Rabu, 16 Maret 2022

Islam dan Pengembangan & Inovasi Kurikulum

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

       Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, karena dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi diri dan mengembangkan kepribadiannya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Inti dari kegiatan pendidikan adalah adanya interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Interaksi ini dapat terjadi dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat. Perbedaan yang mendasar antara ketiga model interaksi pendidikan tersebut terletak pada adanya rancangan atau kurikulum formal dan tertulis yang akan disampaikan pada siswa.

        Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan. Dengan demikian, kurikulum memiliki kedudukan penting, baik dalam pendidikan formal maupun non formal karena memberikan arahan terjadinya proses pendidikan.

        Kurikulum sebagai rancangan segala kegiatan yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan tetap memiliki peran penting, setidaknya dalam mewarnai kepribadian seseorang. Begitupula dengan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting untuk membentuk kepribadian seseorang. Baik dan buruknya hasil pendidikan, termasuk dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam ditentukan oleh kurikulum, apakah mampu membangun kesadaran kritis terhadap peserta didik atau tidak. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pemahaman untuk mengimplementasikan kurikulum PAI secara kontekstual agar peserta didik bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari setelah mendapatkan pembelajaran PAI.  Selama ini, PAI masih dinilai kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik. Dengan kata lain, pendidikan agama selama ini lebih menekankan pada aspek knowing dan doing dan belum banyak mengarah ke aspek being, yakni bagaimana peserta didik menjalani hidup sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai .

       Salah satu faktor yang menyebabkan halter sebut adalah faktor dari guru/pendidik PAI. Seyogyanya pendidik PAI sebagai pelaksana kurikulum PAI harus mampu memahami, mengelola, dan melakukan kegiatan manajemen kurikulum PAI dengan baik. Dengan pemahaman yang baik terhadap kegiatan manajemen kurikulum PAI, pendidik akan dapat memilih strategi, metode, teknik, media, dan alat evaluasi yang sesuai dengan pembelajaran, serta berusaha mengembangkannya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan perkembangan kebutuhan masyarakat agar pencapaian tujuan pembelajaran PAI yang lebih menekankan pada aplikasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari dapat tercapai dengan lancar.

B.     Rumusan Masalah

1.        Apa Istilah-Istilah Pengembangan Dan Inovasi Dalam Kosa Kata Bahasa Arab

2.        Bagaimana Kedudukan Kurikulum PAI Dalam Pendidikan Islam?

3.        Apa Tafsir Dan Hadits Tarbawi Yang Berkenaan Dengan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI?

4.        Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Pentingnya Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum?

5.        Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Peluang Dan Tantangan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI?

6.             Bagaimana Pandangan Islam terhadap Hambatan Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI?

 

C.    Tujuan Rumusan Masalah

1.      Untuk Mengetahui Istilah-Istilah Pengembangan Dan Inovasi Dalam Kosa Kata Bahasa Arab

2.      Untuk Mengetahui Kedudukan Kurikulum PAI Dalam Pendidikan Islam

3.      Untuk Mengetahui Tafsir Dan Hadits Tarbawi Yang Berkenaan Dengan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI

4.      Untuk Mengetahui Pandangan Islam Terhadap Pentingnya Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum

5.      Untuk Mengetahui Pandangan Islam Terhadap Peluang Dan Tantangan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI

6.      Untuk Mengetahui Pandangan Islam Terhadap Hambatan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.      Istilah-Istilah Pengembangan Dan Inovasi Dalam Kosa Kata Bahasa Arab

       Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan

       Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan, serta cara pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Ia merupakan sekumpulan studi keislaman yang meliputi al-Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqih, Tarikh, dan Kebudayaan Islam. 14 Sama halnya dengan kurikulum mata pelajaran lain, kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah juga menjadi acuan dalam kegiatan pembelajaran PAI.

        Kurikulum PAI dicantumkan dalam kesatuan yang integral bersama–sama dengan bidang studi lainnya dalam satuan kurikulum untuk sekolah. Setiap guru agama sebagai pelaksana kurikulum PAI diharapkan dapat mempelajari dengan sebaik–baiknya dan kemudian dapat menggunakannya sesuai dengan teknik pengajaran berdasarkan prinsip interaktif dan komunikatif dengan memperhatikan kegiatan murid, akan tetapi harus bertindak sebagai pembimbing dan dapat mengkoordinir lingkungan serta menyediakan fasilitas agar anak belajar sendiri.15 PAI di sekolah dimaksudkan agar peserta didik berkembang sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, memiliki pengetahuan agama yang luas, dan berakhlaqul karimah.16

2.      Kedudukan Kurikulum Pai Dalam Pendidikan Islam

       Kurikulum merupakan syarat wajib dalam pembelajaran di sekolah. Bila kurikulum bersifat wajib, berarti kurikulum merupakan bagian integral dalam pendidikan atau pembelajaran. Kita bisa membayangkan bagaimana proses pembelajaran tanpa memiliki kurikulum atau rencana pendidikan yang jelas.

Kurikulum mencakup komponen kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Mauritz Johnson, Kurikulum juga merupakan rencana pendidikan yang memuat pedoman atau petunjuk dalam proses pembelajaran baik. Selain itu, kurikulum dapat diartikean sebagi program studi yang di tekuni oleh para ahli kurikulum dan sebagai sumber landasan teori bagi para pengembangan kurikulum dalam berbagai lembaga pendidikan (Zainal Arifin, 2012).

       Lembaga pendidikan khsususnya telah membentuk kebijakan yang diimplementasikan dalam bentuk program pelatihan bagi para guru dalam mengelola pembelajaran. dengan demikian eksistensi guru terhadap pengembangan kurikulum di sekolah sangat memiliki peran central dalam sauatu kuurikulum. Berdasarkan akan hal itu kedudukan kurikulum dalam ranah pendidikan memuat atau menghimpun sebagai berikut :

pertama dalam proses pendidikan kurikulum memegang peranan inti, dalam sebuah pendidikan. kedua, keududukan kurikulum menempati perencaanaan dan sampai tujuab pendidikan. ketiga, kurikulum memuat metari pembelajaran

       Dalam pendidikan, kurikulum menjadi suatu hal yang menjadi sentral yang sangat concern untuk diperhatikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan Islam. dapat dinyatakan demikian kurikulum menjadi penentu keberhasilan dalam ranah pendidikan. oleh karenanya kurikulum harus menjadi pusat perhatian baik dari pihak manapun, baik pihak pemerintah sekolah dalam hal ini komite ketua yayasan, kepala sekolah dan guru, bahkan termasuk masyarakat.

Undang-undang sistem pendidikan nasional, pada kurikulum Bab X pasal 36 (UU RI Nomor 20 Tahun 2003) menetapkan: Ayat (1): dalam melakukan pengembangan kurikulum harus mengacu pada standar pendidikan nasional yang diharapkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Ayat (2) Kurikulum disetiap jenjang dan jenis pendidikan dalam melakukan perkembangan harus mengacu pada asas verifikasi yang sesuai dengan satuan pendidikan, daerah dan peserta didik. Ayat (3) Kurikulum dalam melakukan perkembangan menyesuaikan dengan jenjang

pendidikan dalam kerangka NKRI dengan memperhatikan kualitas keimanan dan ketakwaan, akhlak mulia, dan intelektualitas. potensi dan minat peserta didik, keragaman potensi daerah dan ekologi, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan lapangan pekerjaan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, keagamaan, dinamika pembangunan global dan persatuan bangsa serta nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu kurikulum wajib di sekolah dan sebagai pusat proses pendidikan menempati posisi sentral, sehingga proses belajar mengajar tidak dapat mencapai tujuannya secara memadai tanpa adanya kurikulum. Karena kurikulum memuat rencana pendidikan sebagai alat bantu orientasi dan juga sebagai mata pelajaran yang menjadi sumber konsep dasar bagi lembaga pendidikan (Ahmad Zainuri, 2018).

 

3.      Tafsir Dan Hadits Tarbawi Yang Berkenaan Dengan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum

       Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat intergrated dan komprehensif serta menjadikan al-Qur’an dan hadis sebagai sumber utama dalam penyusunan.

 Didalam al-Quran dan hadis ditemukan kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman operasional dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam.

       Kerangka dasar tersebut adalah tauhid dan perintah membaca.

1.      Tauhid

Tauhid sebagai dasar utama kurikulum harus dimantapkan semenjak masih bayi. Dimulai dengan menperdengarkan kalimat-kalimat tauhid seperti azan atau iqamah terhadap anak yang baru lahir. Apabila di analisis tentang materi tersebut azan dan iqamah merupakan pendidikan Islam yang paling awal yang di berikan kepada seorang anak dalam transformasi maupun internalisasi pendidikan Islam. Sebagaimana hadis yang menyatakan:

             Dengan pembekalan modal Iman dan Taqwa seperti yang dimaksud maka di harapkan anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang taat beribadah terlebih mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi. Sebagaimana firman Allah swt yang berbunyi: “tidak Kujadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah Kepadaku”, maka kualitas manusia dalam pandangan Allah semata-mata di tentukan oleh ketaqwaanya dan ketaqwaan merupakan nilai tertinggi dalam tataran norma agama Islam yang menjadi payung bagi semua tata nilai Islami lainnya , begitu juga dengan ungkapan yang senada dalam tujuan sistem pendidikan nasional kita.   Sehubungan dengan itu maka tugas dan fungsi lembaga pendidikan Islam haruslah di arahkan untuk mengembangkan iman dan ihsan, sehingga melahirkan amal shalih dan ilmu yang bermanfaat.Description: C:\Users\LENOVO\Pictures\hadis....jpeg

                 Tauhid merupakan prinsip utama dalam seluruh dimensi kehidupan manusia baik hubungan vertikal dengan Allah maupun hubungan horizontal dengan manusia dengan alam. Tauhid seperti inilah yang dapat menyusun pergaulan yang harmonis sesamanya. Kita dapat mewujudkan tata dunia yang harmonis kosmos yang penuh tujuan, persamaan sosial, persamaan kepercayaan, persamaan jenis dan ras, persamaan dalam segala aktivitas dan kebebasan bahkan seluruh masyarakat dunia adalah sama yang disebut “ummatan wahidah”.

2.    Perintah membaca

                  Kerangka dasar yang berikutnya adalah perintah “membaca” ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat yaitu,

1.       ayat-ayat Allah berdasarkan wahyu

2.       ayat-ayat Allah yang ada pada diri manusia

3.       Ayat Allah yang terdapat dialam semesta diluar diri manusia.

             Dalam Qur’an surah al-Alaq apabila di tinjau dari segi kurikulum pendidikan Islam firman Allah tersebut merupakan pedoman atau bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang di butuhkan manusia.

Firman Allah SWT,Qs. Al Alaq ayat 1-5 dan terjemahannya :

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ - ١

Iqra` bismi rabbikallażī khalaq

Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,"

 

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ - ٢

Khalaqal-insāna min 'alaq

Artinya: "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ - ٣

Iqra` wa rabbukal-akram

Artinya: "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,"

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ - ٤

Allażī 'allama bil-qalam

Artinya: "Yang mengajar (manusia) dengan pena"

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ - ٥

'Allamal-insāna mā lam ya'lam

Artinya: "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

Firman Allah SWT itu merupakan bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia. Membaca selain melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan (cognition), ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization), pemikiran (reasoning), daya cipta (creativity) juga sekaligus merupakan bahan pendidikan itu sendiri.

 

4.        Pandangan Islam Terhadap Pentingnya Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum

            Keberadaan kurikulum pendidikan Islam harus selalu dikembangkan sehingga akan menjadikan institusi pendidikan Islam senantiasa diharapakn oleh semua pihak. Fenomena itu dapat ditilik adanya kurikulum pendidikan Islam yang mendasar dan yang menyentuh kebutuhan dasar, yaitu melihat kebutuhan vital masyarakat. Kurikulum pendidikan Islam menghindari adanya kurikulum yang tumpang tindih. Tumpang tindihnya kurikulum dari satu materi pelajaran ke materi pelajaran lainnya yang diberlakukan secara transparan atau umum akan menjadikan proses pembelajaran menjadi jenuh. Padahal sumber kurikulum pendidikan Islam sudah jelas sistematisnya, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah.

            Dengan demikian, diharuskannya pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang baik sebagai parameter kualitas dan tidaknya suatu pendidikan harus memiliki visi, misi, konsep dan tujuan yang jelas dan seimbang antara muatan teoritis dan praktis. Muatan teoritis berarti memberi landasan dari berbagai teori yang ada, sehingga melahirkan suatu analisis dan hipotasis yang objektif dan ilmiah. Sedangkan muatan praktis adalah mem-follow up dalam format realitas kerja fisik yang profesional.

Kurikulum pendidikan Islam harus dikembangkan dalam mencapai keberhasilan peserta didik tidak dalam ranah kognitif semata, karena hal ini akan melahirkan demoralisasi peserta didik, yakni kurangnya peserta didik dalam kompetensi kepribadian dan minimnya keterampilan yang membawa peserta didik selalu dalam ketergantungan hidupnya. Kognitif yang berarti kemampuan rasional, afektif kemampuan dalam merealisasi tingkah laku yang positif dan berperasaan, dan psikomotorik sebagai refleksi dan keterampilan fisik harus diseimbangkan sedemikian rupa, sehingga cipta, rasa, dan karsa benar-benar dapat dinikmati oleh peserta didik pada khususnya dan masyarakat umumnya.

 

5.         Pandangan Islam Terhadap Peluang Dan Tantangan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI

     Pendidikan Agama Islam menghadapi tantangan yang mendasar. Untuk itu diperlukan upaya pembaruan yang tanpa henti. Jika sistem pendidikan Islam Indonesia tidak mampu mengemban tugasnya, maka hilanglah fungsi sub-sistem pendidikan nasional.

Tantangan yang bersifat mendasar itu antara lain:

     Pertama, mampukah Pendidikan Agama Islam menjadi center of exellence bagi pengembangan iptek dengan sumber ajaran Qur’an dan Sunnah? Misalnya, mampukah ahli-ahli kesehatan merekayasa kesehatan, donasi alat-alat tubuh tanpa melanggar akidah dan syari’ah? Mampukah ahli-ahli perbankan memajukan sistem permodalan tanpa riba?

     Kedua, mampukah Pendidikan Agama Islam Indonesia menjadi pusat pembaruan pemikiran Islam yang benar-benar mampu merespon tantangan zaman tanpa memperhatikan aspek dogmatis yang wajib diikuti?

     Ketiga, mampukah ahli-ahli Pendidikan Agama Islam menumbuhkembangkan kepribadian yang benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Tuhan lengkap dengan kemampuan bernalar ilmiah yang tidak mengenal batas akhir?

     Masalah yang kemudian timbul adalah jutaan anak-anak kita kemungkinan mengalami patuh sekolah: terlanjur dididik tidak akrab dengan budaya tani, tetapi belum sampai akrab dengan budaya industri. Mampukah Pendidikan Islam Indonesia dalam jangka pendek membuat pendidikan yang dapat memenuhi teknologi menengah bagi generasi mudanya?

Adapun contoh-contoh tantangan yang bersifat metodologis antara lain:

     Pertama, mampukan Pendidikan Agama Islam menciptakan dan menerapkan metodologi pendidikan dan pengajaran yang mampu menggairahkan anak didik untuk belajar lebih lanjut dan berani mengambil keputusan? Ilmu pengetahuan akan maju kalau kita bebas mempertanyakan bagian-bagian ilmu yang sudah dianggap final.

     Kedua, mampukah pendidikan Agama Islam merencanakan pendidikan dan pengajaran yang komprehensif dan berkesinambungan dari tingkat yang paling rendah sampai ke tingkat yang paling tinggi, dari taman kanak-kanak dengan perguruan tinggi?

     Dalam proses belajar-mengajar, Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran yang mengkaji mengenai berbagai aspek kehidupan islam, memiliki waktu pembelajaran yang terbatas sementara materi yang hendak diajarkan padat dan penting. Sumber belajar yang dimiliki oeh guru Pendidikan Agama Islam juga terbatas terlebih guru yang mengajar di pelosok daerah.

     Selain itu, tantangan dalam Kurikulum 2013, seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya bahwa Kurikulum 2013 identik dengan karakter, nilai serta sikap, ternyata dipertanyakan bagaimana tujuan tersebut dapat tercapai dikarenakan terbatasnya kemampuan guru dalam menggali nilai dan makna, serta karakter dalam setiap proses belajar-mengajarnya.

     Peluang Pendidikan Agama Islam dalam Kurikulum 2013

     Pertama, sistem pendidikan Islam Agama Indonesia tidak menghadapi dominasi sistem pendidikan nasional, karena ajaran Islam secara filosofi tidak pernah bertentangan dengan pandangan hidup bangsa. Dalam konsep penyusunan UU SPN No. 2 1898 dan PP (Peraturan Pemerintah) yang mengiringinya terbuka kesempatan luas untuk mengembangkan diri.

     Kedua, pancasila sebagai asaz tunggal, secara filosofi merupakan bagian dari filsafat Islam.

     Ketiga, dalam keadaan yang jauh lebih stabil, baik fisik, hukum, keamanan dan ekonomi adalah suatu kesempatan yang amat tepat bagi kelompok mayoritas untuk mengisinya.

     Keempat, semakin berkembangnya gerakan pembaruan pemikiran Islam.

Hanya saja perlu disadari bahwa dalam peluang juga terdapat “lubang”. Golongan mayoritas memang merupakan “peluang” dan “beban” sekaligus. Kecuali itu, perlu disadari bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri, tanpa upaya bidang-bidang lain yang secara sistemik harus bergerak secara harmonis menuju tujauan yang sama: cita-cita nasional. Maka, kearifan dan keahlian dalam bekerjasama dengan pelbagai pakar dari berbagai disiplin ilmu dan aliran amat diperlukan,Adalah suatu kenyataan pula bahwa banyak kaum “non-Muslim” yang mampu menapak kehidupannya sesuai dengan ajaran Islam. Demikian pula sebaliknya. Banyak perilaku kalangan Muslim yang justru tidak Islami. Yang diperlukan kaum muslim saat ini adalah jiwa besar, pandangan luas, dan sikap rasional serta sikap terbuka untuk menerima kritik demi kemajuan.

     Pendidikan Agama Islam dalam Kurikulum 2013 memiliki peluang lebih banyak untuk mengantarkan tujuan dari kurikulum tersebut terkait dengan nilai, sikap dan karakter. Pendidikan Agama Islam mengajarkan mengenai tauhid, akhlak, syari’ah, dan sejarah islam yang utamanya akhlak tersebut, Pendidikan Agama Islam bahkan menjadi sesuatu yang harus ada dalam setiap sekolah untuk dipelajari. Ia memiliki andil besar dalam penanaman akhlak, ketauhidan yang juga akan berdampak pada sikap, sejarah yang memiliki ibrah yang dapat menjadikan peserta didik lebih bijak, serta syari’ah dan ibadah yang juga akan berkaitan erat dengan sikap sesama manusia dan Tuhannya.

6.         Pandangan islam terhadap hambatan pengembangan dan inovasi kurikulum PAI

a.       Hambatan-hambatan dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam.

      Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan. Hambatan pertama terletak pada guru. Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama kurang waktu. Kedua kekurangsesuaian pendapat, baik anatar sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Ketiga karena kemampuan dan pengetahuan guru sendiri.

      Hambatan lain datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakat adalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan, serta input fakta dan pemikiran dari masyarakat.

       Hambatan lain yang dihadapi oleh pengembangan kurikulum adalah maslaah biaya. Untuk pengembangan kurikulum, apalagi yang berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi atau sistem secarakeseluruhan membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit.

b.      Hambatan dalam Melakukan Inovasi Kurikulum

Suatu pembaruan atau inovasi sering tidak berhasil dengan optimal. Hal ini disebabkan oleh adanya berbagai hambatan yang muncul seperti hambatan geografis, hambatan ekonomi yang tidak memadai, hambatan social cultural dan lain sebagainya. Berbagai hambatan tersebut tentu saja dapat memengaruhi keberhasilan suatu inovasi.

Selain hal-hal di atas, setidaknya ada 6 faktor utama yang dapat menghambat suatu inovasi. Ke-enam faktor tersebut dijelaskan dibawah ini.

1.      Estimasi yang tidak tepat

    Sering terjadi kegagalan suatu inovasi disebabkan kurang matangnya perkiraan atau kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul.

Factor estimasi atau perencanaan dalam inovasi merupakan salah satu factor yang sangat berpengaruh terhadap keberhadilan inovasi. Hambatan yang disebabkan kurang teptnya estimasi ini di antaranya mencakup kurang adanya pertimbangan implementasi inovasi, kurang adanya hubungan antarangggota team pelaksana, kurang adanya kesamaan pendapat tentang tujuan yang ingin dicapai, tidak adanya koordinasi antar petugas yang terlibat misalnya, dalam hal pengambilan keputusan dan kebijakan yang dianggap perlu. Disamping itu, dalam proses perencanaan juga mungkin terjadi hambatan yang muncul dari luar, misalnya adanya tekanan dari pihak tertentu (seperti pemerintah) utntuk mempercepat hasil inovasi.

    Untuk mencegah adanya hambatan di atas, maka proses menyusun perencanaan inovasi perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan melibatkan koordinasi berbagai pihak yang dirasakan akan berpengaruh. Pengaturan wewenang dan tugas perlu direncanakan dengan matang sehingga setiap orang yang terlibat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

2.       Konflik dan motivasi

       Konflik biasa terjadi dalam proses pelaksanaan inovasi, misalny ada pertentangan antara anggota tim, kurang adanya pengertian serta adanya pertentangan antara anggota tim inovasi. Pertentangan-pertentangan seperti itu bukan saja dapat menghambat akan tetapi mungkin dapat merusak proses inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, para perancang inovasi harus mengantisipasi adanya pertentangan tersebut. Di samping konflik, factor yang dapat menghambat bias juga ditambah oleh motivasi, misalnya motivasi yang lemah dari orang-orang yang terlibat yang justru memegang kunci, adanya pandangan yang sembit dari beberapa orang yang dianggap penting dalam proyek inovasi, bantuan-bantuan yang tidak sampai, adanya sikap yang tidak terbuka dari pemegang jabatan proyek inovasi dan lain sebagainya.

3.        Inovasi tidak berkembang.

     Hambatan lain yang dapat mengganggu berjalannya inovasi dapat disebabakan kurang berkembannya proses inovasi itu sendiri. Beberapa factor yang dapat memengaruhi diantaranya, pendapat yang rendah, factor yang dapat memengaruhi di antaranya, pendapat yang rendah, factor geografis, seperti tidak memahami kkondisi alam, letak geografis yang terpencil dan sulit dijangkau oleh alat transformasi sehingga dapat menghambat pengiriman bahan-bahan financial, kerangnya sarana komuikasi, iklim dan cuaca yang tidak mendukung dan lain sebagainya.

4.        Masalah financial

Keberhasilan pencapaian program inovasi sangat ditentukan oleh dana yang tersidia. Sering terjadi kegagalan inovasi dikarenakan dana yang tidak memadai. Beberapa factor yang dapat menyebabkan maslah financial ni di antaranya, bantuan dana yang sangat minim sehingga dapat mengganggu dalam operasional inovasi, kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan, menundaan bantuan dana.

5.      Penolakan dari kelompok penentu

    Ketidakberhasilan inovasi dapat juga ditentukan oleh khususnya kelompok masyarakat yang menentukan seperti golongan elite, tokoh masyarakat dalam suatu system social, manakala terjadi penolakan dari kelompok tersebut terhadap suatu inovasi, maka proses inovasi akan mengalami  ganjalan. Penolakan inovasi sering ditunjukan oleh kelompok social yang tradisional dan konservatif. Kelompok social yang demikian, biasanya merasa puas dengan hasil yang telah diapai, bagaimanapun hasil itu dirasakn sangat minimal. Untuk itulah dalam upaya keberhasiklan inovasi perlu dilakukan sosialisasi dan koordinasi dengan berbagai pihak.

6.       Kurang adanya hubungan social

    Factor lainnya yang dapat menghambat proses inovasi adalah kurang adanya hubungan social yang baik antara berbagai pihak khususnya bantar anggota team, sehingga terjadi ketidak harmonisan dalam bekerja. Dengan demikian, adanya hubungan yang baik harus diciptakan dengan melakukan pertukaran pikiran secara kontinu antara sesama anggota team.

Menurut Wahyudin, setidaknya menyebutkan 3 hambatan utama dalam inovasi kurikulum yaitu:

1.      Mental block  barrier ,  hambatan  yang  ditimbulkan  oleh  sikap  mental seperti  salah  persepsi,  takut  gagal,  tidak mau  ambil  resiko, malas,  dan  lain sebagainya.

2.       Cultural block, hambatan budaya yang sudah mengakar dan sulit diubah.

3.        Social block, hambatan dari faktor sosial seperti ras, agama, primordialisme, status sosial dan sebagainya.

Dari beberapa hambatan di atas menunjukkan bahwa inovasi dalam dunia pendidikan tidak selalu berjalan mulus tanpa hambatan, setiap terjadi pembaharuan maka harus siap dengan segala hambatan yang ada

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jurnal TAMADDUN ± FAI UMG. Vol. XIX. No.2 / Juli 2018

Jurnal Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran , Volume 2, Nomor 1, Januari 2021: 16-30

Jurnal Pendidikan 260 dan Sosial Budaya

Al-Maktabah Asy-Syamilah, Digital

Athiyah Al-Abrasyi Muhammad, At-Tarbiyah Al-Islamiyah, terj. Abdullah

Zakiy Al-Kaaf, Bandung: Pustaka Setia, 2003.

Beauchamp, G. Curriculum Theory, The Kagg Press: Wimette, Illionis.1975

Glatthorn, A.A. Curriculum Leadership. Sott, Foresman and Company,

Glenview, 1987.

Langgulung Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam, Cet. 1, Jakarta: Alhusna Zikra,

2000.

Jurnal Penelitian Pendidikan Islam

Nana Saodih,Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori & Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hlm 160

 S. Nasution, Asas- Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hlm 143- 144

Komariah, Visionary Leadership…, hlm. 24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengembangan Dan Inovasi Ekstrakulikuler PAI

 1. Karakteristik ekstrakulikule PAI - Individual, yakni dikembangkan sesuai dengan potensi/bakat peserta didik masing-masing. - Pilih...