Selasa, 08 Maret 2022

konsep pengembangan dan inovasi

Bab 1

Pendahuluan

A.   A.  Latar belakang

     Kurikulum pendidikan Islam merupakan suatu rancangan atau program studi yang berhubungan dengan materi atau pelajaran Islam, tujuan proses pembelajaran, metode dan pendekatan, serta bentuk evaluasinya. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kurikulum pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh) (Mujtahid, 2011).

     Sesuai dengan sistem kurikulum nasional bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat antara lain pendidikan agama, tak terkecuali Islam. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan.

     Dalam konsep Islam, iman merupakan potensi rohani yang harus diaktualisasikan dalam bentuk amal shaleh, sehingga menghasilkan prestasi rohani (iman) yangdisebut taqwa. Amal shaleh itu menyangkut keserasian dan keselarasan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya yang membentuk keshalehan pribadi; hubungan manusia dengan sesamanya yang membentuk keshalehan sosial (solidaritas sosial), dan hubungan manusia dengan alam yang membentuk keshalehan terhadap alam sekitar (Muhaimin, 2001). Kualitas amal shaleh ini akan menentukan tingkatan ketaqwaan (prestasi rohani/iman) seseorang di hadapan Allah Swt.

 

B.    BRumusan Masalah

1.      Apa pengertian kurikulum PAI ?

2.      Apa Karakteristik Kurikulum PAI ?

3.      Bagaimana Objek kajian kurikulum PAI ?

4.      Apa pengertian pengembangan kurikulum PAI ?

5.      Apa pengertian inovasi kurikulum PAI ?

6.      Apa tujuan pengembangan dan inovasi kurikulum PAI ?

7.      Apa Strategi pengembangan dan inovasi kurikulum PAI dalam menghadapi Era  society 5.0 ?

C.    C.  Tujuan rumusan masalah

1.      Untuk mengetahui  pengertian kurikulum PAI

2.      Untuk mengetahui  Karakteristik Kurikulum PAI

3.      Untuk mengetahui Objek kajian kurikulum PAI

4.      Untuk mengetahui  pengertian pengembangan kurikulum PAI

5.      Untuk mengetahui  pengertian inovasi kurikulum PAI

6.      Untuk mengetahui  tujuan pengembangan dan inovasi kurikulum PAI

7.      Untuk mengetahui Strategi pengembangan dan inovasi kurikulum PAI dalam menghadapi Era  society 5.0

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. A.   Pengertian Kurikulum PAI

Secara etimologis istilah kurikulum yang dalam bahasa Inggris ditulis “curriculum” berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang berarti “pelari”, dan “curere” yang berarti “tempat berpacu”. Jika dilihat dari arti harfiahnya, istilah kurikulum tersebut pada awalnya digunakan dalam dunia Olah raga, seperti bisa diperhatikan dari arti “pelari dan tempat berpacu”. Berawal dari makna “curir” dan “curere” kurikulum berdasarkan istilah diartikan sebagai “Jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan”. Pengertian tersebut kemudian diadaptasikan ke dalam dunia pendidikan dan diartikan sebagai “Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal hingga akhir program demi memperoleh ijazah”. Jadi kurikulum yaitu Kurikulum dapat diartikan seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar.

Dalam kurikulum PAI diartikan Kurikulum pendidikan Islam adalah bahan-bahan pendidikan Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Atau dengan kata lain kurikulum pendidikan Islam adalah semua aktivitas, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka tujuan pendidikan Islam. Berdasarkan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam) diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar. Kurikulum pendidikan Islam adalah bahan-bahan pendidikan Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka tujuan pendidikan Islam. Berdasarkan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agamaberupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikanIslam, diperlukan adanya kurikulum yangsesuai dengan tujuan pendidikan Islam danbersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuanpelajar. Kurikulum pendidikan Islam bertujuan menanamkan kepercayaan dalam pemikirandan hati generasi muda, pemulihan akhlak dan membangunkan jiwa rohani. Ia juga bertujuanuntuk memperoleh pengetahuan secarakontinu, gabungan pengetahuan dan kerja, kepercayaan dan akhlak, serta penerapanamalan teori dalam hidup.

 

 

B.     B.  Karakteristik Kurikulum PAI

Menurut Mujtahid (2011), Tiap jenis kurikulum mempunyai ciri atau karakteristiktermasuk pendidikan agama Islam. Menurut Abudurrahman al-Nahlawi, dalam Majid(2004), menjelaskan bahwa kurikulumpendidikan Islam harus memenuhi beberapakriteria, yaitu:

1.      Memiliki sistem pengajaran dan materi yang selaras dengan fitrah manusia sertabertujuan untuk mensucikan jiwa manusia, memelihara dari penyimpangan, danmenjaga keselamatan fitrah manusiasebagaimana diisyaratkan hadits Qudsi sebagai berikut: "hamba-hamba kudiciptakan dengan kecenderungan (padakebenaran). Lalu Syethan menyesatkanmereka."

2.      Tujuan pendidikan Islam yaitu memurnikanketaatan dan peribadatan hanya kepadaAllah. Kurikulum pendidikan Islam yangdisusun harus menjadi landasankebangkitan Islam, baik dalam aspekintelektual, pengalaman, fisikal, maupunsosial. Ibadah tidak hanya sekedar diartikanshalat atau zikir akan tetapi pekerjaan danperbuatan pun merupakan ibadah.

3.       Harus sesuai dengan tingkatan pendidikanbaik dalam hal karakteristik, tingkat pemahaman, jenis jantina serta tugas-tugas kemasyarakatan yang telah dirancang dalamkurikulum.

4.       Memperhatikan tujuan-tujuan masyarakat yang realistis, menyangkut penghidupandan bertitik tolak dari keislaman yang ideal. Kurikulum pendidikan Islam sebagai cermin nilai-nilai keadaban danspiritualitas, baik secara personal maupunkolektif (sosial).

5.       Tidak bertentangan dengan konsep danajaran Islam, melainkan harus memahami konteks ajaran Islam yang selama ini belum  tergali makna dan sumber kebenarannya. Masih banyak teks-teks normatif yang belum terungkap pesan dan hikmahnya yang bisa diteliti untuk kemanfaatan manusia.

6.       Rancangan kurikulum harus realistis sehingga dapat diterapkan selaras dengan kesanggupan peserta didik dan sesuai dengan keadaan masyarakatnya. Kurikulum pendidikan Islam merupakan cermin masyarakat.

7.      Harus memilih metode dan pendekatan yang relevan dengan kondisi materi, belajar mengajar, dan suasana lingkungan pembelajaran di mana kurikulum tersebut diselenggarakan.

8.       Kurikulum pendidikan Islam harus efektif, dapat memberikan hasil pendidikan yang bersifat pemahaman, penghayatan, dan pengamalan.

9.       Harus sesuai dengan berbagai tingkatan usia peserta didik. Untuk semua tingkatan dipilih bagian materi kurikulum yang sesuai dengan kesiapan dan perkembangan yang telah dicapai oleh peserta didik. Dalam hal ini yang paling penting adalah tingkat penguasaan bahasa yang dicapai oleh peserta didik. Ringkasnya, secara psikologis kurikulum tersebut dapat sesuai dengan kematangan peserta didik.

10.   Memperhatikan aspek pendidikan tentang segi-segi perilaku yang bersifat aktivitas langsung seperti berjihad, dakwah Islam, serta penciptaan lingkungan sekolah yang Islami, etis dan anggun. Sedangkan menurut Syaibani dalam Muhaimin dan Abd. Mujib (1993), menempatkan empat dasar pokok karakteristik dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis dan dasar sosiologis, dapat pula ditambah dasar organisatoris (Mujtahid 2011).

10.

C.   C.  Objek Kajian Kurikulum PAI

Kurikulum PAI bisa digunakan untuk sekolah atau madrasah berfungsi sebagai Pengembangan, Penanaman Nilai, Penyesuaian Mental, Perbaikan, Pencegahan, Pengajaran dan Penyaluran. Makadari itu objek kajian kurikulum digunakan dengan cara pembelajaran

Unsur Kurikulum Pendidkan Islam Di Lembaga Pendidkan

1.      Goal (Cita-Cita/Tujuan). Tujuan pendidikan nasional dan Tujuan lembaga pendidikan.

2.       Matter (Bahan Pelajaran) : Sesuai dengan tujuan, silabus pelajaran, dan pengetahuan ilmiah.

3.      Organizing (Strategi Pelaksanaan Kurikulum)

4.      Evaluating (Evaluasi Kurikulum): Penilaian terhadap Input pelajaran (semua SDA sebelum menempuh program berupa dana, sarana prasarana dan siswa.), Proses pembelajaran, Out put pembelajaran (Penilaian terhadap lulusan pendidikan) dan Out come pembelajaran (Kemampuan lulusan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab) (Nasution, 2008)

Pendekatan yang dilakukan dalam Pengembangan Materi Kurikulum Pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik. Ada berbagai macam pendekatan yang dapat digunakan dalam mengembangkan materi kurikulum PAI, diantaranya :

a.   Pendekatan Keimanan

Pendekatan keimanan yaitu memberi peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan makluk sejagat ini.

b.      b. Pendekatan Pengalaman

Pendekatan pengalaman yaitu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah dan akhlak dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

c.     c.    Pendekatan Pembiasaan

Pendekatan pembiasaan yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam dan budaya bangsa dalam menghadapi masalah kehidupan.

d.    d.    Pendekatan Rasional

Pendekatan rasional yaitu usaha memberikan peranan pada rasio atau akal peserta didik dalam memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dalam standar materi serta kaitannya dengan perilaku yang baik dan yang buruk dalam kehidupa duniawi.

e.    e.     Pendekatan Emosional

Pendekatan emosional yaitu upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.

f.     r.    Pendekatan Fungsional

Pendekatan fungsional yaitu menyajikan bentuk semua standar materi (al-qur’an, keimanan akhlak, fiqih atau ibadah dan tarikh) dari segi manfaatnya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.

g.   g.    Pendekatan Keteladanan

Pendekatan keteladanan yaitu menjadikan figur guru agama dan non agama serta petugas sekolah lainnya maupun orang tua peserta didik sebagai cermin manusia yang

berkepribadian.

 

D.   D.  Pengertian Pengembangan Kurikulum PAI

Menuru Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto (1982), istilah pengembangan menunjuk pada suatu kegiatan menghasilkan suatu alat atau cara baru, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap alat atau cara tersebut terus dilakukan engertian pengembangan di atas, bila dikaitkan dengan kurikulum, maka menjadi pengembangan kurikulum, yang mempunyai beberapa kegiatan, yaitu:

a)      Mennyusun kurikulum baru

b)      Melaksanakan kurikulum baru di sekolah-sekolah secara terbatas yang disertai dengan penilaian yang intensif, atau seperti uji coba kurikulum baru.

c)      Menyempurnakan terhadap komponen tententu dalam kurikulum berdasarkan hasil penilaian. Bila sebuah kurikulum baru sudah dianggap cukup mantap atau sempurna, maka berakhir tugas pengembangan kurikulum, selanjutnya kurikulum baru tersebut disebarkan atau diterapkan/diimplementasikan ke sekolah-sekolah secara komprehensif dengan batas waktu tertentu sambil melakukan pembinaan kurikulum.

Pengembangan kurikulum adalah suatu kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah penyusunan kurikulum atas dasar dari suatu hasil penilaian yang dapat dilakukan selama periode tertentu, jadi pengembangan kurikulum ini berarti selainnya, dan perubahan ini berlangsung dalam waktu panjang (Soetopo & Wast, 1993).

Dan salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum Karena, kurikulum merupakan peta jalan yang akan menjadi acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik pengelola maupun penyelenggara khususnya oleh guru dan kepala sekolah (Siswanto, 2010).

Pengembangan kurikulum adalah dengan perencanaan kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa atau peserta didik ke arah perubahan perilaku yang diinginkan dan menilai hingga dimana tersebut telah terjadi pada diri siswa yang bersangkutan (Hamalik, 1993). Oleh karena itu, Kurikulum suatu proses perencanaan, yang menghasilkan alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi yang sangat lebih baik. Dari pengertian diatas kami dapat disimpulkan bahwa pengembangan kurikulum menunjuk pada kegiatan menghasilkan kurikulum, kegiatan ini lebih bersifat konseptual daripada material, yang dimaksud dalam pengembangan ini adalah penyusunan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan yang selanjutnya menghasilkan kurikulum baru sebagai hasil dari pengembangan yang dilakukan.

            Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat diartikan sebagai kegiatan menghasilkan kurikulum PAI, proses yang mengkaitkan satu komponen dengan komponen lain untuk menghasilkan kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) yang lebih baik (Subandiah, 1996).buah perubahan dan peralihan dari satu kurikulum ke kurikulum.

E.  E.    Pengertian Inovasi Kurikulum PAI

Inovasi kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) dapat diartikan sebagai :

1.    Kegiatan menghasilkan kurikulum PAI atau

2.    Proses yang mengaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum PAI yang lebih baik; dan atau

3.    Kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum PAI.

Dalam realitas sejarahnya, inovasi kurikulum PAI tersebut ternyata mengalami perubahan-perubahan paradigma walaupun dalam beberapa hal tertentu paradigm sebelumnya masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Hal ini dapat dicermati dari fenomena berikut :

1.      Perubahan dari tekanan pada hafalan dan daya ingatan tentang teks-teks dari ajaran-ajaran agama Islam, serta disiplin mental spiritual sebagaimana pengaruh dari timur tengah, kepada pemahaman tujuan, makna dan motivasi beragama Islam untuk mencapai tujuan pembelajaran PAI.

2.       Perubahan dari cara berfikir tekstual, normatif, absolutis kepada cara berfikir historis, empiris, dan kontekstual dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama Islam.

3.       Perubahan dari tekanan pada produk atau hasil pemikiran keagamaan Islam dari para pendahulunya kepada proses atau metodologinya sehingga menghasilkan produk tersebut.

4.      Perubahan dari pola pengembangan kurikulum PAI yang hanya mengandalkan pada para pakar dalam memilih dan menyusun isi kurikulum PAI ke arah keterlibatan yang luas dari para pakar, guru, peserta didik, masyarakat untuk mengidentifikasi tujuan PAI dan cara-cara mencapainya.

F.   F.   Tujuan Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI

Istilah yang digunakan untuk menyatakan tujuan pengembangan kurikulum adalah goalsdan objectives. Makna tujuan, khususnya tujuan pendidikan nasional adalah berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreaktif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Secara lebih jauh, tujuan berfungsi sebagai pedoman bagi pengembangan tujuan-tujuan spesifik (objectives), kegiatan belajar, implementasi kurikulum, dan evaluasi untuk mendapatkan balikan (feedback).

Mengingat pentingnya tujuan, tidak heran jika perumusan tujuan menjadi langkah pertama dalam pengembangan kurikulum. Filosofi yang dianut pendidikan atau sekolah biasanya menjadi dasar pengembangan tujuan. Oleh karena itu, tujuan hendaknya merefleksikan kebijakan, kondisi masa kini dan masa datang, prioritas, sumber-sumber yang sudah tersedia, serta kesadaran terhadap unsur-unsur pokok dalam pengembangan kurikulum.

Tujuan kurikulum pai dilembaga pendidikan. Menurut arifin dalam bukunya “Pendidikan Islam Dalam Arus Dinamika Masyarakat” menyatakan bahwa rumusan tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk merealisasikan manusia muslim yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan diriny kepada Sang Khalik dengan sikap dan kepribadian bulat menyerahkan diri kepada-Nya dalam segala aspek kehidupannya dalam rangka mencari keridhoan-Nya.  Secara garis besar tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam, sehingga ia menjadi manusia muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia baik dalam

kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Muali, 2016).

Tujuan tersebut tetap berorientasi pada tujuan penyebutan nasional yang terdapat dalam UU No. 20 tahun 2003. Selanjutnya tujuan umum PAI diata dijabarkan pada tujuan masing-masing lembaga pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada. Selain itu, pendidikan agama Islam sebagai sebuah program pembelajaran yang diarahkan untuk:

1.      Menjaga akidah dan ketakwaan peserta didik

2.       Menjadi landasan untuk lebih rajin mempelajari dan mendalami ilmuilmu agama

3.       Mendorong peserta didik untuk lebih kritis, kreatif dan inovatif Menjadi landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari didalam masyarakat. Dengan demikian bukan hanya mengajarkan pengetahuan secara teori semata tetapi juga untuk dipraktekkan atau diamalkan dalam kehidupan sehari hari (membangun etika sosial) (Hamdan,2009).

Tujuan inovasi kurikulum adalah mengubah masyarakat menjadi lebih baik,terutama masyarakat dimana peserta didik itu berasal. Selain itu inovasi kurikulum ini juga bertujuan untuk memperbaiki sistem kurikulum yang ada agar lebih baik lagi sehingga terasa manfaatnya bagi masyarakat pendidikan

G. G.    Strategi Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum PAI Dalam Menghadapi Era  Society 5.0

Pada era 5.0, industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana, dikenal dengan istilah Internet of Things (IoT). Industri 5.0 telah memperkenalkan teknologi produksi massal yang fleksibel, mesin akan beroperasi secara independen atau berkoordinasi dengan manusia, mengontrol proses produksi dengan melakukan sinkronisasi waktu dengan melakukan penyatuan dan penyesuaian produksi. Salah satu karakteristik unik dari industri 5.0 adalah pengaplikasian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Berkembangnya era revolusi industri 5.0 tentunya berdampak dalam dunia pendidikan. Era revolusi industri 5.0 telah mengubah cara berpikir tentang pendidikan. Perubahan yang dibuat bukan hanya cara mengajar, namun yang terpenting adalah perubahan dalam perspektif konsep pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pengembangan dan inovasi  kurikulum untuk saat ini dan masa depan harus melengkapi kemampuan siswa dalam dimensi pedagogik, keterampilan hidup, kemampuan untuk hidup bersama (kolaborasi) dan berpikir kritis dan kreatif. Mengembangkan soft skill dan transversal skill, serta keterampilan tidak terlihat yang berguna dalam banyak situasi kerja seperti keterampilan interpersonal, hidup bersama, kemampuan menjadi warga negara yang berpikiran global, serta literasi media dan informasi.

Pengembangan kurikulum juga merupakan salah satu hal yang mampu mengarahkan dan membentuk karakter peserta didik agar siap menghadapi revolusi industri 5.0. Untuk memastikan kurikulum berjalan secara optimal, guru harus memiliki kompetensi yaitu educational competence, competence for technological commercialization, competence in globalization, competence in future strategies serta counselor competence. Guru juga perlu memiliki sikap yang bersahabat dengan teknologi, kolaboratif, kreatif dan mengambil risiko, memiliki selera humor yang baik, serta mengajar secara menyeluruh (holistik).

 

Isi atau kajian dari pengembangan dan inovasi kurikulum seperti.Pembelajaran berpusat kepada siswa (student-centered learning), dengan kolaborasi pembelajaran (collaborative learning), serta terintegrasi dengan masyarakat adalah hal yang perlu dipertimbangkan oleh sekolah dan guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang mampu mengarahkan dan membentuk karakter peserta didik. Cara-cara seperti (1) flipped classroom, (2) mengintegrasikan media sosial, (3) Khan Academy, (4) project-based learning, (5) moodle, dan (6) schoology, ataupun yang berbasis teknologi lainnya dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran tersebut sehingga peserta didik dekat dengan teknologi dan dapat turut serta mempelajari dan mengimbangi revolusi industri 5.0 pada bidang teknologi.

Menurut T. Rakjoni strategi pembelajaran merupakan pola dan urutan umum perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pegembangan kurikulum meliputi empat langkah, yaitu merumuskan tujuan pembelajaran (instructional objective), menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar ( selection of learning experiences), mengorganisasi pengalaman-pegalaman belajar (organization of learning experiences), dan mengevaluasi (evaluating).

1.      Merumuskan Tujuan Pembelajaran (instructional objective) Terdapat tiga tahap dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tahap yang pertama yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah memahami tiga sumber, yaitu siswa (source of student), masyarakat (source of society), dan konten (source of content). Tahap kedua adalah merumuskan tentative general objective atau standar kompetensi (SK) dengan memperhatikan landasan sosiologi (sociology), kemudian di-screen melalui dua landasan lain dalam pengembangan kurikulum yaitu landasan filsofi pendidikan (philosophy of learning) dan psikologi belajar (psychology of learning), dan tahap terakhir adalah merumuskan precise education atau kompetensi dasar (KD)

2.      Merumuskan dan Menyeleksi Pengalaman-Pengalaman Belajar ( selection of learning experiences) Dalam merumuskan dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar dalam pengembangan kurikulum harus memahami definisi pengalaman belajar dan landasan psikologi belajar (psychology of learning). Pengalaman belajar merupakan bentuk interaksi yang dialami atau dilakukan oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Pengalaman belajar yang harus dialami siswa sebagai learning activity menggambarkan interaksi siswa dengan objek belajar.

3.      Mengorganisasi Pengalaman Pengalaman Belajar (organization of learning experiences) Pengorganisasi atau disain kurikulum diperlukan untuk memudahkan anak didik untuk belajar. Dalam pengorganisasian kurikulum tidak lepas dari beberapa hal penting yang mendukung, yakni: tentang teori, konsep, pandangan tentang pendidikan, perkembangan anak didik, dan kebutuhan masyarakat.

4.      Mengevaluasi (evaluating) Kurikulum Langkah terakhir dalam pengembangan kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan di mana data yang terkumpul dan dibuat pertimbangan untuk tujuan memperbaiki sistem. Evaluasi yang seksama adalah sangat esensial dalam pengembangan kurikulum. Evaluasi dirasa sebagai suatu proses membuat keputusan , sedangkan riset sebagai proses pengumpulan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Perencana kurikulum menggunakan berbagai tipe evaluasi dan riset. Tipe-tipe evaluasi adalah konteks, input, proses, dan produk. Sedagkan tipe-tipe riset adalah aksi, deskripsi, historikal, dan eksperimental. Di sisi lain perencana kurikulum menggunakan evaluasi formatif (proses atau progres) dan evaluasi sumatif (outcome atau produk).

 

 

Daftar pustaka

Jurnal Didiyanto / edureligia Vol. 1, No. 2, 2017

Jurna PENGEMBANGAN KURIKULUM

Drs. H. Hamdan, M.Pd,PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI):TEORI DAN PRAKTEK, IAIN Antasari Press

l Manajemen Pendidikan Islam Vol. 02, No. 1, 2021

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Op-Cit, hal. 12-13.

 Himpunan Peraturan Perundang-undangan, Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, (Bandung : PT. Fokus Media, 2005), hal. 98

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Op-Cit, hal. 10-11.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengembangan Dan Inovasi Ekstrakulikuler PAI

 1. Karakteristik ekstrakulikule PAI - Individual, yakni dikembangkan sesuai dengan potensi/bakat peserta didik masing-masing. - Pilih...