba terlebih dahulu sebelum diterapkan dalam proses pembelajaran. Hasil uji coba inovasi tidak perlu mengkhawatirkan berhasil atau tidaknya. Setiap kendala yang ditemukan dalam proses uji coba harus diyakini sebagai sebuah pembelajaran yang akan berdampak positif terhadap guru maupun siswa.

5)      Pengendalian dan Perbaikan

Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan oleh guru harus melakukan perbaikan pada setiap kelemahan-kelemahan yang mungkin saja muncul selama proses perancangan.

6)      Implementasi

Setelah semua dirasa siap maka tindakan selanjutnya adalah implementasi terhadap inovasi dalam pembelajaran. Kesiapan guru dalam mengimplementasikan inovasi pembelajaran ini menjadi kunci kesuksesan di lapangan.

7)      Evaluasi

Usai melakukan implementasi selanjutnya guru harus melakukan evaluasi guna perbaikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya. Dalam melakukan evaluasi guru harus mampu mengidentifikasi tingkat keberhasilan dalam menerapkan rancangan yang telah diterapkan dan bagian-bagain apa saja yang harus diperbaiki.

Selain itu, guru juga harus menganalisis problem pembelajaran yang harus diselesaikan, jenis aktivitas yang menggambarkan berbagai strategi yang mungkin cocok untuk menyelesaikan persoalan, perbaikan kegiatan, instrumen untuk mengumpulkan data, hasil yang diperoleh dalam menggunakan teknologi, cara alternatif yang lebih baik, sesuatu yang harus diganti dan diperbaiki untuk memperoleh hasil yang lebih baik pada pembelajaran berikutnya.

5.      Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Metode Pembelajaran PAI dalam Pendidikan Era Society 5.0.

Era super smart society atau dikenal dengan nama era society 5.0 adalah sebuah era yang dicetuskan oleh pemerintah Jepang. Era ini diperkenalkan dalam Forum Ekonomi Dunia yang dilaksanakan di Davos, Swiss pada tahun 2019. (Puspita et al., 2020). Era super smart society adalah sebuah era dimana masyarakat harus bisa menyelesaikan berbagai permasalahan sosial yang diakibatkan oleh penemuan di era industri 4.0 yakni artificial intelligence, internet of things, teknologi robot, hingga big data yang tentunya bisa menggantikan sebagian kebutuhan tenaga manusia (Sawitri, 2019). 

Penerapan teori multiple intelligences dalam pendidikan yang kemudian digambarkan dalam model pembelajaran. Model pembelajaran ini terdiri dari pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran. Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligences. Pendekatan yang digunakan adalah student centered. Student Centered Learning (SCL) adalah salah satu pembelajaran yang bebasis pada aktivitas siswa dan menerapkan prinsip learning by doing. (Antika, 2014) menyatakan bahwa murid bukanlah objek pembelajaran dimana guru memberikan informasi, tetapi murid adalah subjek yang memiliki potensi. Potensi inilah yang harus distimulasi dan dikembangkan untuk mencapai kemampuan yang optimal.

Strategi Pembelajaran Multiple Intelligences dilakukan dengan membuat kelas berdiferensiasi. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk mengimplementasikan kelas berdiferensiasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Arends dan Kilcher dalam (Istiningsih & Nisa, 2015) yakni : a) Melakukan perencanaan. Perencanaan ini dapat dilakukan melalui tiga hal yakni: (1) melakukan identifikasi IQ; (2) Setelah mendapatkan hasil dari tes IQ maka selanjutnya menganalisis kemampuan dan kelemahan yang dimiliki siswa ; dan (3) membuat kelompok- kelompok belajar kecil sesuai dengan minat dan kemampuan siswa. Sehingga dalam hal ini siswa tidak ditekankan untuk menguasai hal yang sama. b) Mengatur kelas berdiferensiasi Pengaturan kelas ini dilakukan secara fleksibel yakni ada saatnya siswa untuk melakukan kegiatan secara individu, kelompok kecil ataupun ada saatnya pembelajaran klasikal (bersamaan).c) Penilaian yang tepat dalam kelas berdiferensiasi Penilaian kelas ini terdiri dari penilaian yang dilakukan diawal (diagnostik), penilaian tengah (formatif) dan penilaian akhir (sumatik).

Metode Pembelajaran Multiple Intelligences Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini disesuiakan dengan setiap kecerdasan. Di Indonesia penerapan kecerdasan ini sudah dilakukan sejak dahulu. Hal ini tercermin dari salah satu tokoh pahlawan nasional bernama KH. Ahmad Dahlan. Hal ini diungkapkan oleh (Amelia & Dahlan, 2021) bahwa K. H. Ahmad Dahlan membawa ilmu agama ke dalam pendidikan modern bukan hanya mengajarkannya kepada siswa, melainkan kepada guru-gurunya juga. Adapun metode yang bisa digunakan untuk mengembangkan kecerdasan ini yakni menggunakan metode ceramah atau bercerita.


Kamis, 19 Mei 2022

PENGEMBANGAN DAN INOVASI SILABUS DAN RPP PAI

A.      Karakteristik Silabus dan RPP PAI

Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu sebagai hasil dari seleksi, pengelompokkan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat. Silabus adalah pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar (Abdul Majid, 2012: 38-39).

Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok, Kegiatan pembelajaran, Alokasi Waktu, Sumber Belajar,  dan Penilaian. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab permasalahan-permasalahan sebagai berikut.

a.       Kompetensi apa saja yang harus dicapai siswa sesuai dengan yang dirumuskan oleh  Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).

b.      Materi Pokok apa sajakah yang perlu dibahas dan dipelajari peserta didik untuk mencapai Standar Isi.

c.       Kegiatan pembelajaran yang bagaimanakah yang seharusnya diskenariokan oleh guru sehingga peserta didik mampu berinteraksi dengan objek belajar.

d.      Indikator apa sajakah yang harus ditentukan untuk mencapai Standar Isi.

e.       Bagaimanakah cara mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan Indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.

f.        Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai Standar Isi tertentu.

g.      Sumber Belajar apa sajakah yang dapat diberdayakan untuk mencapai Standar Isi tertentu.

Pengembangan RPP harus memperhatikan perhatian dan karakteristik peserta didik terhadap materi standar yang dijadikan bahan kajian. Dalam hal ini perlu diperhatikan agar guru jangan hanya berperan sebagai transformator, tetapi harus berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan gairah dan nafsu belajar, serta mendorong peserta didik untuk belajar, dengan menggunakan berbagai variasi media, dan sumber belajar yang sesuai, serta menunjang pembentukann standar kompetensi dan kompetensi dasar (Mulyasa, 2007: 218-219).

Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik yang khas. adapun karakteristik masing-masing mata pelajaran dapat di lihat pada standar isi (Permen Diknas Nomor 22 TAhun 2006)

B.     Dasar Filosofis Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Berlandaskan Undang-Undang Republik nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional, berkewajiban menetapkan berabagai peraturan tentang standar penyelenggaraan pendidikan diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Standar nasional pendidikan yang dimaksud meliputi: (1) standar isi, (2) standar kompetensi ulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) sstandar penilaian.

Salah satu dari kedelapan standar itu adalah standar isi. Standar isi memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD), yang harus dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada gilirannya mencapai standar kompetensi lulusan (SKL). Agar peserta didikdapat mencapai SK, KD, maupun SKL secara optimal, perlu didukung oleh berbagai standar lainnya dalam sebuah sistem yang utuh. Salah satu standar tersebut adalah standar proses. Standar proses mengisyaratkan bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan perencanaan pembelajaran seperti rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. RPP perlu dikembangkan untuk mengkoordinasikan komponen pembelajaran, yani: kompetensi dasar, materi standar, indicator hasil belajar, dan penilaian. Kompetensi dasar berfungsi mengembangkan potensi peserta didik; materi standar berfungsi memberi makna terhadap kompetensi dasar; indicator hasil belajar berfungsi menunjukan keberhasilan pembentukan kompetensi peserta didik; sedangkan penilaian berfungsi mengukur pembentukan kompetensi dan menentukan tindakan yang harus dilakukan apabila kompetensi standar belum terbentuk atau belum tercapai. 

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) KTSP yang akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran, sedikitnya mencakup tiga kegiatan, yaitu: identifikasi kebutuhan, perumusan kompeensi dasar, dan penyusunan program pembelajaran.

a.       Identifikasi kebutuhan bertujuan untuk melibatkan dan memotivasi siswa, agar kegiatan belajar dirasakan oleh mereka sebagai bagian dari kehidupannya dan mereka merasa memilikinya.

b.      Identifikasi kompetensi yang harus dipelajari dan dimiliki siswa, perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar. Siswa perlu mengetahui tujuan belajar, dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, dikembangkan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, penilaian pencapaian kompetensi harus dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja siswa, dengan bukti penguasaan mereka terhadap suatu kompetensi yang telah ditentukan.

c.       Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada rencana pelaksanaan pembelajaran, sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode dan teknil, media dan sumber belajar, waktu belajar, dan daya dukung lainya.

 

C.    Tujuan Pengembangan dan Inovasi Silabus dan RPP PAI\

 

Adapun fungsi dan Tujuan pengembangan silabus dan RPP dalam pembelajaran antara lain:

1.      Memperkirakan tindakan yang akan dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran.

2.      Pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran.

3.      Fungsi perencanaan, yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran yang hendaknya dapat mendorong guru lebih siap melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, setiap akan melakukan pembelajaran guru wajib memiliki persiapan, baik persiapan tertuis maupun tidak tertulis.

4.      Fungsi pelaksanaan, yaitu fungsi untuk mengefektifkan proses pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan guru. Oleh karena itu, RPP harus disusun secara sitematis dan sistemik, utuh dan menyeluruh, dengan beberapa kemungkinan penyesuaian dalam situasi pembelajaran yang aktual sehingga guru lebih siap untuk mengimplementasikannya. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran harus terorganisasi melalui serangkaian kegiatan tertentu, dengan strategi yang tepat dan mumpuni.

5.      Tujuan pengembangan silabus sebagai pedoman pengembangan perangkat pembelajaran lebih lanjut, mulai dari perencanaan, pengelolaan kegiatan pembelajaran dan pengembangan penilaian. Silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standart kompetensi dan kemampuan dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam mencapai standart kompetensi dan kemampuan dasar.

 

D.   Langkah-Langkah Pengembangan dan Inovasi Silabus dan RPP PAI

 

Langkah-Langkah Pengembangan Silabus PAI

1.      Mengkaji Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a.       Urutan berdasarkan hirarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi.

b.      Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran.

c.       Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

2.      Mengidentifikasi materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

a.     Potensi peserta didik.

b.      Relevansi dengan karakteristik daerah.

c.       Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik.

d.      Kebermanfaatan bagi peserta didik.

e.       Struktur keilmuan.

f.        Aktualitsasi, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran.

g.      Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan.

h.      Alokasi waktu.

3.    Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.

c. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.

d.   Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

4.      Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5.    Menentukan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Terdapat beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian, yaitu:

a.    Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi

b.    Penilaian menggunakan acuan kriteria

c.    Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.

d.    Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut.

e.    Sistem penilaian harus disesuaiakan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran.

6.      Menentukan Alokasi Waktu

Penetuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasaan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakanperkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

7.      Menentukan Sumber/Bahan Ajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan  untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, narasumber, lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada kompetensi inti dan kompetensi dasar serta materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi

Langkah-langkah pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran PAI :

a.       Mengisi kolom identitas.

b.      Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan.

c.       Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indicator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun.

d.      Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indicator yang telah ditentukan.

e.       Mengidentifikasi materi standar berdasarkan materi pokok! Pembelajaran yang terdapat dalam silabus, materi standar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran.

f.        Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.

g.      Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.

h.      Menentukan sumber belajar yang digunakan.

i.        Menyusun criteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, dan teknik penskoran.

 

E.     Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Silabus dan RPP PAI dalam Pendidikan Era Society 5.0.

Di era revolusi terutama era revolusi industri 4.0, selain menyusun perencanaan pembelajaran yang bersifat beberapa literasi juga perlu dikuasai oleh guru.

1.      Literasi data.

Literasi data yakni kemampuan dalam membaca, menganalisis, dan mempergunakan atau mengolah informasi (Big Bang) di dunia digital. Adapun yang dimaksud Big Bang dalam dunia digital yakni pengolahan dan analisis data dalam jumlah yang begitu besar sehingga memungkinkan seseorang membaca dan melakukan analisis terhadap data tersebut sehingga dapat dimanfaatkan demi kepentingan hidup manusia. Di dunia pendidikan, data menjadi hal yang penting, baik data sederhana maupun kompleks. Sudah menjadi tugas dari tenaga pendidik / guru memiliki kemampuan dalam mengolah, menganalisis dan menyusun secara sistematis data yang dimilikinya. Di era revolusi industri 4.0 tentu akan memberikan kemudahan dalam mengelola dan memanajemen data. Data dapat dimanfaatkan kapan pun dan di mana pun guru tersebut berada.

Adapun berikut merupakan beberapa fasilitas online yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam menyimpan dan mengelola data ialah sebagai berikut:

a.       Google Drive

Google Drive merupakan media penyimpanan data yang dapat dipergunakan secara online atau daring melalui internet dari Google. Google Drive memberikan pelayanan yang berbentuk aplikasi atau software yang dapat diakses melalui smartphone ataupun PC sehingga mempermudah dalam melakukan pencadangan data. Berbagai file seperti dokumen, foto/gambar, audio maupun video dapat disimpan secara online karena kapasitas yang dimiliki Google Drive cukup besar yaitu 15 gigabyte.

b.      Dropbox

Dropbox merupakan jaringan penyimpanan data berkas dengan system internet. Jika Google Drive memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 15 gigabyte, maka Dropbox memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 2 gigabyte.

2.       Literasi teknologi

Literasi teknologi merupakan kemampuan dalam mempergunakan teknologi digital, alat komunikasi dan jaringan yang tepat dalam memperoleh solusi permasalahan informasi. Artinya, kemampuan dalam mempergunakan teknologi sebagai alat penelitian dalam mengatur, mengevaluasi dan menyampaikan informasi sesuai etika. Literasi teknologi berkaitan dengan cara manusia memanfatkan teknologi secara baik untuk kemashlahatan dunia terlebih pada dunia pendidikan. Teknologi sederhana apabila diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran maka akan berbeda dengan pembelajaran konvensional.  Literasi teknologi akan memberikan dampak pada guru yakni lebih kreatif dalam merencanakan pembelajaran

Sebelum melaksanakan suatu pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan hal-hal berikut dalam memutuskan bagaimana pendidikan dan pembelajaran dilaksanakan:

1.      Pembelajaran berpusat kepada peserta didik (Student Centered Learning)

Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik artinya guru bukan menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di kelas. Peserta didik harus berperan aktif dalam mencari dan memperoleh informasi baru ketika terdapat suatu permasalahan (learning how to learn) supaya peserta didik dapat berkompetisi dan berkontribusi di masyarakat global di masa mendatang khususnya menghadapi era society 5.0. Dalam Student Centered Learning, guru berada dalam posisi sebagai fasilitator bagi peserta didik, peserta didik akan mengumpulkan informasi sendiri dengan tetap mendapatkan bimbingan dari guru.

2.      Kolaborasi peserta didik

Kolaborasi peserta didik artinya seluruh peserta didik harus bekerja bersama dalam memperoleh informasi, mengumpulkannya, dan membangun makna.

3.      Meaningful Learning (pembelajaran bermakna/bermanfaat)

Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik bukan berarti guru memberikan seluruh kendali atas kelas kepada peserta didik. Namun guru tetap memberikan dorongan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya belajar yang mereka rasa nyaman, dalam hal ini guru tetap memberikan bimbingan terkait keterampilan yang perlu diperoleh oleh peserta didik. Poin penting dapat dibuat oleh guru untuk membantu peserta didik memahami cara menjadikan keterampilan yang mereka bangun dapat diimplementasikan di kehidupan mereka. Peserta didik akan merasa lebih mendapatkan motivasi dalam mempelajari sesuatu yang dapat mereka lihat manfaat dan nilainya.

Metode pembelajaran era society 5.0 memberikan penekanan pada penguasaan terhadap metode pembelajaran pendidik/guru, pelaksanaannya di dalam kelas dan pengembangan dalam pembelajaran. Inovasi pembelajaran memanfaatkan seluruh potensi yang ada seperti penguasaan terhadap teknologi maupun implementasinya di dalam pembelajaran. Inovasi di dalam pembelajaran dapat menjadi referensi bagi guru untuk melakukan berbagai metode sebagai berikut:

1.      Multimetode

Dalam menerapkan pengembangan inovasi pembelajaran, seorang pendidik tentu memerlukan adanya modal yang begitu penting, yakni memiliki penguasaan terhadap beberapa metode dalam suatu pembelajaran.

2.      Internet

Di internet terdapat banyak situs maupun laman yang menawarkan ribuan atau bahkan jutaan referensi yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan pembelajaran.

3.      Pengalaman

Apabila pendidik memiliki pengalaman yang banyak, maka pendidik tersebut akan semakin mudah dalam mengembangkan model dan metode pembelajaran. Dengan pengalaman tersebut pendidik akan dapat melakukan modifikasi terhadap model maupun metode pembelajaran.

4.      Uji coba

Mencoba merupakan langkah nyata yang dapat dilaksanakan oleh pendidik demi memunculkan inovasi pembelajaran.

5.      Kreativitas

 Kreativitas pendidik bisa melalui penerapan metode pembelajaran yang baru, pemberian nama yang unik, tidak sulit diingat atau bahkan populer.

Terkait dengan model-model pembelajaran yang sesuai dengan era society 5.0 dapat diketahui sebagai berikut:

1.      Model Discovery-Inquiry

Metode pembelajaran discovery (penemuan) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan guru dengan mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya tanpa pemberitahuan, akan tetapi sebagian atau seluruhnya ditemukan oleh peserta didik itu sendiri. Model pembelajaran ini fokus pada pemecahan masalah, sehingga perlu adanya eksplorasi berbagai informasi oleh peserta didik sehingga mereka dapat menentukan bagaimana mentalnya setelah memperoleh pertanyaan yang mengacu pada pencapaian tujuan pembelajaran. Model pembelajaran Discovery-Inquiry dapat diimplementasikan untuk membiasakan peserta didik berpikir tingkat tinggi, (high order thinking) atau yang disingkat HOT, berpikir secara ilmiah, tidak bergantung kepada oranglain dan tidak hanya mengutamakan ketrampilan kognitifnya dalam memecahkan suatu masalah.

Adapun langkah-langkah persiapan model pembelajaran Discovery Learning adalah:

a.       Menentukan tujuan pembelajaran

b.      Melakukan identifikasi karakteristik siswa yang meliputi kemampuan awal, minat, gaya belajar dan lain sebagainya.

c.       Melakukan pemilihan materi pelajaran

d.      Menentukan topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif

e.       Melakukan pengembangan bahan dalam pembelajaran yang meliputi contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk kemudian dipelajari oleh peserta didik.

f.        Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana menjadi topik pelajaran yang kompleks, yang semula konkret menjadi abstrak

g.      Melakukan penilaian proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

 

2.      Model Flipped Classroom

Model pembelajaran ini diberikan kepada peserta didik sebelum proses pembelajaran dan ketika sudah berlangsung kegiatan pembelajaran peserta didik diminta untuk fokus dalam melakukan diskusi materi atau permasalahan yang masih belum dipahami atau fokus mengerjakan tugas yang diberikan pendidik.

3.      Model Project Based Learning

Metode pembelajaran ini merupakan pembelajaran berbasis priyek dimana peserta didik diminta untuk menerapkan, mengerjakan dan menghasilkan sesuatu dalam pembelajaran. Sesuatu yang dihasilkan tersebut tentu dapat dilihat, dipelajari, diteliti dan ditiru oleh orang lain. Model pembelajaran ini dapat diimplementasikan oleh pendidik untuk melatih peserta didik agar mampu mencari solusi dan bekerjasama dalam mengerjakan sebuah proyek.

4.      Model blended learning

Pembelajaran hibrid merupakan proses pemerolehan pengetahuan dan keterampilan yang berpusat pada peserta didik dengan mengintegrasikan digital (internet dan mobile), dicetak, direkam dan kegiatan kelas tatap muka tradisional melalui metode yang terencana dengan memfasilitasi siswa untuk mengarahkan sendiri proses belajarnya dengan menentukan metode dan materi pembelajaran yang tersedia sesuai karakteristik dan kebutuhan individualnya. Model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh melalui media dan teknologi. Hal ini dapat melatih peserta didik untuk lebih mandiri dalam mengakses sumber atau referensi belajar serta mengembangkan skill dalam pemahaman teknologi.

5.      Model Self Organized Learning Environments/SOLE

Model pembelajaran ini fokus pada proses pembelajaran mandiri dengan pemanfaatan internet dan perangkat pintar peserta didik. Hal ini untuk melatih peserta didik dalam berpikir secara kreatif, kemampuan menyelesaikan masalah dan kemampuan dalam berkomunikasi.


Rabu, 11 Mei 2022

PENGEMBANGAN DAN INOVASI MATERI PEMBELAJARAN PAI

 

A.  Karakteristik Materi Pembelajaran PAI

Sebagai mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah baik yang umum maupun yang khusus, Pendidikan Agama Islam mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan pelajaran lainnya. Apabila diringkas adalah sebagai berikut :

a.      Pendidikan Islam merujuk pada aturan-aturan yang sudah pasti.

Pendidikan Agama Islam mengikuti aturan atau garis-garis yang sudah jelas dan pasti serta tidak dapat ditolak dan ditawar. Aturan itu adalah al-Quran dan al-Hadits.  Pendidikan pada umumnya bersifat netral, artinya pengetahuan itu diajarkan sebagai mana adanya dan terserh kepada manusia yang hendak mengarahkan pengetahuan itu. Ia hanya mengajarkan, tetapi tidak memberikan petunjuk kearah mana dan bagaimana memberlakukan pendidikan itu.

Pengajaran umum mengajarkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang bersifat relative, sehingga tidak bisa diramalkan ke arah mana pengetahuan keterampilan dan nilai itu digunakan, disertai dengan sikap yang tidak konsisten karena terperangkap oleh. perhitungan untung rugi, sedangkan Pendidikan Agama Islam memiliki arah dan tujuan yang jelas, tidak seperti pendidikan umum.

b.      Pendidikan Agama Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.

Pendidikan Agama Islam seperti diibaratkan mata uang yang mempunyai dua sisi, pertama; sisi keagamaan yang menjadi pokok dalam substansi ajaran yang akan dipelajari, kedua; sisi pengetahuan berisikan hal-hal yang mungkin umum dapat di indera dan diakali, berbentuk pengalaman factual maupun pengalaman pikir.

Sisi pertama lebih menekankan pada kehidupan dunia sedangkan sisi kedua lebih cenderung menekankan pada kehidupan akhirat namun, kedua sisi ini tidak dapat dipisahkan karena terdapat hubungan sebab akibat, oleh karena itu, kedua sisi ini selalu diperhatikan dalam setiap gerak dan usahanya, karena memang Pendidikan Agama Islam mengacu kepada kehidupan dunia dan akhirat.

c.       Pendidikan Agama Islam bermisikan pembentukan akhlakul karimah

Pendidikan Agama Islam selalu menekankan pada pembentukan akhlakul karimah, hati nurani .untuk selalu berbuat baik dan bersikap dalam kehidupan sesuai dengan norma-norma yang berlaku, tidak menyalahi aturan dan berpegang teguh pada dasar Agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

d.      Pendidikan Agama Islam diyakini sebagai dakwah atau misi suci

Pada umumnya, manusia khususnya kaum muslimin berkeyakinan bahwa penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari dakwah, oleh  karena itu mereka menganggapnya sebagai misi suci. Karena itu dengan menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam berarti pula menegakkan agama, yang tentunya bernilai suatu kebaikan di sisi Allah.

e.       Pendidikan Agama Islam bermotifkan ibadah

Sejalan dengan hal yang dijelaskan pada sebelumnya maka kiprah Pendidikan Agama Islam merupakan ibadah yang akan mendapatkan pahala dari Allah, dari segi mengajar, pekerjaan itu terpuji karena merupakan tugas yang mulia, disamping tugas itu sebagai amal jariah, yaitu amal yang terus berlangsung hingga yang bersangkutan meninggal dunia, dengan ketentuan ilmu yang diajarkan itu diamalkan oleh peserta didik ataupun ilmu itu diajarkan secara berantai kepada orang lain.[1]

 

B.       Bidang Bahasan Materi Pembelajaran PAI

Menurut Abdul Ghofur, Materi Pendidikan Islam adalah bahan-bahan Pendidikan Agama Islam yang berupa kegiatan, pengalaman dan pengetahuan yang disengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam[2]

Di dalam GBPP (Garis Besar Program Pengajaran)  Pendidikan Agama Islam (PAI) disekolah umum dijelaskan bahwa pendidikan Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan sisi dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhaikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam adalah  segala bentuk bahan/materi Ajar Pendidikan Islam  yang digunakan untuk membantu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar tentang Pendidikan Islam. Materi pokok pembelajaran PAI, antara lain :

1.     Aspek Al-Quran dan Hadits

Dalam aspek ini menjelaskan beberapa ayat dalam Alquran, menjelaskan beberapa hukum bacaannya yang terkait dengan ilmu tajwid dan menjelaskan beberapa hadist Nabi Muhammad Saw.

2.         Keimanan Dan Akidah Islam

Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar tentang kepercayaan,  dalam aspek ini menjelaskan berbagai konsep keimanan yang meliputi enam rukun iman dalam Islam.

3.      Aspek akhlak

Dalam aspek ini menjelaskan berbagai sifat- sifat terpuji (akhlak karimah) yang harus diikuti dan sifat- sifat tercela yang harus dijahui.

4.         Aspek Hukum Islam atau Syari’ah Islam

Dalam aspek ini menjelaskan berbagai konsep keagamaan yang terkait dengan masalah ibadah dan mu’amalah atau  hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran, sunnah, dan dalil-dalil syar'i yang lain

5.         Aspek tarikh Islam

Dalam aspek ini menjelaskan sejarah perkembangan atau peradaban Islam yang bisa diambil manfaatnya untuk diterapkan di masa sekarang[3]

 

C.    Dasar Filosofis Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Pengembangan kurikulum PAI sangat perlu dilakukan secara terus menerus untuk merespon perkembangan dan tuntutan tanpa harus menunggu adanya pergantian materi pendidikan agama. Masyarakat saat ini sudah memasuki era globalisasi baik dalam pendidikian maupun ilmu pengetahuan. Banyaknya masalah pendidikan harus segera diatasi tanpa harus menunggu keputusan dari atas (Anna Allaili, 2009: 96).

Dalam pengembangan kurikulum, Islam harus memiliki landasan yang kuat agar supaya nilai kurikulum memiliki nilai guna bagi masyarakat. Landasan kurikulum terdiri dari beberapa landasan, yaitu : landasan filosofi, sosial, budaya dan psikologi. Pendapat tersebut serupa dengan Abdul Majid dan Dian andayani yang dikemukakan oleh Murray Print mengatakan bahwa landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofi, sosial budaya, dan psikologi. Perkembangan ilmu dan teknologi menlengkapi landasan tersebut dengan landasan manajemen (Abdul Majid dan Dian andayani, 2004: 56-63).

Salah satu landasan yang termasuk dalam hal ini adalah Landasan filosofis. Secara umum, ruang lingkup filsafat adalah semua permasalahan kehidupan manusia, alam dan alam sekitarnya. Hal ini juga merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan meliputi, hakikat pendidikan, hakikat manusia, hubungan antara manusia, filsafat dan pendidikan, serta agama dan kebudayaan. Dengan demikian, ruang lingkup filsafat pendidikan adalah semua upaya manusia untuk memahami hakikat pendidikan (Zainal Arifin: 47-50).

Landasan ini sangat penting agar melihat suatu fenomena atau persoalan dengan sebenar-benarnya sehingga dapat menjadi penyelesaian secara bijak dan akurat. Beberapa pandangan filsafat umum telah mendasari aliran filsafat pendidikan yang bukan saja berpengaruh pada kurikulum, bahkan menentukan keputusan pendidikan, kurikulum dan pembelajaran. beberapa aliran filsafat utama pendidikan tersebut sebagai berikut:

1)      Perelianisme

Salah satu aliran klasik yang paling berakar dari aliran realisme. Filsafat ini termasuk filsafat tertua, Mohammad Ansyar menyatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional. Sedangkan pendidikan yang sesuai dengn filsafat ini ialah pengembangan intelektualitas manusia (Mohamad Ansyar, 2015: 78).

Menurut perelianisme, manusia dianugrahi kemampuan berpikir, pendidikan harus lebih fokus pada pengembangan k emampuan berpikir siswa. Pengembangan kemampuan berpikir dapat diperoleh melalui kelayakan intelektual rill klasik yang dimiliki oleh manusia (Mohamad Ansyar, 2015: 87).

Tujuan pendidikan perelianisme untuk memanusiakan siwa, dalam arti tradisonal yakni mengembangkan kemampuan rasional, agamis dan etika sehingga berkontribusi kedalam perubahan tingkah laku siswa melalui kemampuan intelektual. Oleh karena itu, implikasi ide perelianis terhadap kurikulum ialah mengabaikan potensi siswa bukan saja karena aliran ini menganggap bakat, melainkan siswa mempunyai kemampuan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Kaum realis tidak memberikan penghargaan khusus pada pemikiran manusia khususnya kaum idealis, karena pikiran itu hanya merupaka bagian integral dari manusia yang diciptakan untuk melakukan tugas khusus. Realis menekankan pada hubungan sebab akibat dalam dunia nyata yang berimplikasi bahwa realisme lebih realistis, yaitu fokus pada benda seperti apa adanya, bukan seperti apa seharusnya.

Implikasi realis pada pendidikan ialah mengajar anak memahami dan menyesuaikan diri dengan orde alam. Mereka harus mengajarkan cara-cara hidup yang harmonis dengan alam yang memperlihatkan gejala yang beragam dan guru harus mampu meengajar dan membimbing anak untuk memahami hakikat benda-benda dan hukum alam yang penuh dengan keteraturan.

Selain itu, kurikulum menurut kaum realis terdiri dari pengajaran fisika dan ilmu sosial yang menerangkan fenomena alam. Tekanan besar diberikan pada pengejaran sains dan matematika. Kaum realis mengutamakan pelajaran umum dan abstrak karena mata pelajaran tersebut terkait latihan maupun kemampuan berpikir logis atau berpikir rasional. Dengan kata lain, kaum realis menuntut guru menguasai konsep dasar mata pelajaran dan menyusunnya dalam unit-unit yang diajarkan serta pula pembelajaran yang dipahami oleh siwa untuk memenuhi kebutuhan siswa.

2)      Esensialisme

Aliran ini adalah aliran yang berakar pada realis dan idealis sebagai reaksi terhadap progresivisme. Jadi aliran ini merupakan salah satu pandangan filsafat yang paling tua dan sangat berperan dalam pendidikan. Aliran ini menginginkan agar pendidikan fokus pada mempertahankan peradaban manusia dengan mentrasfernya melalui pengembangan kemampuan intelektual, baik dalam proses maupun dalam konten pendidikan (Nur Faida: 172).

Oleh karena itu, aliran ini berpendapat bahwa ilmu itu sangat penting untuk pengembangan kemampuan siswa. Menurutnya pendidikan merupakan essential skill seperti membaca, menulis, dan berhitung serta keterampilan riset disekolah dasar. Kaum perelianis memandang pengajaran untuk mengembangkan kemampuan nalar anak, suatu hal yang benar sepanjang masa dan menghidupkan kekayaan cultural, kaum esensial menginginkan kemampuan intelektual anak diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan modern melalui disiplin akademik.

3)      Progresivisme

Aliran ini bermula sejak kehidupan politik Amerika pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Progresivisme dikembangkan berdasarkan filsafat pragmatis sebagai proses terhadap pendidikan tradisional. Pragmatis memandang manusia sebagai realita selalu berada dalam perubahan, pemulihan, dan penggunaan intelegensi yang kritis.

Menurut pragmatis, pembelajaran harus menumbuhkan meaningful learning experiences bagi siswa, memiliki pengalam yang bermakna, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui penglihatan, perabaan, dan perasaan. Dari pandangan ini muncullah sebuah ide bahwa pendidikan harus dilihat sebagai alat untuk menciptakan kembali, mengontrol, dan mengarahkan pengalaman untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu siswa dalam memecahkan masalah kehidupan, karena tugas guru yang professional adalah memberikan fasilitas untuk siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, siswa harus difasilitasi dan dimotivasi agar berkontruksi dengan realita yang ada. Kurikulum yang ada pada progresivisme lebih mengutamakan proses daripada produk, mata pelajaran menjadi alat daripada target kurikulum, dan siswa diberdayakan sebagai subjek pendidikan bagi dirinya daripada sebagai objek pengajaran bagi guru.

Kurikulum progresif bukan focus pada pengajaran, tetapi pada pembelajaran kegiatan dan kesempatan belajar kepada siswa untuk memperoleh pengalaman. Dengan demikian, siswa harus difasilitasi dan dimotivasi agar dapat mengkontruksi sendiri realita yang ada bermodalkan pengetahuan yang telah dipelajari selama ini. Implikasi kurikulum progresif lebih mengutamakan proses dari pada produk, menjadikan mata pelajaran sebagai alat daripada sebagai target kurikulum, dan siswa diberdayakan sebagai subjek pendidikan bagi dirinya sendiri. Kurikulum progresif berpusat pada siswa, berorientasi pada proses, mengutamakan pengalaman melalui kesempatan belajar relevan dengan tujuan.

4)      Rekontruksionisme

Filsafat rekontruksionisme berakar pada ide dan sosiologi dan merupakan pecahan dari progresifisme. Kelompok ini menginginkan agar sekolah lebih terarah pada pendidikan berbasis masyarakat yang peduli pada kebutuhan semua kelas sosial, bukan hanya mengembangkan kebutuhan diri sendiri.

Aliran ini menolak pendidikan untuk adaptasi siswa terhadap kebudayaan yang ada, para rekontruksionisme mengunggulkan pendidikan bagi perubahan sosial agar masyarakat lebih baik dari sebelumnya. Pemikiran progresifisme sama dengan rekontruksionisme menginginkan kurikulum sebagai instrument untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan agar siswa bisa melakukan rekontruksi sosial melalui mata pelajaran yang relevan, seperti sosiologi, ekonomi, antropologi, ilmu politik dan psikologi.[4]

 

D.    Tujuan Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Pengembangan  materi PAI memiliki tujuan terencana, yaitu:

1.        Mempersiapkan kegiatan pembelajaran dalam berbagai situasi supaya dapat berlangsung secara optimal

2.      Meningkatkan motivasi pengajar untuk mengelola kegiatan belajar mengajar

3.      Mempersiapkan kegiatan belajar mengajar dengan mengisi bahan-bahan yang  baru, ditampilkan dengan cara baru dan dilaksanakan dengan strategi pembelajaran yang baru pula.

4.      Memberikan pengetahuan baru untuk peserta didik maupun pendidik

Menurut Choirul inovasi pembelajaran bertujuan antara lain: pertama, mengaplikasikan model-model pembelajaran yang aktual terutama pembelajaran kontekstual, pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kedua, membekali siswa untuk belajar dalam dunia atau pengalamannya sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, membekali siswa untuk belajar aktif, kreatif dan menyenangkan serta dapat mengonstruk pemahaman mereka, membuat kesan mendalam tentang apan yang dipelajarinya serta meningkatkan motivasi belajar siswa baik din dalam maupun di luar sekolah. Keempat, mengetahui situasi dan kondisi secara mendalam di lapangan pembelajaran sehingga mengetahuin kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam membentuk watak mandiri, penalar dan pemikir, mengingatkan materi PAI banyak yang bersifat dogmatis atau normatif.[5]

Tujuan dari inovasi pembelajaran PAI adalah mengembangkan perencanaan pembelajaran PAI yang diantaranya adalah memilih dan menetapkan metode pembelajaran pendidikan agama yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.[6] Karena itu, tekanan utama dalam perencanaan pembelajaran adalah pada pemilihan, penetapan, dan pengembangan variabel metode pembelajaran pendidikan agama. Pemilihan metode pembelajarn pendidikan agama harus didasarkan pada analisis kondisi pembelajaran pendidikan agama yang ada, yang nantinya hasil analisis akan menunjukkan kondisi pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan. Setelah menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran pendidikan agama dalam kegiatan perencanaan pembelajaran akan diperoleh informasi yang lengkap mengenai kondisi riil yang ada dan hasil pembelajaran pendidikan agama yang diharapkan.[7]

 

E.     Langkah-Langkah Pengembangan dan Inovasi Materi PAI

Seorang guru professional hendaklah menyusun materi  secara sistematis dan ideal.menurut Fatachana (2011 : 13) materi ajar yang ideal adalah materi yang dibuat melalui langkah-langkah kerja yang sistematis dan detail serta mengembangkannya.

Ø  Langkah cermat dalam pengembangan dan inovasi materi PAI,yaitu:

a.       Analisis Kompetensi Dan Kebutuhan

Proses ini dimulai dengan cara menganalisis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam silabus. Setelah menganalisis SK dan KD, maka dari sini perlu adanya identifikasi terkait apakah kompetensi yang sudah tercantum dalam silabus sesuai dengan kebutuhan siswa(Fatachana, 2011 : 13). Menurut Prastowo (2014: 153) Analisis adalah proses awal yang ditempuh untuk menyusun bahan ajar untuk menyesuaikan tututan kompetensi yang henda dicapai siswa

b.      Memilih Materi Pembelajaran

 Memilih materi ajar dapat berarti mengoleksi beragam materi dari buku yang dipublikasikan, kemudian guru memilih bahan ajar yang ada sesuai dengan tujuannya. Dalam memilih materi pelajaran harus disesuaikan dengan ranah kognitif, afektif, atau psikomotor. Karena ketiganya tentu mempunyai penekanan yang berbeda (Fatachana, 2011 : 13).

c.       Mengumpulkan bahan dari sumber yang relevan

Kemajuan pada bidang penelitian dan perkembangan informasi memberikan kesempatan bagi pendidik untuk memanfaatkan informasi (buku, internet, ensiklopeida, dll). Refrensi yang ada  dapat dikumpulkan dan dapat digunakan sesuai dengan keinginan dan tujuan pembelajaran.

d.  Menyusun materi sesuai dengan yang kongkret dan abstrak untuk memeprmudah siswa dalam memahami.

 e. Pemilihan dan Pengorganisasian Pengalaman Belajar

Pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar dapat dilakukan denganmenggunakan pendekatan strategi, metode, serta teknik yang disesuaikan dengan tujuan dansifat materi yang akan diberikan. Sedangkan, pengalaman belajar siswa dapat diperoleh dari pengalaman belajar visual, audio, audio-visual, perabaan, dan pencuman. Jadi pengalaman belajar yang dipilih harus mencakup berbagai pengalaman yang menarik minat siswa sesuaidengan tujuan pembelajaran, tingkat perkembangan, dan merangsang siswa belajar aktif kreatif.

f.     Pengalaman Alat Evaluasi

Evalusai adalah mengukur apa yang hendak diukur, yaitu dengan menelaah kembaliapakah kegiatan yang telah dilakukan itu sesuai dengan tujuan yang ditetapkan atau belum.Penilaian sendidir merupakan kegiatan pengumpulan informasi, pembuatan pertimbangan,dan pembuatan keputusan. Mengevaluasi berarti memberi atau menilai apakah sesuatu itu bernilai atau tidak, sesuatu itu tercapai atau tidak, sesuatu itu berhasil atau tidak.

Evaluasi berfungsi memberikan informasi akurat dalam kemampuan akademik siswa. Maka, hasil evaluasi akan dimanfaatkan untuk mengadakan revisi atau perubahan total kurikulum menjadi suatu kurikulum yang baru lagi.

 

Ø  Pengembangan dan inovasi Materi. Menurut Komalasari  (dalam Anggraini, 2011: 9-10) materi yang dikembangkan harus memiliki karakteristik dalam pemilihan  fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang harus diajarkan kepada siswa hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:

a.       Keterkaitan dengan konteks lingkungan

b.      Keterkaitan dengan materi pelajaran lain secara terpadu.

Materi lain dalam satu pelajaran dan dengan pelajaran lain sering kali berkaitan  dengan menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu. Salah satu dintaranya adalah dengan memadukan Kompetensi Dasar.  Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya.

c.       Memberikan pengalaman langsung melalui kegiatan inquiry. Materi yang ada dikembangkan sendiri oleh siswa melalui pengalaman langsung dan kegiatan penemuan (inquiry).

d.      Mengembangkan kemampuan kooperatif sekaligus kemandirian. Materi dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa  melalui kerja sama dan mengatur diri sendiri.

e.       Mengembangkan kemampuan melakukan refleksi. Materi yang dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa dalam melakukan refleksi berupa kemampuan umpan balik terhadap penguasaan dirinya terhadap fakta, konsep, prinsip, dan prosedur dikembangkannya materi dan refleksi terhadap penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Dengan demikian pengembangan materi dalam pembelajaran kontekstual pada hakikatnya sangat memperhatikan kedekatan lingkungan siswa dan kebermaknaan materi pembelajaran bagi kehidupan siswa

F.       Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Materi PAI dalam Pembelajaran Era Society 5.0

Society 5.0 merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berbasis modern yang memanfaatkan teknologi internet of things seperti kecerdasan buatan (AI), komputerisasi, juga industry robot. Berikut merupakan contoh pengembangandan inovasi materi yang berkembang sejak kini di indonesia. Diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu

1)        Pengembangan Materi Akidah Akhlak Berbasis Aplikasi Quiper School.

            Pengembangan materi ajar akidah akhlak berbasis quipper school merupakan pembelajaran yang berbasis qupper school, yang efektif untuk pembelajaran mata pembelajaran pendidikan agama Islam materi yang dikembangkan memiliki karakteristik sebagai berikut: bersifat online, dan mencakup berbagai komponen media yaitu teks, gambar, suara dan video, yang diimput melalui aplikasi quipper school, ditinjau dari aspek pembelajaran, materi, dan media, dan jumlah presentasi siswa yang mencapai ketuntasan belajar setelah menggunakan media pembelajaran

 

 

 

 

 

 

Gambar diatas merupakan salah satu pengembangan materi Quipper School berbasis teks sesuai relevan penelitian, materi dikembangkan, dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu analisis, desains dll. Tahap analisis meliputi analisis tujuan pembuatan bentuk pembuatan . Tahap desains meliputi tata cara menginput materi teks pdf/powerpint, materi berbentuk video pembelajaran.

 Salah satu kontribusi pengembangan materi PAI berbasis Quipper School dapat berkolaborasi dengan teknonogi informasi dan komonikasi dalam pembelajaran adalah tantangan tersendiri bagi dunia Pendidikan Islam, terkhusus pembelajaran berbasis online. Salah satu fungsi pembelajaran online Quipper School adalah siswa belajar tidak mengenal waktu dan tempat.  Sekedar contoh adalah jika peserta didik berhalangan untuk datang ke sekolah maka pihak sekolah cukup mengirimkan pesan berupa tugas kepada siswa melalui aplikasi Quipper Shool.

Contoh bukti dalam studi literatur pengembangan ini pernah diterapkan oleh

Madrasah Aliyah Negeri 1 kota Bitung dalam cakupan artikel Wadan

2)  Visual Based Learning. Pengembangan materi ajar dengan Konten pengetahuan, dikuatkan menggunakan bentuk-bentuk visual media berbasis teknologi informasi berupa video, grafik, simbol, kata kunci. Pemanfaatan produk diseminasi pengetahuan melalui berrbagai media teknologi dengan inovasi bahan ajar offliene dan online menjadi pelengkap sumber belajar eksternal



[1]https://andybudicahyono.blogspot.com/2018/06/makalah-ruang-lingkup-dan-karakteristik.html

 

[2] Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Offset Priting, 1981), h. 57.

[3] Depdiknas, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasih Kompetensi Sekolah Menengah Pertama

[4] Akmal & Reni, Jurnal Inovasi Pengembangan Kurikulum PAI, Tadrib, Vol. IV, No.1, Juni 2018

[5] Choirul Fuad Yusuf, Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam…, h. 34

[6] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989, h. 195.

[7] Noer Rohmah, Inovasi STRATEGI PEMBELAJARAN PAI DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN PAI, Madrasah, Vol. 6, No. 2, Januari-Juni 2014

Pengembangan Dan Inovasi Ekstrakulikuler PAI

 1. Karakteristik ekstrakulikule PAI - Individual, yakni dikembangkan sesuai dengan potensi/bakat peserta didik masing-masing. - Pilih...