BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, karena
dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi diri dan mengembangkan
kepribadiannya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan
diakui oleh masyarakat. Inti dari kegiatan pendidikan adalah adanya interaksi
antara pendidik dengan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Interaksi ini dapat terjadi dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun
masyarakat. Perbedaan yang mendasar antara ketiga model interaksi pendidikan
tersebut terletak pada adanya rancangan atau kurikulum formal dan tertulis yang
akan disampaikan pada siswa.
Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas
pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan
suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis,
lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan. Dengan demikian, kurikulum
memiliki kedudukan penting, baik dalam pendidikan formal maupun non formal
karena memberikan arahan terjadinya proses pendidikan.
Kurikulum sebagai rancangan segala kegiatan
yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan tetap memiliki peran penting,
setidaknya dalam mewarnai kepribadian seseorang. Begitupula dengan kurikulum
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting
untuk membentuk kepribadian seseorang. Baik dan buruknya hasil pendidikan,
termasuk dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam ditentukan oleh kurikulum,
apakah mampu membangun kesadaran kritis terhadap peserta didik atau tidak. Oleh
karena itu, dibutuhkan adanya pemahaman untuk mengimplementasikan kurikulum PAI
secara kontekstual agar peserta didik bisa mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari setelah mendapatkan pembelajaran PAI. Selama ini, PAI masih dinilai kurang bisa
mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” atau
kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu
diinternalisasikan dalam diri peserta didik. Dengan kata lain, pendidikan agama
selama ini lebih menekankan pada aspek knowing dan doing dan belum banyak
mengarah ke aspek being, yakni bagaimana peserta didik menjalani hidup sesuai
dengan ajaran dan nilai-nilai .
Salah satu faktor yang
menyebabkan halter sebut adalah faktor dari guru/pendidik PAI. Seyogyanya
pendidik PAI sebagai pelaksana kurikulum PAI harus mampu memahami, mengelola,
dan melakukan kegiatan manajemen kurikulum PAI dengan baik. Dengan pemahaman
yang baik terhadap kegiatan manajemen kurikulum PAI, pendidik akan dapat memilih
strategi, metode, teknik, media, dan alat evaluasi yang sesuai dengan
pembelajaran, serta berusaha mengembangkannya sesuai dengan tuntutan
perkembangan zaman dan perkembangan kebutuhan masyarakat agar pencapaian tujuan
pembelajaran PAI yang lebih menekankan pada aplikasi ajaran agama dalam
kehidupan sehari-hari dapat tercapai dengan lancar.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa Istilah-Istilah
Pengembangan Dan Inovasi Dalam Kosa Kata Bahasa Arab
2.
Bagaimana
Kedudukan Kurikulum PAI Dalam Pendidikan Islam?
3.
Apa Tafsir
Dan Hadits Tarbawi Yang Berkenaan Dengan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI?
4.
Bagaimana
Pandangan Islam Terhadap Pentingnya Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum?
5.
Bagaimana
Pandangan Islam Terhadap Peluang Dan Tantangan Pengembangan Dan Inovasi
Kurikulum PAI?
6.
Bagaimana Pandangan Islam terhadap Hambatan
Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI?
C.
Tujuan Rumusan Masalah
1.
Untuk
Mengetahui Istilah-Istilah Pengembangan Dan Inovasi Dalam Kosa Kata Bahasa Arab
2.
Untuk
Mengetahui Kedudukan Kurikulum PAI Dalam Pendidikan Islam
3.
Untuk
Mengetahui Tafsir Dan Hadits Tarbawi Yang Berkenaan Dengan Pengembangan Dan Inovasi
Kurikulum PAI
4.
Untuk
Mengetahui Pandangan Islam Terhadap Pentingnya Pengembangan Dan Inovasi
Kurikulum
5.
Untuk
Mengetahui Pandangan Islam Terhadap Peluang Dan Tantangan Pengembangan Dan Inovasi
Kurikulum PAI
6.
Untuk
Mengetahui Pandangan Islam Terhadap Hambatan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum
PAI
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Istilah-Istilah Pengembangan Dan Inovasi Dalam Kosa Kata Bahasa
Arab
Dalam bahasa Arab, kata
kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang
yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum
pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat
perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam
mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan
Kurikulum Pendidikan
Agama Islam (PAI) merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, bahan, serta cara pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Ia
merupakan sekumpulan studi keislaman yang meliputi al-Qur’an Hadits, Aqidah
Akhlaq, Fiqih, Tarikh, dan Kebudayaan Islam. 14 Sama halnya dengan kurikulum
mata pelajaran lain, kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah juga menjadi
acuan dalam kegiatan pembelajaran PAI.
Kurikulum PAI dicantumkan dalam kesatuan yang
integral bersama–sama dengan bidang studi lainnya dalam satuan kurikulum untuk
sekolah. Setiap guru agama sebagai pelaksana kurikulum PAI diharapkan dapat
mempelajari dengan sebaik–baiknya dan kemudian dapat menggunakannya sesuai
dengan teknik pengajaran berdasarkan prinsip interaktif dan komunikatif dengan
memperhatikan kegiatan murid, akan tetapi harus bertindak sebagai pembimbing
dan dapat mengkoordinir lingkungan serta menyediakan fasilitas agar anak
belajar sendiri.15 PAI di sekolah dimaksudkan agar peserta didik berkembang
sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, memiliki
pengetahuan agama yang luas, dan berakhlaqul karimah.16
2.
Kedudukan Kurikulum Pai Dalam Pendidikan Islam
Kurikulum merupakan
syarat wajib dalam pembelajaran di sekolah. Bila kurikulum bersifat wajib,
berarti kurikulum merupakan bagian integral dalam pendidikan atau pembelajaran.
Kita bisa membayangkan bagaimana proses pembelajaran tanpa memiliki kurikulum atau
rencana pendidikan yang jelas.
Kurikulum mencakup komponen kegiatan pendidikan untuk mencapai
tujuan pendidikan. Menurut Mauritz Johnson, Kurikulum juga merupakan rencana
pendidikan yang memuat pedoman atau petunjuk dalam proses pembelajaran baik.
Selain itu, kurikulum dapat diartikean sebagi program studi yang di tekuni oleh
para ahli kurikulum dan sebagai sumber landasan teori bagi para pengembangan
kurikulum dalam berbagai lembaga pendidikan (Zainal Arifin, 2012).
Lembaga pendidikan
khsususnya telah membentuk kebijakan yang diimplementasikan dalam bentuk
program pelatihan bagi para guru dalam mengelola pembelajaran. dengan demikian
eksistensi guru terhadap pengembangan kurikulum di sekolah sangat memiliki
peran central dalam sauatu kuurikulum. Berdasarkan akan hal itu kedudukan
kurikulum dalam ranah pendidikan memuat atau menghimpun sebagai berikut :
pertama dalam proses
pendidikan kurikulum memegang peranan inti, dalam sebuah pendidikan. kedua,
keududukan kurikulum menempati perencaanaan dan sampai tujuab pendidikan. ketiga,
kurikulum memuat metari pembelajaran
Dalam pendidikan,
kurikulum menjadi suatu hal yang menjadi sentral yang sangat concern untuk
diperhatikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan Islam. dapat dinyatakan
demikian kurikulum menjadi penentu keberhasilan dalam ranah pendidikan. oleh
karenanya kurikulum harus menjadi pusat perhatian baik dari pihak manapun, baik
pihak pemerintah sekolah dalam hal ini komite ketua yayasan, kepala sekolah dan
guru, bahkan termasuk masyarakat.
Undang-undang sistem pendidikan nasional, pada kurikulum Bab X
pasal 36 (UU RI Nomor 20 Tahun 2003) menetapkan: Ayat (1): dalam melakukan
pengembangan kurikulum harus mengacu pada standar pendidikan nasional yang
diharapkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Ayat (2) Kurikulum disetiap
jenjang dan jenis pendidikan dalam melakukan perkembangan harus mengacu pada
asas verifikasi yang sesuai dengan satuan pendidikan, daerah dan peserta didik.
Ayat (3) Kurikulum dalam melakukan perkembangan menyesuaikan dengan jenjang
pendidikan dalam kerangka NKRI dengan memperhatikan kualitas
keimanan dan ketakwaan, akhlak mulia, dan intelektualitas. potensi dan minat
peserta didik, keragaman potensi daerah dan ekologi, tuntutan pembangunan
daerah dan nasional, tuntutan lapangan pekerjaan, perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni, keagamaan, dinamika pembangunan global dan
persatuan bangsa serta nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu kurikulum wajib
di sekolah dan sebagai pusat proses pendidikan menempati posisi sentral,
sehingga proses belajar mengajar tidak dapat mencapai tujuannya secara memadai
tanpa adanya kurikulum. Karena kurikulum memuat rencana pendidikan sebagai alat
bantu orientasi dan juga sebagai mata pelajaran yang menjadi sumber konsep
dasar bagi lembaga pendidikan (Ahmad Zainuri, 2018).
3.
Tafsir Dan Hadits Tarbawi Yang Berkenaan Dengan Pengembangan Dan
Inovasi Kurikulum
Kurikulum yang baik dan
relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat
intergrated dan komprehensif serta menjadikan al-Qur’an dan hadis sebagai
sumber utama dalam penyusunan.
Didalam al-Quran dan hadis
ditemukan kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman operasional dalam
penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam.
Kerangka dasar tersebut
adalah tauhid dan perintah membaca.
1.
Tauhid
Tauhid
sebagai dasar utama kurikulum harus dimantapkan semenjak masih bayi. Dimulai
dengan menperdengarkan kalimat-kalimat tauhid seperti azan atau iqamah terhadap
anak yang baru lahir. Apabila di analisis tentang materi tersebut azan dan
iqamah merupakan pendidikan Islam yang paling awal yang di berikan kepada
seorang anak dalam transformasi maupun internalisasi pendidikan Islam.
Sebagaimana hadis yang menyatakan:
Dengan pembekalan modal Iman dan Taqwa seperti yang dimaksud maka di
harapkan anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang taat beribadah terlebih
mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi.
Sebagaimana firman Allah swt yang berbunyi: “tidak Kujadikan jin dan manusia kecuali
untuk beribadah Kepadaku”, maka kualitas manusia dalam pandangan Allah
semata-mata di tentukan oleh ketaqwaanya dan ketaqwaan merupakan nilai
tertinggi dalam tataran norma agama Islam yang menjadi payung bagi semua tata
nilai Islami lainnya , begitu juga dengan ungkapan yang senada dalam tujuan
sistem pendidikan nasional kita.
Sehubungan dengan itu maka tugas dan fungsi lembaga pendidikan Islam
haruslah di arahkan untuk mengembangkan iman dan ihsan, sehingga melahirkan
amal shalih dan ilmu yang bermanfaat.
Tauhid
merupakan prinsip utama dalam seluruh dimensi kehidupan manusia baik hubungan
vertikal dengan Allah maupun hubungan horizontal dengan manusia dengan alam.
Tauhid seperti inilah yang dapat menyusun pergaulan yang harmonis sesamanya.
Kita dapat mewujudkan tata dunia yang harmonis kosmos yang penuh tujuan,
persamaan sosial, persamaan kepercayaan, persamaan jenis dan ras, persamaan
dalam segala aktivitas dan kebebasan bahkan seluruh masyarakat dunia adalah
sama yang disebut “ummatan wahidah”.
2.
Perintah membaca
Kerangka dasar yang berikutnya adalah perintah
“membaca” ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat yaitu,
1.
ayat-ayat Allah berdasarkan wahyu
2.
ayat-ayat Allah yang ada pada diri manusia
3.
Ayat Allah yang terdapat dialam semesta diluar
diri manusia.
Dalam Qur’an surah al-Alaq apabila di
tinjau dari segi kurikulum pendidikan Islam firman Allah tersebut merupakan
pedoman atau bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang
di butuhkan manusia.
Firman Allah SWT,Qs. Al Alaq ayat 1-5 dan terjemahannya :
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ - ١
Iqra` bismi rabbikallażī khalaq
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan,"
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ - ٢
Khalaqal-insāna min 'alaq
Artinya: "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah."
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ - ٣
Iqra` wa rabbukal-akram
Artinya: "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,"
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ - ٤
Allażī 'allama bil-qalam
Artinya: "Yang mengajar (manusia) dengan pena"
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ - ٥
'Allamal-insāna mā lam ya'lam
Artinya: "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya."
Firman Allah
SWT itu merupakan bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan
yang dibutuhkan oleh manusia. Membaca selain melibatkan proses mental yang
tinggi, pengenalan (cognition), ingatan (memory), pengamatan (perception),
pengucapan (verbalization), pemikiran (reasoning), daya cipta (creativity) juga
sekaligus merupakan bahan pendidikan itu sendiri.
4.
Pandangan
Islam Terhadap Pentingnya Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum
Keberadaan
kurikulum pendidikan Islam harus selalu dikembangkan sehingga akan menjadikan
institusi pendidikan Islam senantiasa diharapakn oleh semua pihak. Fenomena itu
dapat ditilik adanya kurikulum pendidikan Islam yang mendasar dan yang
menyentuh kebutuhan dasar, yaitu melihat kebutuhan vital masyarakat. Kurikulum
pendidikan Islam menghindari adanya kurikulum yang tumpang tindih. Tumpang
tindihnya kurikulum dari satu materi pelajaran ke materi pelajaran lainnya yang
diberlakukan secara transparan atau umum akan menjadikan proses pembelajaran menjadi
jenuh. Padahal sumber kurikulum pendidikan Islam sudah jelas sistematisnya,
yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah.
Dengan demikian, diharuskannya
pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang baik sebagai parameter kualitas
dan tidaknya suatu pendidikan harus memiliki visi, misi, konsep dan tujuan yang
jelas dan seimbang antara muatan teoritis dan praktis. Muatan teoritis berarti
memberi landasan dari berbagai teori yang ada, sehingga melahirkan suatu
analisis dan hipotasis yang objektif dan ilmiah. Sedangkan muatan praktis adalah
mem-follow up dalam format realitas kerja fisik yang profesional.
Kurikulum
pendidikan Islam harus dikembangkan dalam mencapai keberhasilan peserta didik
tidak dalam ranah kognitif semata, karena hal ini akan melahirkan demoralisasi
peserta didik, yakni kurangnya peserta didik dalam kompetensi kepribadian dan minimnya
keterampilan yang membawa peserta didik selalu dalam ketergantungan hidupnya.
Kognitif yang berarti kemampuan rasional, afektif kemampuan dalam merealisasi
tingkah laku yang positif dan berperasaan, dan psikomotorik sebagai refleksi
dan keterampilan fisik harus diseimbangkan sedemikian rupa, sehingga cipta,
rasa, dan karsa benar-benar dapat dinikmati oleh peserta didik pada khususnya
dan masyarakat umumnya.
5.
Pandangan
Islam Terhadap Peluang Dan Tantangan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI
Pendidikan
Agama Islam menghadapi tantangan yang mendasar. Untuk itu diperlukan upaya
pembaruan yang tanpa henti. Jika sistem pendidikan Islam Indonesia tidak mampu
mengemban tugasnya, maka hilanglah fungsi sub-sistem pendidikan nasional.
Tantangan
yang bersifat mendasar itu antara lain:
Pertama, mampukah Pendidikan Agama Islam
menjadi center of exellence bagi pengembangan iptek dengan sumber ajaran Qur’an
dan Sunnah? Misalnya, mampukah ahli-ahli kesehatan merekayasa kesehatan, donasi
alat-alat tubuh tanpa melanggar akidah dan syari’ah? Mampukah ahli-ahli
perbankan memajukan sistem permodalan tanpa riba?
Kedua, mampukah Pendidikan Agama Islam
Indonesia menjadi pusat pembaruan pemikiran Islam yang benar-benar mampu
merespon tantangan zaman tanpa memperhatikan aspek dogmatis yang wajib diikuti?
Ketiga, mampukah ahli-ahli Pendidikan Agama
Islam menumbuhkembangkan kepribadian yang benar-benar beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan lengkap dengan kemampuan bernalar ilmiah yang tidak mengenal batas
akhir?
Masalah yang kemudian timbul adalah jutaan
anak-anak kita kemungkinan mengalami patuh sekolah: terlanjur dididik tidak
akrab dengan budaya tani, tetapi belum sampai akrab dengan budaya industri.
Mampukah Pendidikan Islam Indonesia dalam jangka pendek membuat pendidikan yang
dapat memenuhi teknologi menengah bagi generasi mudanya?
Adapun
contoh-contoh tantangan yang bersifat metodologis antara lain:
Pertama, mampukan Pendidikan Agama Islam
menciptakan dan menerapkan metodologi pendidikan dan pengajaran yang mampu menggairahkan
anak didik untuk belajar lebih lanjut dan berani mengambil keputusan? Ilmu
pengetahuan akan maju kalau kita bebas mempertanyakan bagian-bagian ilmu yang
sudah dianggap final.
Kedua, mampukah pendidikan Agama Islam
merencanakan pendidikan dan pengajaran yang komprehensif dan berkesinambungan
dari tingkat yang paling rendah sampai ke tingkat yang paling tinggi, dari
taman kanak-kanak dengan perguruan tinggi?
Dalam proses belajar-mengajar, Pendidikan
Agama Islam sebagai mata pelajaran yang mengkaji mengenai berbagai aspek
kehidupan islam, memiliki waktu pembelajaran yang terbatas sementara materi
yang hendak diajarkan padat dan penting. Sumber belajar yang dimiliki oeh guru
Pendidikan Agama Islam juga terbatas terlebih guru yang mengajar di pelosok
daerah.
Selain itu, tantangan dalam Kurikulum 2013,
seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya bahwa Kurikulum 2013 identik
dengan karakter, nilai serta sikap, ternyata dipertanyakan bagaimana tujuan
tersebut dapat tercapai dikarenakan terbatasnya kemampuan guru dalam menggali
nilai dan makna, serta karakter dalam setiap proses belajar-mengajarnya.
Peluang Pendidikan Agama Islam dalam
Kurikulum 2013
Pertama, sistem pendidikan Islam Agama
Indonesia tidak menghadapi dominasi sistem pendidikan nasional, karena ajaran
Islam secara filosofi tidak pernah bertentangan dengan pandangan hidup bangsa.
Dalam konsep penyusunan UU SPN No. 2 1898 dan PP (Peraturan Pemerintah) yang
mengiringinya terbuka kesempatan luas untuk mengembangkan diri.
Kedua, pancasila sebagai asaz tunggal,
secara filosofi merupakan bagian dari filsafat Islam.
Ketiga, dalam keadaan yang jauh lebih
stabil, baik fisik, hukum, keamanan dan ekonomi adalah suatu kesempatan yang
amat tepat bagi kelompok mayoritas untuk mengisinya.
Keempat, semakin berkembangnya gerakan
pembaruan pemikiran Islam.
Hanya
saja perlu disadari bahwa dalam peluang juga terdapat “lubang”. Golongan
mayoritas memang merupakan “peluang” dan “beban” sekaligus. Kecuali itu, perlu
disadari bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri, tanpa upaya bidang-bidang lain
yang secara sistemik harus bergerak secara harmonis menuju tujauan yang sama:
cita-cita nasional. Maka, kearifan dan keahlian dalam bekerjasama dengan
pelbagai pakar dari berbagai disiplin ilmu dan aliran amat diperlukan,Adalah
suatu kenyataan pula bahwa banyak kaum “non-Muslim” yang mampu menapak
kehidupannya sesuai dengan ajaran Islam. Demikian pula sebaliknya. Banyak
perilaku kalangan Muslim yang justru tidak Islami. Yang diperlukan kaum muslim
saat ini adalah jiwa besar, pandangan luas, dan sikap rasional serta sikap
terbuka untuk menerima kritik demi kemajuan.
Pendidikan Agama Islam dalam Kurikulum 2013
memiliki peluang lebih banyak untuk mengantarkan tujuan dari kurikulum tersebut
terkait dengan nilai, sikap dan karakter. Pendidikan Agama Islam mengajarkan
mengenai tauhid, akhlak, syari’ah, dan sejarah islam yang utamanya akhlak
tersebut, Pendidikan Agama Islam bahkan menjadi sesuatu yang harus ada dalam
setiap sekolah untuk dipelajari. Ia memiliki andil besar dalam penanaman
akhlak, ketauhidan yang juga akan berdampak pada sikap, sejarah yang memiliki
ibrah yang dapat menjadikan peserta didik lebih bijak, serta syari’ah dan
ibadah yang juga akan berkaitan erat dengan sikap sesama manusia dan Tuhannya.
6.
Pandangan
islam terhadap hambatan pengembangan dan inovasi kurikulum PAI
a.
Hambatan-hambatan
dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam.
Dalam pengembangan kurikulum terdapat
beberapa hambatan. Hambatan pertama terletak pada guru. Guru kurang berpartisipasi
dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama kurang
waktu. Kedua kekurangsesuaian pendapat, baik anatar sesama guru maupun dengan
kepala sekolah dan administrator. Ketiga karena kemampuan dan pengetahuan guru
sendiri.
Hambatan lain datang dari masyarakat. Untuk
pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan
maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum
yang sedang berjalan. Masyarakat adalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan
pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan, serta input
fakta dan pemikiran dari masyarakat.
Hambatan lain yang dihadapi oleh pengembangan
kurikulum adalah maslaah biaya. Untuk pengembangan kurikulum, apalagi yang
berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi atau sistem secarakeseluruhan
membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit.
b.
Hambatan
dalam Melakukan Inovasi Kurikulum
Suatu pembaruan atau inovasi sering tidak
berhasil dengan optimal. Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai hambatan yang
muncul seperti hambatan geografis, hambatan ekonomi yang tidak memadai,
hambatan social cultural dan lain sebagainya. Berbagai hambatan tersebut tentu
saja dapat memengaruhi keberhasilan suatu inovasi.
Selain
hal-hal di atas, setidaknya ada 6 faktor utama yang dapat menghambat suatu
inovasi. Ke-enam faktor tersebut dijelaskan dibawah ini.
1.
Estimasi
yang tidak tepat
Sering terjadi kegagalan suatu inovasi
disebabkan kurang matangnya perkiraan atau kemungkinan-kemungkinan yang akan
muncul.
Factor
estimasi atau perencanaan dalam inovasi merupakan salah satu factor yang sangat
berpengaruh terhadap keberhadilan inovasi. Hambatan yang disebabkan kurang
teptnya estimasi ini di antaranya mencakup kurang adanya pertimbangan
implementasi inovasi, kurang adanya hubungan antarangggota team pelaksana,
kurang adanya kesamaan pendapat tentang tujuan yang ingin dicapai, tidak adanya
koordinasi antar petugas yang terlibat misalnya, dalam hal pengambilan
keputusan dan kebijakan yang dianggap perlu. Disamping itu, dalam proses
perencanaan juga mungkin terjadi hambatan yang muncul dari luar, misalnya
adanya tekanan dari pihak tertentu (seperti pemerintah) utntuk mempercepat
hasil inovasi.
Untuk mencegah adanya hambatan di atas,
maka proses menyusun perencanaan inovasi perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh
dengan melibatkan koordinasi berbagai pihak yang dirasakan akan berpengaruh.
Pengaturan wewenang dan tugas perlu direncanakan dengan matang sehingga setiap
orang yang terlibat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
2.
Konflik dan motivasi
Konflik biasa terjadi dalam proses
pelaksanaan inovasi, misalny ada pertentangan antara anggota tim, kurang adanya
pengertian serta adanya pertentangan antara anggota tim inovasi.
Pertentangan-pertentangan seperti itu bukan saja dapat menghambat akan tetapi
mungkin dapat merusak proses inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, para
perancang inovasi harus mengantisipasi adanya pertentangan tersebut. Di samping
konflik, factor yang dapat menghambat bias juga ditambah oleh motivasi,
misalnya motivasi yang lemah dari orang-orang yang terlibat yang justru
memegang kunci, adanya pandangan yang sembit dari beberapa orang yang dianggap
penting dalam proyek inovasi, bantuan-bantuan yang tidak sampai, adanya sikap
yang tidak terbuka dari pemegang jabatan proyek inovasi dan lain sebagainya.
3.
Inovasi tidak berkembang.
Hambatan lain yang dapat mengganggu
berjalannya inovasi dapat disebabakan kurang berkembannya proses inovasi itu
sendiri. Beberapa factor yang dapat memengaruhi diantaranya, pendapat yang
rendah, factor yang dapat memengaruhi di antaranya, pendapat yang rendah,
factor geografis, seperti tidak memahami kkondisi alam, letak geografis yang
terpencil dan sulit dijangkau oleh alat transformasi sehingga dapat menghambat
pengiriman bahan-bahan financial, kerangnya sarana komuikasi, iklim dan cuaca
yang tidak mendukung dan lain sebagainya.
4.
Masalah financial
Keberhasilan
pencapaian program inovasi sangat ditentukan oleh dana yang tersidia. Sering
terjadi kegagalan inovasi dikarenakan dana yang tidak memadai. Beberapa factor
yang dapat menyebabkan maslah financial ni di antaranya, bantuan dana yang
sangat minim sehingga dapat mengganggu dalam operasional inovasi, kondisi
ekonomi masyarakat secara keseluruhan, menundaan bantuan dana.
5.
Penolakan
dari kelompok penentu
Ketidakberhasilan inovasi dapat juga
ditentukan oleh khususnya kelompok masyarakat yang menentukan seperti golongan
elite, tokoh masyarakat dalam suatu system social, manakala terjadi penolakan
dari kelompok tersebut terhadap suatu inovasi, maka proses inovasi akan
mengalami ganjalan. Penolakan inovasi sering
ditunjukan oleh kelompok social yang tradisional dan konservatif. Kelompok
social yang demikian, biasanya merasa puas dengan hasil yang telah diapai,
bagaimanapun hasil itu dirasakn sangat minimal. Untuk itulah dalam upaya
keberhasiklan inovasi perlu dilakukan sosialisasi dan koordinasi dengan
berbagai pihak.
6.
Kurang adanya hubungan social
Factor lainnya yang dapat menghambat proses
inovasi adalah kurang adanya hubungan social yang baik antara berbagai pihak
khususnya bantar anggota team, sehingga terjadi ketidak harmonisan dalam bekerja.
Dengan demikian, adanya hubungan yang baik harus diciptakan dengan melakukan
pertukaran pikiran secara kontinu antara sesama anggota team.
Menurut
Wahyudin, setidaknya menyebutkan 3 hambatan utama dalam inovasi kurikulum
yaitu:
1.
Mental
block barrier , hambatan
yang ditimbulkan oleh
sikap mental seperti salah
persepsi, takut gagal,
tidak mau ambil resiko, malas, dan
lain sebagainya.
2.
Cultural block, hambatan budaya yang sudah
mengakar dan sulit diubah.
3.
Social block, hambatan dari faktor sosial
seperti ras, agama, primordialisme, status sosial dan sebagainya.
Dari beberapa hambatan di atas menunjukkan bahwa inovasi dalam
dunia pendidikan tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan, setiap terjadi
pembaharuan maka harus siap dengan segala hambatan yang ada
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal TAMADDUN ± FAI UMG. Vol. XIX. No.2 / Juli 2018
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran , Volume 2, Nomor 1,
Januari 2021: 16-30
Jurnal Pendidikan 260 dan Sosial Budaya
Al-Maktabah Asy-Syamilah, Digital
Athiyah Al-Abrasyi Muhammad, At-Tarbiyah Al-Islamiyah, terj.
Abdullah
Zakiy Al-Kaaf, Bandung: Pustaka Setia, 2003.
Beauchamp, G. Curriculum Theory, The Kagg Press: Wimette,
Illionis.1975
Glatthorn, A.A. Curriculum Leadership. Sott, Foresman and Company,
Glenview, 1987.
Langgulung Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam, Cet. 1, Jakarta:
Alhusna Zikra,
2000.
Jurnal Penelitian Pendidikan Islam
Nana Saodih,Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori &
Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hlm 160
S. Nasution, Asas- Asas
Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hlm 143- 144
Komariah, Visionary Leadership…, hlm. 24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar